Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Aku tak bisa membayangkan bila ini benar-benar terjadi: Tiyo Ardianto berdebat dengan Prabowo Subianto.
Keduanya sama-sama presiden. Bedanya, jika Tiyo adalah Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, maka Prabowo adalah Presiden Republik Indonesia (RI).
Bedanya lagi, Tiyo ibarat mentimun yang rapuh, Prabowo ibarat durian yang kukuh. Di atas kertas, Prabowo-lah yang akan keluar sebagai pemenang.
Debat terbuka itu akan terjadi jika Prabowo meladeni tantangan yang sudah dilayangkan Tiyo. Debat di depan publik. Tanpa moderator. Tanpa pembatasan pertanyaan. Bak tinju gaya bebas. Boleh pukul apa saja. Tanpa sarung tangan. Tanpa wasit. Hanya ada penonton.
Apakah Prabowo akan meladeni tantangan Tiyo yang sudah terlanjur dilontarkan secara terbuka di media sosial?
Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, jika debat itu benar terjadi maka akan jadi peristiwa politik terbesar tahun ini.
Akan tetapi, besar kemungkinan debat terbuka itu tak akan terjadi. Kita tahu, Prabowo tak punya tradisi berdebat. Sebagai sosok dengan latar belakang militer, dengan pangkat terakhir jenderal kehormatan, Prabowo sudah terbiasa dengan garis komando. Tak ada dialog. Apalagi perdebatan.
Di sisi lain, aku juga membayangkan betapa aksi teror yang menimpa Tiyo akan lebih kencang lagi setelah tantangan itu dilontarkan.
Sejak Tiyo mengkritik keras kebijakan pemerintah, temasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ia sebut sebagai Maling Berkedok Gizi, dan Prabowo yang ia sebut Presiden bodoh, aksi teror kepada Tiyo datang bertubi-tubi.
Misalnya, ia diancam diculik dan dibunuh. Tidak itu saja. Ibunya juga diteror dengan kabar mahasiswa asal Kudus, Jawa Tengah, ini menggelapkan dana.
Tapi Tiyo tak pernah gentar. Bahkan tantangan kepada Prabowo kini dia umbar.
Bisa jadi mentimun akan mampu mengalahkan durian. Seperti kisah David yang raksasa dan perkasa versus Goliath yang kecil dan tak berdaya.
Kecil atau besar, lemah atau kuat, sepanjang memperjuangkan kebenaran dan keadilan, niscaya siapa pun akan menang. Kalau tidak sekarang, mungkin minggu depan, bulan depan atau tahun depan.
Kini yang harus diwaspadai oleh Tiyo adalah dia bisa di-Munir-kan. Sampai sekarang belum terungkap siapa aktor intelektual atau dalang kasus pembunuhan Munir. Yang tertangkap cuma aktor atau eksekutor lapangan: Pollycarpus Budihari Priyanto. Selebihnya masih gelap. Misterius.
Alhasil, keberanian saja tidak cukup untuk melawan Presiden. Tiyo harus cerdik pula.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)



















