• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Trump “Dirukya” Pendeta, Prabowo Dido’akan Ulama: Backup Langit untuk Langkah Politik

Ali Syarief by Ali Syarief
March 8, 2026
in Feature, Politik
0
Trump “Dirukya” Pendeta, Prabowo Dido’akan Ulama: Backup Langit untuk Langkah Politik
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Di panggung politik modern, langit sering kali dipanggil turun ke bumi. Bukan untuk mengadili kekuasaan, melainkan untuk mengukuhkannya. Para politisi memahami bahwa legitimasi politik tidak selalu cukup berasal dari kotak suara; ia sering membutuhkan restu simbolik yang lebih tinggi—restu dari langit.

Itulah sebabnya kita kerap melihat adegan yang tampaknya sakral tetapi sebenarnya sarat makna politis: seorang pemimpin didoakan oleh pemuka agama, dikelilingi tangan-tangan yang menengadah, kamera yang menyala, dan publik yang menyaksikan. Momen itu bukan sekadar ritual spiritual, melainkan juga pesan politik yang kuat: bahwa langkah kekuasaan telah mendapat “backup” dari langit.

Dalam konteks Amerika Serikat, kita menyaksikan bagaimana Donald Trump kerap dikelilingi para pendeta evangelis yang menumpangkan tangan dan mendoakannya. Adegan itu sering disebut secara sinis sebagai “dirukya”—seolah-olah ada kekuatan yang perlu diusir atau kekuatan yang hendak dipanggil turun untuk melindungi perjalanan politiknya.

Sementara di Indonesia, pemandangan serupa muncul ketika Prabowo Subianto didoakan oleh para ulama. Di hadapan publik, doa dipanjatkan agar kepemimpinan berjalan dalam keberkahan, agar bangsa dilindungi, dan agar pemimpin diberi kekuatan untuk menjalankan amanah.

Pada titik ini, agama masuk ke panggung politik bukan lagi sebagai penuntun moral, melainkan sebagai simbol legitimasi.

Fenomena ini sebenarnya tidak baru. Sejak zaman kerajaan hingga negara modern, penguasa selalu berusaha meminjam otoritas spiritual untuk memperkuat kekuasaannya. Raja-raja dahulu menyebut diri mereka “dipilih Tuhan”. Presiden modern mungkin tidak menggunakan bahasa sekeras itu, tetapi simbolisme yang dipakai tidak jauh berbeda.

Ketika pemuka agama berdiri di belakang seorang politisi, pesan yang ingin disampaikan sederhana: kekuasaan ini bukan hanya sah secara politik, tetapi juga direstui secara spiritual.

Namun di situlah letak paradoksnya.

Agama, yang seharusnya berdiri sebagai pengingat moral bagi kekuasaan, sering justru berubah menjadi aksesori kekuasaan. Para pemuka agama bukan lagi penjaga jarak yang kritis terhadap penguasa, tetapi berubah menjadi penyedia “stempel langit” bagi keputusan politik.

Langit dipanggil bukan untuk menilai kekuasaan, melainkan untuk membenarkannya.

Padahal, dalam tradisi keagamaan mana pun, fungsi utama agama terhadap kekuasaan adalah koreksi moral. Nabi dalam sejarah bukanlah penguasa yang meminjam agama, melainkan pengkritik kekuasaan yang menyimpang. Agama hadir untuk mengingatkan bahwa kekuasaan memiliki batas, bahwa manusia—betapapun tinggi jabatannya—tetap berada di bawah pengawasan Tuhan.

Ketika fungsi ini terbalik, agama kehilangan daya kritisnya.

Doa berubah menjadi dekorasi politik. Mimbar berubah menjadi panggung legitimasi. Dan publik, yang menyaksikan ritual itu, perlahan menerima pesan implisit: bahwa menentang kekuasaan sama dengan menentang restu langit.

Padahal, langit tidak pernah memberi mandat politik kepada siapa pun.

Langit hanya memberi mandat moral: keadilan, kejujuran, dan keberpihakan kepada rakyat. Jika seorang pemimpin melanggar mandat itu, maka tidak ada doa, tidak ada ritual, dan tidak ada simbol keagamaan yang mampu menutupinya.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak menilai pemimpin dari siapa yang mendoakannya, tetapi dari bagaimana ia menggunakan kekuasaan.

Langit tidak pernah menjadi tim sukses siapa pun.
Dan Tuhan tidak pernah menjadi konsultan politik.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Teriak “Hidup Jokowi”, Lupa Menangkap Silferster

Next Post

Bahlil: Ketika Nilai Sakral Dijadikan Alat Politik – Krisis Sensitivitas Moral

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Indonesia Impor BBM dari Singapura Menteri Bahlil Heran, “Geleng-geleng Kepala”,

Bahlil: Ketika Nilai Sakral Dijadikan Alat Politik - Krisis Sensitivitas Moral

Dominasi Muslim di Eropa: Antara Demografi, Integrasi, dan Kecemasan Peradaban

Dominasi Muslim di Eropa: Antara Demografi, Integrasi, dan Kecemasan Peradaban

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist