TOKYO — Universitas Tokyo menyatakan pada Senin (27/5) bahwa pihaknya tengah mempertimbangkan untuk menerima sementara mahasiswa internasional dari Universitas Harvard jika mereka terdampak oleh kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang melarang mereka melanjutkan studi di institusi tersebut.
Langkah ini menanggapi keputusan kontroversial pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang mencabut sertifikasi Harvard dalam Program Mahasiswa dan Pertukaran Pengunjung (Student and Exchange Visitor Program/SEVP). Kebijakan itu berpotensi memaksa mahasiswa asing untuk pindah ke universitas lain atau kehilangan status hukum mereka di AS.
Namun, sejauh ini, para mahasiswa internasional masih dapat tetap terdaftar di Harvard berkat perintah penangguhan sementara dari pengadilan distrik federal AS, sembari menunggu hasil peninjauan legalitas keputusan pemerintah tersebut.
Universitas Tokyo menyatakan bahwa mereka masih mengkaji rincian teknis terkait kemungkinan penerimaan mahasiswa asing Harvard ini. Sebelumnya, pada 2022, universitas ternama di Jepang ini telah meluncurkan program serupa untuk menampung peneliti dan mahasiswa yang tak dapat melanjutkan studi mereka akibat invasi Rusia ke Ukraina. Dalam program tersebut, Universitas Tokyo menyediakan laboratorium penelitian dan akomodasi secara gratis.
Menurut situs resmi universitas, hingga akhir Maret 2024, lebih dari 30 mahasiswa dan peneliti telah diterima melalui program tersebut. Selain dukungan finansial, mereka juga memperoleh fasilitas kelas bahasa Jepang dan layanan konseling.
Langkah solidaritas ini menunjukkan komitmen Universitas Tokyo terhadap kebebasan akademik dan kolaborasi internasional, terutama di tengah gejolak kebijakan imigrasi global yang semakin ketat.
© KYODO
























