Fusilatnews – Agama pada awalnya lahir sebagai seruan pembebasan. Hampir semua nabi datang untuk memutus belenggu: belenggu ketakutan, belenggu ketidakadilan, belenggu penyembahan palsu. Tetapi dalam perjalanan sejarah, manusia justru menciptakan belenggu baru, lalu menutupinya dengan ritual keagamaan. Mereka menyebut diri beriman, tetapi tidak merdeka.
Di sinilah kritik sesungguhnya: bukan pada Tuhan, bukan pada pesan spiritual, melainkan pada cara manusia membangun kehidupan yang bertentangan dengan hakikat keyakinan itu sendiri. Mereka memuja yang transenden, tetapi hidup sepenuhnya ditentukan oleh yang material. Mereka menunggu mukjizat, tetapi menutup semua pintu kemungkinan perubahan.
Padahal kecerdasan hidup adalah menyusun tatanan yang mendukung kebebasan batin, bukan yang menjebak. Menata kepemilikan agar tidak dimiliki oleh kepemilikan itu sendiri. Mengatur keuangan agar menjadi alat, bukan tuan. Menjalani keyakinan sebagai ruang pembebasan, bukan sekadar identitas sosial.
Jika tidak, maka kita hidup dalam ironi terbesar zaman ini: memuja Tuhan yang Maha Bebas, sambil menjalani hidup seorang budak — budak cicilan, budak kontrak, budak ketakutan akan kehilangan stabilitas semu.
Dan mungkin, jika suatu hari sebuah suara kembali berkata, “Ikuti Aku,” kita hanya bisa menunduk dan menjawab lirih: “Maaf, Tuhan… saya harus ke bank.”
Di kota-kota modern, rumah ibadah berdiri megah. Kubah menjulang, menara bersinar, pengeras suara memanggil umat berkali-kali sehari. Tetapi di balik itu, ada kesibukan lain yang jauh lebih menentukan arah hidup: jadwal pembayaran. Kalender spiritual mungkin dihafal, tetapi kalender kredit jauh lebih ditaati. Dosa bisa ditunda taubatnya, tetapi cicilan tidak pernah boleh terlambat.
Manusia modern tidak lagi takut kepada neraka. Ia lebih takut pada denda keterlambatan. Ia tidak lagi khawatir kehilangan surga. Ia lebih khawatir kehilangan skor kredit. Inilah teologi baru yang tak pernah diajarkan para nabi: teologi hutang, teologi kepemilikan, teologi ketakutan kehilangan status.
Agama kemudian sering direduksi menjadi aksesoris moral. Ia hadir di KTP, di ucapan salam, di ritual tahunan, di simbol-simbol sosial. Tetapi ia jarang hadir sebagai kekuatan pembebasan batin. Keyakinan tidak lagi memerdekakan manusia dari keserakahan, melainkan sering menjadi justifikasi untuk tetap nyaman dalam sistem yang menjerat.
Ironisnya, manusia sendiri yang merancang jebakan ini. Mereka membangun hidup dengan asumsi bahwa stabilitas materi adalah keselamatan. Rumah besar, kendaraan mewah, gaya hidup mapan dianggap bukti keberhasilan. Namun harga dari semua itu adalah hilangnya ruang untuk mendengar suara terdalam kehidupan. Mereka sibuk mengejar kepastian eksternal, sampai lupa bahwa hidup sejatinya tidak pernah pasti.
Para nabi selalu datang membawa ketidakpastian kreatif: keberanian meninggalkan yang lama, keberanian melangkah menuju yang belum jelas, keberanian mempercayai makna yang lebih besar dari sekadar harta. Tetapi manusia modern takut pada ketidakpastian. Mereka memilih rantai yang bisa diprediksi, dibanding kebebasan yang berisiko.
Maka lahirlah generasi yang saleh dalam ritual, tetapi miskin keberanian eksistensial. Generasi yang hafal doa, tetapi tak sanggup memilih jalan hidup sendiri. Generasi yang mengutip ayat tentang rezeki, tetapi hidupnya sepenuhnya dikendalikan kontrak kerja. Generasi yang percaya takdir, tetapi sesungguhnya tunduk pada sistem finansial buatan manusia.
Kritik ini bukan seruan meninggalkan agama. Justru sebaliknya: ini panggilan untuk mengembalikan agama ke hakikat asalnya — sebagai jalan pembebasan. Pembebasan dari ketakutan sosial, dari kerakusan, dari ilusi keamanan semu. Pembebasan untuk berani hidup otentik, bukan hidup yang sekadar mengikuti arus.
Sebab jika agama tidak lagi memerdekakan manusia, ia hanya tinggal dekorasi spiritual. Indah dilihat, rajin dirawat, tetapi tidak pernah mengubah struktur batin. Dan ketika keyakinan tidak mengubah hidup, ia berubah menjadi kebiasaan kosong — ritual tanpa ruh.
Pada akhirnya, pertanyaan paling jujur untuk manusia modern bukanlah: “Seberapa taat kamu beribadah?” Melainkan: “Seberapa bebas kamu menjalani hidupmu?”
Karena barangkali, ukuran keimanan bukan seberapa sering kita memanggil Tuhan dalam doa, tetapi seberapa berani kita melepaskan belenggu yang menghalangi kita menjawab panggilan-Nya.
Dan jika suatu hari suara Jesus itu kembali terdengar — “Ikuti Aku” — semoga kita tidak lagi menjawab:
“Maaf, Tuhan… saya harus ke bank.”
























