• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Teriak “Hidup Jokowi”, Lupa Menangkap Silferster

Ali Syarief by Ali Syarief
March 8, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Jokowi Puji Prabowo  Karena Meningktanya Elektabilitas  Gerindra dan Dirinya
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Dalam politik Indonesia, ingatan sering kali lebih pendek dari masa kampanye. Apa yang dulu diteriakkan dengan dada membusung, kini perlahan berubah menjadi bisikan yang nyaris tak terdengar. Bahkan lebih ironis lagi: apa yang dulu dikritik dengan penuh amarah, kini justru dijalankan dengan penuh kesungguhan.

Itulah drama yang kini kita saksikan.

Dulu, dalam beberapa kali debat sengit antara Prabowo dan Jokowi pada masa kampanye, publik melihat dua kutub yang seolah tak mungkin dipertemukan. Kritik tajam dilontarkan. Soal utang negara dipersoalkan. Proyek-proyek besar dipertanyakan. Bahkan arah kebijakan ekonomi dan pembangunan diserang habis-habisan.

Nada kritiknya keras. Bahkan kadang terasa seperti pertarungan dua dunia yang berbeda.

Namun sejarah politik Indonesia punya cara unik untuk menertawakan dirinya sendiri.

Ketika jabatan Menteri Pertahanan disodorkan, drama itu berubah menjadi adegan lain. Prabowo yang dulu berdiri sebagai oposisi paling keras, kini datang dengan sikap sujud sumujud dalam bahasa politik yang sangat sopan: menerima amanah negara.

Seketika, perbedaan ideologis yang dulu diperdebatkan seperti kabut pagi yang menguap sebelum matahari siang.

Publik pun menyaksikan sesuatu yang hampir seperti satire hidup.

Kebijakan yang dulu dipersoalkan, kini berjalan terus tanpa banyak perubahan. Pembangunan IKN tetap melaju. Beban utang tetap menjadi bagian dari strategi pembangunan. Proyek-proyek raksasa tetap berjalan seperti kereta yang tidak pernah diberi rem.

Yang berubah hanya posisi orang-orangnya.

Dulu pengkritik. Sekarang pelaksana.

Lebih lucu lagi, di tengah situasi seperti itu, muncul kelompok yang tetap berteriak: “Hidup Jokowi!”

Sebuah slogan yang terdengar seperti mantra politik.

Padahal di lapangan, persoalan-persoalan yang dulu menjadi bahan kritik tidak pernah benar-benar dijawab. Ia hanya dipindahkan dari podium debat ke meja birokrasi.

Satire berikutnya datang dari soal hukum.

Ketika sebagian masyarakat mempertanyakan mengapa seseorang seperti Silferster—yang kontroversinya ramai dibicarakan di ruang publik—tak juga mampu ditangkap atau diproses dengan tegas, negara justru terlihat lebih sibuk mengurusi kritik warganya sendiri.

Ironisnya lengkap.

Yang berteriak paling keras tentang hukum dan ketertiban dulu, kini tampak kesulitan menjelaskan mengapa hukum sering kali berjalan seperti siput ketika menyentuh kelompok tertentu.

Seolah hukum punya dua kecepatan.

Cepat untuk yang lemah.
Lambat untuk yang kuat.

Dan di tengah semua itu, politik Indonesia terus memainkan sandiwara yang sama: oposisi yang berubah menjadi koalisi, kritik yang berubah menjadi kebijakan, dan janji yang berubah menjadi beban negara.

Utang tetap ada.
Proyek IKN tetap berjalan.
Kebijakan lama tetap dipertahankan.

Sementara rakyat diminta untuk tetap percaya bahwa semuanya sedang menuju masa depan yang lebih cerah.

Dalam situasi seperti ini, satire terasa lebih jujur daripada pidato politik.

Karena satire tidak berusaha menyembunyikan ironi.

Ia hanya menunjukkan apa yang sebenarnya sudah dilihat semua orang: bahwa dalam politik Indonesia, kadang yang paling keras mengkritik hari ini, justru akan menjadi pelaksana paling patuh esok hari.

Dan ketika seseorang masih berdiri di jalan sambil berteriak, “Hidup Jokowi!”, mungkin ia bukan sedang membela seorang tokoh.

Ia hanya sedang merayakan tradisi lama politik kita:
Berdebat keras saat kampanye, lalu berpelukan erat ketika kekuasaan datang.

Begitulah republik ini berjalan.

Sedikit drama.
Sedikit ironi.
Dan kadang-kadang—terlalu banyak satire.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ketika Bangunan Cagar Budaya di Menteng “Dirusak”, Siapa Tanggung Jawab?

Next Post

Trump “Dirukya” Pendeta, Prabowo Dido’akan Ulama: Backup Langit untuk Langkah Politik

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Trump “Dirukya” Pendeta, Prabowo Dido’akan Ulama: Backup Langit untuk Langkah Politik

Trump “Dirukya” Pendeta, Prabowo Dido’akan Ulama: Backup Langit untuk Langkah Politik

Indonesia Impor BBM dari Singapura Menteri Bahlil Heran, “Geleng-geleng Kepala”,

Bahlil: Ketika Nilai Sakral Dijadikan Alat Politik - Krisis Sensitivitas Moral

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...