Di panggung politik Indonesia, perpindahan kader antarpartai bukan lagi peristiwa langka. Ia telah menjadi semacam ritus rutin: perpindahan rumah ideologis, reposisi kepentingan, atau sekadar pencarian perahu baru yang lebih menjanjikan. Namun, ketika Rusdi Masse Mappasessu mengajukan pengunduran diri dari Partai NasDem—partai yang selama ini dikenal mapan dan stabil—peristiwa ini tidak sekadar administrasi organisasi. Ia adalah sinyal: ada termul-termul baru yang sedang bergerak dalam arus politik nasional.
Ketua Umum NasDem Surya Paloh telah menerima surat pengunduran diri itu. Tak menunggu lama, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) langsung membuka pintu selebar-lebarnya. Sambutan ini bukan sekadar keramahan politik, melainkan pengakuan bahwa Rusdi Masse adalah aset elektoral—terutama di Sulawesi Selatan—yang dapat mengubah peta kekuatan lokal sekaligus nasional.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, membaca peristiwa ini dari sudut yang menarik: faktor kawan seperjuangan. Politik Indonesia memang sering kali lebih digerakkan oleh jejaring loyalitas personal ketimbang garis ideologi partai. Ketika Ahmad Ali hengkang dan “login” ke PSI, jejaknya meninggalkan magnet. Bestari Barus sudah lebih dulu menyeberang. Jika Rusdi Masse menyusul, maka terbentuklah pola klasik politik Indonesia: migrasi kolektif, bukan individual. Sebuah rombongan yang berpindah, bukan sekadar satu orang yang berjalan sendiri.
Namun faktor loyalitas saja tidak cukup menjelaskan keputusan sebesar ini. Ada dimensi lain yang lebih strategis: tantangan baru. NasDem adalah partai mapan—struktur kuat, kursi parlemen terjamin, mesin politik relatif stabil. Bergabung di sana berarti bermain di jalur yang sudah jadi. Sementara PSI adalah partai yang masih berjuang menembus ambang parlemen. Memilih PSI berarti memilih medan tempur, bukan zona nyaman. Dalam politik, tidak semua orang mau bertaruh pada kapal yang belum pasti berlabuh. Jika Rusdi Masse benar ke PSI, itu menunjukkan keberanian untuk bertarung, bukan sekadar bertahan.
Lalu ada faktor yang paling personal: anak. Putra Rusdi Masse kini menjabat Ketua DPW PSI Sulawesi Selatan. Politik di Indonesia tidak pernah sepenuhnya steril dari ikatan darah. Mentoring langsung, membentuk regenerasi, menurunkan pengalaman tempur dari ayah ke anak—ini adalah investasi jangka panjang dalam dinasti politik. Adi Prayitno menyebutnya sebagai proses mendidik putra agar menjadi politisi besar. Sebab berjuang di partai yang belum lolos parlemen membutuhkan nyali, ketekunan, dan daya tahan di atas rata-rata. Kalimat ini menyiratkan satu hal: Rusdi Masse mungkin sedang menyiapkan bukan hanya langkah hari ini, tetapi panggung masa depan keluarganya.
Di sisi lain, PSI tentu tidak akan menyia-nyiakan peluang. Bestari Barus dengan terbuka menyatakan bahwa PSI siap menyambut Rusdi Masse. Pernyataannya sederhana tapi penuh makna: “sayang sekali kalau PSI tidak membuka pintu.” Dalam bahasa politik, ini berarti PSI sadar betul bahwa untuk menembus Senayan, mereka membutuhkan figur-figur berpengaruh, bukan hanya idealisme anak muda dan retorika anti-korupsi.
Maka, perpindahan ini bukan semata soal kursi partai. Ia adalah persilangan antara loyalitas, tantangan, dan regenerasi. Ia juga menandai fenomena yang lebih luas: partai-partai baru seperti PSI tidak lagi hanya mengandalkan citra segar, tetapi mulai mengumpulkan para operator politik berpengalaman. Sebaliknya, partai mapan seperti NasDem mulai menghadapi realitas bahwa loyalitas kader tidak selalu permanen.
Pada akhirnya, jika Rusdi Masse benar berlabuh ke PSI, maka ia bukan sekadar pindah rumah. Ia sedang ikut membangun rumah baru—dengan segala risiko, harapan, dan kemungkinan runtuh atau berdirinya bangunan itu di masa depan. Politik Indonesia memang penuh termul-termul. Tapi dari pusaran itulah arah baru kekuasaan sering kali dilahirkan.
























