Fusilatnews – Tak ada makan siang yang gratis. Kalimat itu milik dunia ekonomi. Tapi ia juga milik moral. Karena dalam hidup bersama, selalu ada yang membayar. Jika bukan kita hari ini, maka anak cucu esok pagi.
Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah ide yang, di atas kertas, penuh niat baik. Memberi makan pada anak-anak adalah memberi masa depan pada republik. Tapi seperti segala yang tampak manis di permukaan, kita tahu: gula pun menyimpan risiko.
Sebab pada akhirnya, yang membayar bukan hanya negara—yang sebenarnya adalah kita juga, rakyat yang membayar pajak. Tapi juga bumi yang dicekik agar panen bisa dipercepat, hutan yang ditebang agar lahan diperluas, laut yang dikuras agar kantin sekolah bisa tersenyum setiap pagi.
Dan lebih dari itu: anak-anak yang hari ini disuapi, mungkin suatu hari akan tumbuh dengan utang.
Kita pernah melihat ini. Tahun 1998, Indonesia berdiri di ujung ambruk. Kita tahu bagaimana lembaga-lembaga internasional menyodorkan “makan siang” yang tampak lezat, dan betapa mahal harganya setelah itu: PHK massal, deregulasi paksa, dan kemiskinan struktural yang baru pulih dua dekade kemudian.
Maka, izinkan saya, Pak Presiden, mengajukan sebuah jalan lain.
Bukan menolak gagasan memberi makan, tapi menggeser cara berpikirnya. Dari konsumsi menjadi kemandirian. Dari gratifikasi menjadi edukasi.
Bayangkan sebuah gerakan: GIZIRA – Gerakan Kemandirian Gizi Rakyat.
Bukan hanya membagikan nasi bungkus, tapi menanamkan benih kebiasaan makan sehat. Bukan sekadar memberi lauk gratis, tapi memberdayakan ibu-ibu desa, petani lokal, warung kecil di gang sempit. Bukan hanya memberi makan sekali sehari, tapi mengajari anak-anak bagaimana menanam sayur, mengenali protein, dan menghargai kerja keras dari sawah sampai ke sendok.
Mungkin lebih murah. Tapi lebih kaya.
Mungkin tak cepat terasa. Tapi lebih dalam mengakar.
Mungkin tak memoles citra. Tapi membangun peradaban.
Karena cinta pada rakyat bukan berarti terus-menerus memberi. Tapi menolak rakyat menjadi pengemis.
Seorang pemimpin, tulis Kahlil Gibran, bukanlah orang yang menunjukkan kepada rakyat bagaimana lemah mereka, tapi bagaimana kuat mereka.
Maka, Pak Presiden, mari kita kuatkan rakyat.
Bukan dengan makan siang gratis, tapi dengan kemampuan mereka menyiapkan makan siangnya sendiri.
Dan negeri ini, perlahan tapi pasti, akan belajar berdaulat kembali.
Catatan pinggir untuk republik yang lapar—bukan hanya perutnya, tapi juga martabatnya.
























