Jakarta – Ke Jakarta aku akan kembali. Walau apa pun yang akan terjadi.
Setiap mendengarkan lirik lagu “Kembali ke Jakarta” (1969) milik grup band legendaris Koes Plus ini rasa rindu Willy Abdullah Fujiwara (80) kepada ibunya, Ny Hj Dasima Mokodongan di Kotamobagu, Sulawesi Utara, kian tak tertahankan.
Willy pun buru-buru menyusun rencana untuk meninggalkan Jepang dan kembali ke Jakarta.
Hanya satu tujuannya: setelah berhasil menemukan ayah kandungnya, Asahiro Fujiwara di Jepang tahun 1971, misi berikutnya adalah mengabdi kepada ibu kandungnya yang telah melahirkan dan membesarkannya seorang diri, bersama neneknya.
Di Jepang sebenarnya kehidupan ekonomi Willy sudah cukup mapan dan nyaman. Namun, ia tak begitu happy (bahagia) di negeri leluhurnya itu. Pasalnya, sang ibu tinggal di kampung halaman dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan.
Alkisah, setelah hampir enam tahun bekerja di Jepang, Willy dicandai ayah kandung dan adik-adik tirinya untuk mencari gadis di Jepang sebagai calon pasangan hidupnya. Namun, Willy justru ingin pulang dan bekerja di Indonesia supaya bisa menjaga dan merawat ibu dan neneknya yang tinggal di kampung halaman.
Waktu di Wakoshi, karena pulang kerja jam 4 sore, maka ada waktu luang bagi Willy untuk bekerja “part time” atau paruh waktu atau “arbaito” dalam bahasa Jepang. Willy pun berinisiatif untuk kerja paruh waktu demi menambah “income” atau pendapatan untuk ditabung sebagai bekal bila suatu saat kembali ke Jakarta.
Nah, kebetulan di dekat asrama tempat Willy tinggal ada restoran yang relatif besar bernama “Jumbo” di gedung bertingkat. Lalu terbetik dalam benak Willy bagaimana supaya bisa bertemu langsung dengan manajer restoran. Kemudian Willy bertanya kepada sekuriti siapa nama manajer restoran tersebut, dijawab bernama Yokoi. Willy pun minta dipertemukan dengan Yokoi untuk menyampaikan pesan dari temannya, Watanabe. 
Ketika bertemu dengan Yokoi, dengan percaya diri Willy mengaku mendapat informasi lowongan pekerjaan dari Watanabe yang juga teman dari Yokoi. Willy pun langsung diterima bekerja paruh waktu di restoran itu sejak pukul 5 sore hingga pukul 9 malam.
Tugas pertama Willy adalah berdiri di pintu masuk untuk menyapa dan memberi hormat kepada setiap tamu yang datang, sehingga pinggangnya terasa pegal-pegal.
Willy lalu naik level menjadi tukang cuci piring, dan naik level lagi menjadi pelayan pengantar menu makanan.
Dengan gaji dari bekerja paruh waktu tersebut, ditambah gaji dari Honda, Willy bisa membayar “living cost” (biaya hidup) di asrama, dan sebagian lagi ditabung untuk bekal nanti kembali ke Jakarta.
Willy lalu dipindah ke Nagoya di Mieken, Suzuka, tempat sirkuit balap mobil ternama, sehingga ia pun memutuskan keluar dari pekerjaan sampingan di restoran Jumbo itu.
Sebelum ke Nagoya, Willy terlebih dulu dipindah ke Sayama. Di sini Willy bekerja dengan orang-orang dari Korea dan India.
Pucuk dicita ulam pun tiba. Honda tempatnya bekerja ternyata sedang menjajaki kerja sama dengan PT Astra Internasional untuk membangun pabrik perakitan motor di Jakarta.
Willy pun dipanggil ke kantor oleh atasannya, Kakaricho dan diberi tahu akan dipertemukan dengan tamu dari Jakarta, yakni Direktur PT Astra International Ir Dani Wala. Lalu Willy ditanya ihwal misi dia pergi ke Jepang.
Willy pun menjawab, selain untuk training, ia juga punya misi pribadi, yakni mencari ayah kandungnya.
Karena sudah disetujui pimpinan Honda, maka Willy ditugaskan mendampingi teknisi-teknisi yang akan berangkat ke Indonesia.
Tugas sementara Willy adalah menyiapkan segala keperluan pimpinan Honda, Mr Kohama selama di Jakarta.
Sebelum itu, Willy dikirim ke Okayama untuk mempelajari mesin-mesin yang akan dibawa ke Jakarta.
Sebelum ditugaskan ke Jakarta, Willy terlebih dulu memuas-muaskan diri hidup di Jepang sambil cari pengalaman. Ia pun mengunjungi hotel-hotel bintang lima ternama, temasuk Imperial Hotel, tempat menginap para pejabat tinggi dari berbagai negara.
Willy juga mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan modern, pusat-pusat hiburan malam, termasuk Ginza yang ada kabaretnya yang paling terkenal, dan pusat-pusat kuliner ternama di Jepang, seperti Roppongi yang lantai paling atas bangunannya bisa berputar.
Tujuannya untuk mencari pengalaman sebagai bahan “oleh-oleh” untuk dibawa pulang ke Indonesia dan diceritakan kepada sanak saudara dan handai taulannya.
Proses Kembali ke Jakarta
Setelah sudah ada kesepakatan kedua belah pihak tentang penempatan kerja Willy di pabrik Federal Motor di Sunter, kantor pusat Honda telah membelikan tiket pesawat, dan pihak ekspedisi pun mulai mengepak barang-barang Willy untuk dikirim via kapal laut ke Jakarta. Jadwal keberangkatan diberikan waktu 3 hari kemudian dari Bandar Udara Haneda, Tokyo.
Ada cerita unik ketika Willy naik pesawat terbang di mana ia baru pertama kali naik pesawat, yakni dari Tokyo ke Jakarta.
Sementara dari kampung di Kotamobagu ke Manado, Willy naik truk barang, dengan jarak 200 kilometer yang ditempuh dalam waktu sehari semalam. Maklum di sepanjang perjalanan darat itu masih ada sisa-sisa tentara PRRI/ Permesta yang selalu mengadang di tengah-tengah hutan untuk merampas barang penumpang, dan juga kalau bertepatan dengan musim hujan, maka kalinya banjir dan meluap sehingga mobil tidak bisa menyeberang dan harus menunggu sampai air surut.
Dari Manado ke Jakarta, Willy naik kapal barang, namanya Koan Maru, dan perjalanan ditempuh hampir seminggu karena harus mampir-mampir di berbagai pelabuhan seperti Baubau, Makassar, Sulawesi Selatan, lalu Surabaya, Jawa Timur untuk naik- turun barang dan penumpang, baru tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Sementara perjalanan dari Jakarta ke Tokyo, Jepang, Willy naik kereta api dari Stasiun Gambir ke Surabaya, lanjut ke Jepang naik kapal barang, namanya Pancaran Sinar milik PT Pelayaran Samudra Line dengan muatan log-log kayu batangan dari Kalimantan untuk diolah menjadi tripleks di Jepang.
Perjalanan kapal dari Surabaya ke Jepang melalui rute Surabaya-Medan muat minyak kelapa sawit, lalu transit Singapura, lanjut melintas laut Vietnam yang kebetulan sedang ada perang melawan Amerika Serikat.
Saat melintas di laut Vietnam, terjadi badai Taifu, dan kapal dihalau oleh pesawat agar menjauh, tidak boleh merapat ke darat, sedangkan kapal sudah terombang-ambing dan oleng karena banyak muatan balok-balok kayu yang terlempar ka laut. Perkiraan Willy, kapal akan tenggelam.
Namun alhamdulillah, lambat-laun angin mereda dan kapal sudah mulai stabil. Tiga hari kemudian tiba di Pelabuhan Kobe. Kapal sempat sandar untuk menurunkan barang-barang, dan Willy ikut dengan awak kapal turun ke darat.
Ada yang menarik karena Willy masih lugu dan belum terbiasa dengan bermacam-macam hiburan. Willy pun diajak teman-teman awak kapal menonton hiburan tarian erotik. Hal ini membuka lembaran pengalaman yang tidak akan terlupakan oleh Willy.
Perjalanan kemudian berlanjut dan keesokan harinya tiba di Pelabuhan Osaka.
Seperti biasanya, saat bongkar-muat barang, Willy diajak lagi jalan-jalan oleh awak kapal. Kali ini hanya diajak ke tempat penjualan barang-barang bekas seperti pakaian yang relatif murah, dan Willy membeli beberapa kaus T-shirt.
Waktu mau pulang dan melewati pintu Imigrasi, paspor Willy ditahan dan ia dinyatakan tidak bisa naik ke kapal lagi karena tiketnya hanya sampai ke Osaka. Karena ada jaminan dari kapten kapal, Willy yang sempat ditahan itu akhirnya dilepaskan dan boleh melanjutkan perjalanan ke Yokohama.
Kembali ke perjalan balik ke Jakarta, untuk pertama kalinya Willy naik pesawat dari Haneda transit di Hongkong. Ada hal menarik di sini.
Setelah tiba di Hongkong ada pemberitahuan penumpang boleh turun selama 1 jam. Willy pun ikut turun dan berkeliling sekadar beli oleh-oleh. Karena keasyikan mutar-mutar, Willy lupa batas waktu transit sudah lewat. Lalu terdengar ada berita panggilan yang menyebut nama Fujiwara agar kembali ke pesawat. Willy pun langsung keluar pintu lobi dan bertemu petugas yang berlari menjemput dirinya, yang kelihatan raut mukanya marah karena pesawat sudah siap “take off” (lepas landas).
Willy langsung dilarikan ke pesawat dan dia melihat pintu pesawat dibuka dan tangga diturunkan kembali. Waktu itu pesawat belum memakai belalai seperti sekarang ini.
Willy masuk pesawat dan banyak penumpang menggerutu karena lama menunggu. Willy dalam hati menyesal dan malu dengan tatapan sinis beberapa penumpang.
Willy pun minta maaf ke penumpang di kursi sebelahnya yang kebetulan orang Jepang. Tibalah Willy di Bandara Kemayoran, Jakarta.
Sesampai di Jakarta, Willy mulai masuk kerja mendampingi teknisi-teknisi dari Jepang. Willy juga dibutuhkan Mr Kohama untuk menyetir mobil yang waktu itu mereknya Toyota Crown
Di situlah nasib Willy berubah. Ia biasa pakai jas dan dasi keluar masuk kantor dan hotel dengan pakaian elegan.
Tabungan dari Jepang ia buat bangun rumah di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Namun, setiap hari Willy memikirkan ibunya. Terutama kondisi kesehatan perempuan yang paling dikasihinya itu yang sudah beranjak tua. Ia pun rindu ibunya. Makin hari kerinduan itu makin membara.
Willy pun mencari siasat agar bisa kembali dari Jakarta ke kampung halaman dan bertemu ibunya. Ia kemudian meminta keluarganya di kampung untuk mengirim telegram yang berisi kabar bahwa ibunya sedang sakit dan dalam kondisi gawat, sehingga Willy diminta segera pulang.
Willy pun akhirnya diizinkan atasannya untuk pulang ke kampung halaman.
Hal ini ia tempuh karena perusahaannya tidak memperbolehkan Willy “resign” atau mundur dari pekerjaannya.
Nah, waktu di kampung halaman ini ia manfaatkan untuk liburan sepuas-puasnya. Mengunjungi sanak keluarga.
Seperti ayah dan keluarganya saat Willy tinggal di Jepang, di kampung halaman pun sang ibu meminta Willy untuk menikah. Akhirnya waktu dia untuk kambali ke Jakarta pun molor sudah. (Bersambung)
























