• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Trio Tak Berkawan – Sedang Menulis Bab Yg Sama Tentang Jokowi

Ali Syarief by Ali Syarief
June 17, 2025
in Feature, Politik
0
Trio Tak Berkawan – Sedang Menulis Bab Yg Sama Tentang Jokowi
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Dalam dunia pewayangan, Semar dikenal sebagai punakawan: pendek, lucu, tapi laku. Ucapannya ringkas, tetapi mengandung makna. Di republik ini, kadang kita menemukan Semar-Semar modern, tapi bukan yang selalu lucu. Ada yang menyeramkan. Ada yang cerdas. Ada pula yang suaranya bikin kita bertanya: “Ini orang betulan berpikir, atau sedang ngelantur karena bosan hidup?”

Mari kita buka kitab pernyataan tiga orang. Mereka tidak membentuk grup band, juga tidak duduk dalam satu meja warung soto. Tapi, tanpa janjian, mereka bersuara tentang satu sosok: Joko Widodo.

I. Dokter Tifa: “Jokowi bukan pemimpin. Ia adalah petugas korporasi.”

Bu Dokter ini berbicara seperti hendak memeriksa denyut nadi demokrasi, bukan pasien di meja praktik. Ucapannya pendek tapi mengguncang. Seperti palu yang tak dibungkus kain.

Bayangkan, seorang presiden disebut “petugas korporasi”—kalimat yang seperti menampar sambil membacakan tagihan utang negara. Jika benar Jokowi hanya seorang employee, maka kita ini rakyatnya siapa? Konsumen? Buruh outsourcing? Atau hanya target pasar dari kebijakan?

Tifa menyodorkan kita pada kenyataan getir: politik hari ini bukan lagi tentang ideologi atau kepentingan rakyat, tapi tentang siapa punya saham. Maka tak heran, jika IKN dibangun seperti proyek properti, bukan ibu kota negara. Rakyat tak diajak bicara, hanya disuruh pindah KTP.

II. Roy Suryo: “Kepemimpinan Jokowi adalah kombinasi salah arah dan pencitraan total.”

Roy Suryo, sang mantan menteri dan pengamat segala rupa—termasuk yang bisa ditebak dan tidak bisa dipakai—menyentil Jokowi dengan cara yang khas: cerdas, sinis, dan suka tiba-tiba muncul di layar seperti pop-up iklan.

Menurut Roy, Jokowi ini salah arah, tapi tetap percaya diri. Seperti orang naik motor ke arah jurang tapi tetap nyengir karena kameranya sudah standby. Pencitraan adalah bahan bakar utamanya. Dari blusukan ke lumpur sampai bagi-bagi sembako, semuanya didesain bak sinetron panjang dengan rating tinggi, tapi skenarionya absurd.

Lucunya, rakyat tetap terpikat. Mungkin karena visual lebih kuat dari substansi. Kita lebih percaya kamera daripada logika. Presiden yang senyum lebih dipercaya daripada yang menjelaskan APBN. Di sinilah kata Roy menjadi masuk akal: negara ini dikemudikan oleh marketing, bukan manajemen.

III. Rismon Sianipar: “Di tangan Jokowi, hukum bukan panglima. Tapi anak magang.”

Ah, Pak Rismon. Tidak banyak orang mengenalnya, tapi pernyataannya ini seperti jamu pahit yang benar. Ia tidak menuduh, hanya menggambarkan bahwa hukum di era Jokowi bukan alat keadilan, tapi semacam office boy: bisa disuruh-suruh, bisa dipecat tiba-tiba.

Kita lihat saja. Banyak kasus besar menguap. Korupsi ditangani seperti cucian kotor: dibolak-balik tapi tetap ada noda. Lembaga penegak hukum menjadi seperti bagian dari tim sukses—bukan penengah yang adil, tapi petarung yang partisan.

Pak Rismon hanya mengingatkan, bahwa dalam republik sehat, hukum berdiri tegak. Tapi di era Jokowi, hukum itu membungkuk, membawa map, mengetuk pintu kekuasaan, menunggu perintah.

Penutup:

Tiga orang ini—Tifa, Roy, Rismon—tak saling berkoordinasi, tapi seperti sedang menulis bab yang sama dalam buku “Era Jokowi: Antara Imajinasi dan Manipulasi.” Mereka tidak bicara dengan nada murka, tapi dengan kecewa yang terpendam. Seolah rakyat hanya dijadikan figuran dalam drama pembangunan, sementara panggungnya dimiliki para oligark.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Jokowi, Berhentilah Berdusta — Publik Semakin Muak

Next Post

Setelah Gatal-Gatal, Munculah Ruam Ruam – Lanjut Ada flu logika Atau Diare Integritas.

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Sindrom Bar Eskrim dan Budaya Buzzerisasi

Setelah Gatal-Gatal, Munculah Ruam Ruam - Lanjut Ada flu logika Atau Diare Integritas.

PECINYA SUCI, TANGANNYA KOTOR : Kader Terbaik PBNU

PECINYA SUCI, TANGANNYA KOTOR : Kader Terbaik PBNU

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist