• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Tuhan yang Kalah oleh Cicilan

fusilat by fusilat
January 26, 2026
in Feature, Spiritual
0
Tuhan yang Kalah oleh Cicilan
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Agama pada awalnya lahir sebagai seruan pembebasan. Hampir semua nabi datang untuk memutus belenggu: belenggu ketakutan, belenggu ketidakadilan, belenggu penyembahan palsu. Tetapi dalam perjalanan sejarah, manusia justru menciptakan belenggu baru, lalu menutupinya dengan ritual keagamaan. Mereka menyebut diri beriman, tetapi tidak merdeka.

Di sinilah kritik sesungguhnya: bukan pada Tuhan, bukan pada pesan spiritual, melainkan pada cara manusia membangun kehidupan yang bertentangan dengan hakikat keyakinan itu sendiri. Mereka memuja yang transenden, tetapi hidup sepenuhnya ditentukan oleh yang material. Mereka menunggu mukjizat, tetapi menutup semua pintu kemungkinan perubahan.

Padahal kecerdasan hidup adalah menyusun tatanan yang mendukung kebebasan batin, bukan yang menjebak. Menata kepemilikan agar tidak dimiliki oleh kepemilikan itu sendiri. Mengatur keuangan agar menjadi alat, bukan tuan. Menjalani keyakinan sebagai ruang pembebasan, bukan sekadar identitas sosial.

Jika tidak, maka kita hidup dalam ironi terbesar zaman ini: memuja Tuhan yang Maha Bebas, sambil menjalani hidup seorang budak — budak cicilan, budak kontrak, budak ketakutan akan kehilangan stabilitas semu.

Dan mungkin, jika suatu hari sebuah suara kembali berkata, “Ikuti Aku,” kita hanya bisa menunduk dan menjawab lirih: “Maaf, Tuhan… saya harus ke bank.”


Di kota-kota modern, rumah ibadah berdiri megah. Kubah menjulang, menara bersinar, pengeras suara memanggil umat berkali-kali sehari. Tetapi di balik itu, ada kesibukan lain yang jauh lebih menentukan arah hidup: jadwal pembayaran. Kalender spiritual mungkin dihafal, tetapi kalender kredit jauh lebih ditaati. Dosa bisa ditunda taubatnya, tetapi cicilan tidak pernah boleh terlambat.

Manusia modern tidak lagi takut kepada neraka. Ia lebih takut pada denda keterlambatan. Ia tidak lagi khawatir kehilangan surga. Ia lebih khawatir kehilangan skor kredit. Inilah teologi baru yang tak pernah diajarkan para nabi: teologi hutang, teologi kepemilikan, teologi ketakutan kehilangan status.

Agama kemudian sering direduksi menjadi aksesoris moral. Ia hadir di KTP, di ucapan salam, di ritual tahunan, di simbol-simbol sosial. Tetapi ia jarang hadir sebagai kekuatan pembebasan batin. Keyakinan tidak lagi memerdekakan manusia dari keserakahan, melainkan sering menjadi justifikasi untuk tetap nyaman dalam sistem yang menjerat.

Ironisnya, manusia sendiri yang merancang jebakan ini. Mereka membangun hidup dengan asumsi bahwa stabilitas materi adalah keselamatan. Rumah besar, kendaraan mewah, gaya hidup mapan dianggap bukti keberhasilan. Namun harga dari semua itu adalah hilangnya ruang untuk mendengar suara terdalam kehidupan. Mereka sibuk mengejar kepastian eksternal, sampai lupa bahwa hidup sejatinya tidak pernah pasti.

Para nabi selalu datang membawa ketidakpastian kreatif: keberanian meninggalkan yang lama, keberanian melangkah menuju yang belum jelas, keberanian mempercayai makna yang lebih besar dari sekadar harta. Tetapi manusia modern takut pada ketidakpastian. Mereka memilih rantai yang bisa diprediksi, dibanding kebebasan yang berisiko.

Maka lahirlah generasi yang saleh dalam ritual, tetapi miskin keberanian eksistensial. Generasi yang hafal doa, tetapi tak sanggup memilih jalan hidup sendiri. Generasi yang mengutip ayat tentang rezeki, tetapi hidupnya sepenuhnya dikendalikan kontrak kerja. Generasi yang percaya takdir, tetapi sesungguhnya tunduk pada sistem finansial buatan manusia.

Kritik ini bukan seruan meninggalkan agama. Justru sebaliknya: ini panggilan untuk mengembalikan agama ke hakikat asalnya — sebagai jalan pembebasan. Pembebasan dari ketakutan sosial, dari kerakusan, dari ilusi keamanan semu. Pembebasan untuk berani hidup otentik, bukan hidup yang sekadar mengikuti arus.

Sebab jika agama tidak lagi memerdekakan manusia, ia hanya tinggal dekorasi spiritual. Indah dilihat, rajin dirawat, tetapi tidak pernah mengubah struktur batin. Dan ketika keyakinan tidak mengubah hidup, ia berubah menjadi kebiasaan kosong — ritual tanpa ruh.

Pada akhirnya, pertanyaan paling jujur untuk manusia modern bukanlah: “Seberapa taat kamu beribadah?” Melainkan: “Seberapa bebas kamu menjalani hidupmu?”

Karena barangkali, ukuran keimanan bukan seberapa sering kita memanggil Tuhan dalam doa, tetapi seberapa berani kita melepaskan belenggu yang menghalangi kita menjawab panggilan-Nya.

Dan jika suatu hari suara Jesus itu kembali terdengar — “Ikuti Aku” — semoga kita tidak lagi menjawab:
“Maaf, Tuhan… saya harus ke bank.”

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

PENEGASAN YUSRIL: Pencabutan Status WNI Tidak Bisa “Otomatis”, Harus Melalui Keputusan Menteri Hukum

Next Post

Cantik Alami di Usia Matang: Rahasia Kulit Lembap dan Cerah Tanpa Bahan Kimia

fusilat

fusilat

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Cantik Alami di Usia Matang: Rahasia Kulit Lembap dan Cerah Tanpa Bahan Kimia

Cantik Alami di Usia Matang: Rahasia Kulit Lembap dan Cerah Tanpa Bahan Kimia

Advokat Antara Negarawan dan Pedagang Jasa: Autokritik Profesi Hukum Indonesia

Advokat Antara Negarawan dan Pedagang Jasa: Autokritik Profesi Hukum Indonesia

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist