BAB 1
Sesal Itu Datang Saat Hening
“Sesal itu selalu datang belakangan.”
Dulu aku menganggap kalimat itu hanya petuah yang sering diucapkan orang-orang tua ketika menasihati yang lebih muda. Sebuah ungkapan sederhana, terdengar bijak, tetapi tak pernah benar-benar menyentuh hatiku.
Baru kini aku memahami maknanya.
Aku berdiri mematung di hadapan sebuah batu nisan yang masih tampak baru. Mentari siang menggantung tepat di atas kepala. Udara terasa hangat, namun tubuhku justru diselimuti dingin yang datang entah dari mana. Mungkin bukan dingin udara, melainkan dingin yang lahir dari kehilangan.
Di bawah gundukan tanah itu, beristirahat perempuan yang bertahun-tahun mengisi hari-hariku.
Nana Nurhasanah.
Perempuan yang kupanggil istri.
Perempuan yang kini hanya bisa kusapa lewat doa.
Aku menundukkan kepala. Kedua telapak tanganku terangkat perlahan. Bibirku bergerak pelan, nyaris tanpa suara.
“Allahummaghfirlahā warhamhā wa ‘āfihā wa’fu ‘anhā…”
Aku mengulanginya tiga kali.
Bukan karena ingin terlihat khusyuk. Bukan pula karena ada orang yang memperhatikan.
Aku mengulanginya karena hanya itu yang masih bisa kukirimkan kepadanya.
Tak ada lagi secangkir teh yang bisa kuberikan.
Tak ada lagi pelukan.
Tak ada lagi percakapan.
Yang tersisa hanyalah doa.
Di depanku, Bagas, anak bungsu kami, berjongkok diam. Tatapannya menembus tanah yang masih merah. Sejak kami tiba, ia hampir tak mengucapkan sepatah kata pun. Kesedihan memang sering kali tak membutuhkan bahasa.
Aku memandang wajahnya beberapa saat.
Ada kesedihan yang sama.
Ada kehilangan yang sama.
Hanya bentuknya berbeda.
Ia kehilangan seorang ibu.
Sedangkan aku kehilangan seseorang yang selama ini diam-diam menjaga seluruh hidupku.
Aku ingin merangkul pundaknya.
Namun tanganku terasa berat.
Bukan karena tak mampu.
Melainkan karena rasa bersalah yang tiba-tiba memenuhi dadaku.
Aku kembali menunduk.
Mataku berhenti pada taburan bunga yang mulai mengering di atas pusara.
Beberapa helai mawar telah berubah kecokelatan.
Melati yang dulu harum mulai kehilangan aromanya.
Waktu memang tak pernah berhenti bekerja.
Namun hati manusia sering tertinggal jauh di belakang.
“Maafkan aku, Na…”
Kalimat itu tak keluar dari bibirku.
Ia hanya bergema di dalam dada.
Barangkali Tuhan mendengarnya.
Barangkali Nana juga.
Aku tak tahu.
Aku kembali melafalkan doa.
“Allahummaghfirlahā warhamhā wa ‘āfihā wa’fu ‘anhā…”
Kali ini suaraku bergetar.
Setiap kata terasa seperti menabrak sesuatu di dalam dada yang selama ini kukira telah kuat.
Ternyata tidak.
Aku rapuh.
Sangat rapuh.
Orang sering berkata, cinta paling besar adalah ketika seseorang rela berkorban.
Kini aku justru percaya, cinta sering kali bersembunyi dalam hal-hal yang nyaris tak kita perhatikan.
Aku teringat kehidupan kami di rumah.
Aku menghabiskan banyak waktu di depan komputer. Menulis artikel. Membaca buku. Menyelesaikan naskah. Kadang larut hingga tengah malam, tenggelam dalam dunia yang kubangun sendiri.
Sementara itu Nana menjalani dunianya dengan cara yang berbeda.
Ia tak banyak berbicara.
Tetapi tangannya tak pernah berhenti bekerja.
Ia berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, merapikan bantal, melipat selimut, mengelap meja, menyusun buku yang bahkan baru beberapa menit sebelumnya kubiarkan berantakan.
Dulu aku menganggap itu hanya kebiasaan.
Sekarang aku sadar.
Itulah cara ia mencintai keluarganya.
Tanpa pidato.
Tanpa pujian.
Tanpa berharap dipuji.
Aku masih bisa melihatnya menggulung kabel pengisi daya telepon genggam hingga rapi, mengikatnya dengan tali kecil agar tak kusut. Hal yang bagiku sama sekali tidak penting.
Kini, setiap kali kabel itu kusentuh, ingatanku kembali kepadanya.
Ia juga selalu memperhatikan hal-hal yang tak pernah kupikirkan.
Bantal harus menghadap arah yang sama.
Gorden tak boleh miring.
Taplak meja harus rata.
Bahkan posisi sandal di depan pintu pun selalu dibuat sejajar.
Aku sering tersenyum melihatnya.
Kadang malah menggoda.
“Nggak capek begitu terus?”
Ia hanya tertawa kecil.
Tanpa menjawab.
Kini aku tahu.
Jawabannya ada di rumah yang ia tinggalkan.
Ada satu kebiasaan yang baru kusadari setelah ia tiada.
Di hampir setiap laci rumah, kutemukan beberapa lembar uang pecahan lima ribu dan sepuluh ribu rupiah.
Dilipat rapi.
Awalnya aku heran.
Untuk apa uang sebanyak itu disimpan di berbagai tempat?
Barulah kemudian aku mengerti.
Itu adalah uang yang sengaja ia siapkan untuk diberikan kepada siapa pun yang datang membantu.
Tukang galon.
Kurir.
Teknisi listrik.
Petugas kebersihan.
Bahkan tukang sampah.
Tak seorang pun pulang dari rumah kami tanpa menerima tanda terima kasih darinya.
Jumlahnya memang kecil.
Tetapi penghargaan itu besar.
Nana percaya bahwa setiap pekerjaan layak dihormati.
Dan penghormatan tak selalu harus berupa kata-kata.
Kadang cukup dengan selembar uang yang diberikan bersama senyum tulus.
Pelajaran itu baru benar-benar kupahami ketika ia sudah tak ada.
Sesekali, untuk mengobati rinduku, aku sengaja mendatangi tempat-tempat yang dulu sering ia kunjungi.
Salon langganannya di Senayan City.
Restoran favoritnya.
Beberapa pusat perbelanjaan di Depok yang begitu ia sukai.
Aku berjalan di tempat-tempat itu sendirian.
Seolah berharap ia tiba-tiba muncul dari balik keramaian sambil berkata,
“Aa, ayo pulang…”
Tentu saja itu tak pernah terjadi.
Yang datang hanyalah kenangan.
Sebelum berziarah hari itu, aku bahkan sempat membeli makanan kesukaan Bagas.
Dua potong dada ayam KFC dan kentang goreng.
Menu sederhana.
Tetapi setiap kali melihatnya, aku selalu teringat Nana.
Dialah yang hampir selalu membawakannya untuk Bagas.
Begitulah seorang ibu.
Ia mengingat hal-hal yang bahkan anaknya sendiri mungkin lupa.
Empat puluh hari berlalu sejak kepergiannya.
Rumah kami kembali dipenuhi orang-orang yang datang membawa doa.
Keluarga.
Tetangga.
Sahabat.
Jamaah masjid.
Suasana hening.
Tak banyak percakapan.
Yang terdengar hanyalah lantunan ayat suci yang memenuhi setiap sudut ruangan.
Pak Haji Elyun kemudian memintaku berdiri mewakili keluarga.
Aku melangkah pelan.
Belasan pasang mata menatap ke arahku.
Napas terasa berat.
Suara tercekat di tenggorokan.
“Terima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu….”
Baru satu kalimat.
Air mataku jatuh lebih dulu.
Aku mencoba melanjutkan.
“Kami memohon maaf apabila almarhumah pernah berbuat salah…. Kami juga mohon doa agar Allah menerima seluruh amal ibadahnya….”
Aku tak sanggup meneruskan.
Tangisku pecah.
Bukan karena aku lemah.
Melainkan karena akhirnya aku menyadari sesuatu yang terlambat kusadari.
Selama ini aku begitu sibuk mengejar pekerjaan, tulisan, dan berbagai urusan kehidupan.
Aku mencintainya.
Aku tahu itu.
Tetapi aku terlalu yakin bahwa ia akan selalu ada.
Dan keyakinan itulah yang membuatku lalai menunjukkan cinta itu setiap hari.
Kini semuanya telah berubah.
Aku masih bisa mencintainya.
Tetapi tak lagi bisa menunjukkannya secara langsung.
Yang tersisa hanyalah doa.
Dan penyesalan.
Dalam perjalanan menuju Bogor seusai acara empat puluh hari, aku duduk berdampingan dengan Acep, sahabat lama kami.
Sepanjang jalan kami mengenang Nana.
Kami tertawa mengingat cerita-cerita kecil.
Lalu tiba-tiba terdiam.
Aku teringat suatu hari ketika honor pertamaku dari YouTube akhirnya cair.
Jumlahnya cukup besar.
Namun Nana tersenyum begitu bahagia.
Ia memandangku dengan mata yang penuh keyakinan.
Seolah ingin berkata,
“Aku percaya padamu.”
Kini aku baru memahami arti tatapan itu.
Ia tidak sedang melihat berapa banyak uang yang kubawa pulang.
Ia sedang melihat masa depan yang bahkan aku sendiri belum mampu melihatnya.
Aku menoleh ke luar jendela.
Langit sore mulai berubah jingga.
Aku menutup mata.
Lalu dalam hati kembali berbisik,
“Maafkan aku, Na…”
Karena kini aku akhirnya mengerti.
Sesal memang selalu datang belakangan.
Ia datang membawa rindu.
Membawa kenangan.
Membawa cinta yang tak sempat diucapkan.
Dan ketika ia tiba…
tak ada lagi waktu untuk mengulang kehidupan.
BAB 2
Warisan yang Tak Pernah Ia Sadari
Ada orang yang meninggalkan harta.
Ada yang meninggalkan nama besar.
Ada pula yang dikenang karena jabatan dan kedudukannya.
Nana tidak meninggalkan semua itu.
Yang ia tinggalkan adalah sesuatu yang jauh lebih sunyi, tetapi justru paling sulit dilupakan: cara hidup.
Aku baru menyadarinya ketika rumahnya mulai terasa asing.
Bukan karena perabotnya berubah.
Bukan karena dindingnya berganti warna.
Melainkan karena rumah itu kehilangan seseorang yang selama bertahun-tahun menjadi jiwanya.
Selama ini aku mengira rumah hanyalah tempat berteduh.
Tempat kami pulang setelah lelah bekerja.
Tempat tidur, makan, dan beristirahat.
Ternyata aku keliru.
Rumah memiliki kehidupan.
Dan kehidupan itu selama ini dijaga oleh Nana.
Pagi-pagi sekali ia sudah bangun.
Bukan karena ada tamu.
Bukan pula karena ada acara penting.
Begitulah kebiasaannya.
Sebelum matahari benar-benar tinggi, jendela sudah terbuka. Udara pagi masuk membawa aroma embun. Tirai disibakkan perlahan agar cahaya memenuhi ruang tamu.
Rumah seperti ikut bernapas.
Aku masih sering terlelap ketika suara sapu mulai terdengar pelan di halaman.
Bukan suara yang mengganggu.
Justru suara yang menghadirkan rasa tenteram.
Hari baru telah dimulai.
Aku tak pernah benar-benar memperhatikan semua itu.
Kupikir semua rumah memang seperti itu.
Kini aku tahu, Tidak.
Rumah menjadi hidup karena ada seseorang yang mencintainya.
Nana mempunyai keyakinan yang sederhana.
Rumah yang bersih membuat hati ikut bersih.
Ia tidak pernah mengatakannya kepadaku.
Tetapi setiap hari ia memperlihatkannya.
Tak ada debu yang dibiarkan terlalu lama.
Tak ada pakaian yang menggantung sembarangan.
Tak ada bekas koran yang menumpuk di sudut ruangan.
Setiap benda memiliki tempatnya.
Dan setiap tempat selalu kembali menemukan bendanya.
Dulu aku sering bercanda.
“Kalau rumah ini dijadikan ruang operasi, mungkin dokter juga betah.”
Ia hanya tertawa.
Tawanya pendek.
Lalu kembali melipat pakaian yang menurutku sebenarnya sudah cukup rapi.
Kini setiap kali aku melipat pakaian sendiri, aku selalu teringat tawanya.
Ada satu kebiasaan kecil yang baru kusadari setelah ia tiada.
Di dalam beberapa laci rumah kutemukan uang pecahan lima ribu dan sepuluh ribu rupiah.
Dilipat rapi.
Jumlahnya tidak banyak.
Namun hampir selalu ada.
Aku sempat mengira itu uang yang terlupa.
Ternyata bukan.
Itu memang sengaja disiapkannya.
Untuk siapa?
Untuk siapa saja.
Kurir yang mengantar paket.
Tukang galon.
Teknisi listrik.
Petugas kebersihan.
Pengangkut sampah.
Siapa pun yang datang membantu rumah kami.
Baginya, pekerjaan sekecil apa pun layak dihormati.
Ia tidak pernah memanggil mereka dengan nada tinggi.
Tidak pernah menyuruh dengan wajah masam.
Ia menyambut mereka seperti tamu.
Sebelum mereka pulang, selalu ada senyum.
Lalu selembar uang kecil berpindah tangan.
Bukan karena mereka meminta.
Tetapi karena Nana percaya, rasa hormat juga bisa diwujudkan melalui perhatian.
Sekarang aku melakukan hal yang sama.
Bukan karena uang itu besar.
Melainkan karena di situlah aku merasa Nana masih mengajariku.
Makan malam di rumah kami selalu sederhana.
Namun Nana mampu mengubah kesederhanaan menjadi sesuatu yang istimewa.
Ia memilih piring putih yang paling bersih.
Sendok dan garpu diletakkan sejajar.
Gelas kaca harus bening.
Tatakan meja dirapikan.
Kadang ditambah sepotong buah sebagai penutup.
Tak ada restoran mewah.
Tak ada makanan mahal.
Tetapi ketika duduk di meja makan, aku selalu merasa seperti tamu kehormatan.
Padahal aku hanyalah suaminya sendiri.
Kini aku baru memahami.
Ia tidak sedang menyajikan makanan.
Ia sedang menyajikan kasih sayang.
Kamar mandi adalah ruang yang paling sering luput dari perhatian banyak orang.
Tetapi tidak bagi Nana.
Baginya, kebersihan kamar mandi adalah cermin penghormatan terhadap diri sendiri.
Lantainya selalu kering.
Cerminnya bening tanpa noda.
Sabun, pasta gigi, dan sikat gigi berdiri sejajar.
Handuk dilipat rapi.
Tak pernah asal digantung.
Selesai mandi, ia selalu mengelap wastafel.
Aku sering bertanya,
“Mengapa harus dibersihkan lagi? Toh nanti dipakai lagi.”
Ia hanya menjawab pendek.
“Supaya orang berikutnya merasa nyaman.”
Jawaban sesederhana itu baru sekarang terasa begitu dalam.
Ia selalu memikirkan orang lain.
Bahkan untuk sesuatu yang mungkin tak akan pernah diperhatikan.
Begitu pula kamar tidur kami.
Ia memiliki kemampuan yang aneh.
Menggabungkan warna seprai, sarung bantal, gorden, bahkan wallpaper sehingga semuanya tampak serasi.
Aku tidak pernah tahu bagaimana ia memilihnya.
Yang kutahu hanyalah setiap kali memasuki kamar, ada rasa damai yang sulit dijelaskan.
Kini aku sadar.
Keindahan ternyata bukan soal harga.
Melainkan soal perhatian.
Suatu hari seorang anak asuh kami dari Jepang, Yu Sakama, tinggal cukup lama di rumah.
Sebelum kembali ke negaranya ia berkata,
“Saya belajar tentang kebersihan dari rumah ini.”
Aku tersenyum mendengarnya.
Saat itu aku menganggap pujian itu ditujukan kepada kami berdua.
Sekarang aku tahu.
Pujian itu sepenuhnya milik Nana.
Bahkan seseorang yang berasal dari Jepang—negara yang terkenal dengan budaya kebersihannya—masih menemukan sesuatu untuk dipelajari darinya.
Betapa besar pengaruh seseorang yang bekerja tanpa banyak bicara.
Aku sering berpikir, mengapa dulu aku tidak menyadari semua itu?
Jawabannya mungkin sederhana.
Karena cinta yang hadir setiap hari sering kali menjadi sesuatu yang kita anggap biasa.
Kita baru menyadari betapa berharganya udara ketika mulai sesak bernapas.
Kita baru menghargai kesehatan ketika jatuh sakit.
Dan kita baru memahami besarnya kasih sayang seseorang ketika ia telah tiada.
Begitulah aku.
Aku terlalu terbiasa menerima.
Terlalu jarang berhenti untuk memperhatikan.
Sekarang setiap pagi aku mencoba melakukan hal-hal kecil yang dulu dikerjakannya.
Membersihkan toilet
Merapikan bantal.
Mengelap meja.
Menggulung kabel telepon genggam agar tidak kusut.
Menyusun sandal di depan pintu.
Kadang-kadang aku tersenyum sendiri.
Aku merasa seperti murid yang terlambat datang ke kelas.
Guru terbaikku telah pulang lebih dulu.
Pelajarannya baru benar-benar kupahami setelah beliau tak lagi berada di sampingku.
Aku percaya, manusia sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi.
Ia tetap tinggal dalam kebiasaan yang diwariskannya.
Dalam nilai-nilai yang ia tanamkan.
Dalam cara kita memperlakukan orang lain.
Dalam cara kita menjaga rumah.
Dalam cara kita menghormati pekerjaan sekecil apa pun.
Nana kini memang telah beristirahat.
Namun setiap kali aku melipat handuk dengan rapi…
setiap kali aku menyisihkan uang kecil untuk kurir…
setiap kali aku memastikan meja makan tertata sebelum kami makan…
aku tahu…
ada bagian dari dirinya yang masih hidup di dalam diriku.
Dan mungkin…
itulah bentuk cinta yang paling abadi.
Bukan cinta yang dikenang melalui foto atau batu nisan.
Melainkan cinta yang menjelma menjadi cara hidup orang yang ditinggalkan.
BAB 3
Dalam Diam, Aku Menemukanmu Lagi
Waktu ternyata tidak menyembuhkan kehilangan.
Ia hanya mengajarkan manusia cara hidup berdampingan dengannya.
Aku baru mengerti itu beberapa bulan setelah Nana pergi.
Pada awalnya, setiap sudut rumah terasa seperti luka.
Kursi yang biasa didudukinya.
Cangkir yang pernah disentuh bibirnya.
Lemari yang selalu ia rapikan.
Bahkan aroma sabun yang tertinggal di kamar mandi.
Semuanya seolah sedang memanggil namanya.
Aku sering berdiri lama di ambang pintu kamarku.
Bukan karena ingin masuk.
Tetapi karena berharap, entah bagaimana caranya, ia tiba-tiba keluar sambil berkata,
“Aa, jangan berdiri di situ terus.”
Harapan itu tentu tak pernah menjadi kenyataan.
Namun anehnya, aku tetap melakukannya.
Barangkali begitulah cara hati menolak percaya pada kenyataan.
Suatu malam aku terbangun sekitar pukul dua.
Rumah begitu sunyi.
Tak ada suara apa pun selain detak jam dinding.
Aku berjalan perlahan menuju dapur untuk mengambil segelas air.
Tanpa sadar tanganku membuka lemari tempat gelas biasa disimpan Nana.
Aku tersenyum sendiri.
Padahal selama bertahun-tahun aku tak pernah tahu gelas itu disimpan di sana.
Selama ini aku hanya meminta.
Ia yang mengambilkan.
Kini aku harus belajar menemukannya sendiri.
Begitulah kehilangan pekerjaan.
Ia mengajarkan hal-hal yang selama ini kita serahkan kepada orang yang kita cintai.
Beberapa hari kemudian aku hendak menerima kiriman paket.
Kurir datang seperti biasa.
Sebelum ia pergi, tanpa berpikir panjang, aku membuka laci di dekat pintu.
Di sana masih ada beberapa lembar uang lima ribuan.
Persis seperti yang selalu disiapkan Nana.
Aku mengambil satu lembar.
Kuberikan kepada kurir itu.
Ia tersenyum.
“Terima kasih, Pak.”
Aku mengangguk.
Setelah pintu tertutup, tiba-tiba mataku basah.
Hari itu aku sadar.
Bukan aku yang sedang memberi tip.
Akulah yang sedang meneruskan kebiasaan Nana.
Aku hanya melanjutkan pelajaran yang dulu tak sempat kusadari.
Aku mulai memperhatikan banyak hal.
Jika selesai mandi, wastafel kuusap hingga kering.
Handuk kulipat kembali.
Bantal kurapikan sebelum meninggalkan kamar.
Kabel telepon kugulung rapi.
Sandal kususun sejajar.
Hal-hal yang dulu terasa sepele kini berubah menjadi semacam doa.
Setiap kali melakukannya, aku merasa sedang berbicara dengannya.
Tanpa kata.
Tanpa suara.
Hanya melalui kebiasaan.
Aku kemudian memahami sesuatu yang tak pernah kupikirkan sebelumnya.
Barangkali cinta memang tidak selalu hidup di dalam kata ‘aku mencintaimu’.
Kadang cinta justru bersembunyi di tempat-tempat yang paling sederhana.
Di meja makan yang telah ditata sebelum kita duduk.
Di pakaian yang sudah disetrika tanpa diminta.
Di handuk yang telah diganti.
Di lampu teras yang selalu dinyalakan sebelum kita pulang.
Di secangkir teh hangat yang tiba-tiba sudah berada di samping meja kerja.
Semua itu begitu biasa.
Begitu sering terjadi.
Sehingga kita lupa mengucapkan terima kasih.
Kita menganggap semuanya memang seharusnya ada.
Padahal tidak.
Ada seseorang yang diam-diam menciptakan semua kenyamanan itu.
Dan orang itu bernama Cinta.
Kini aku sering berkata kepada anak-anakku,
“Kalau nanti kalian mencintai seseorang, jangan hanya katakan.”
“Tunjukkan.”
“Bukan dengan hadiah mahal.”
“Bukan dengan bunga.”
“Tetapi dengan perhatian yang bahkan tidak diminta.”
Karena itulah yang diajarkan Nana sepanjang hidupnya.
Ia tidak banyak memberi nasihat.
Ia memilih memberi teladan.
Dan teladan selalu hidup lebih lama daripada kata-kata.
Suatu hari aku membuka kembali album-album lama.
Ada begitu banyak foto.
Saat kami masih muda.
Saat anak-anak masih kecil.
Saat kami tertawa tanpa memikirkan usia.
Aku memperhatikan wajahnya lama sekali.
Lalu kusadari sesuatu.
Di hampir setiap foto, ia selalu tersenyum.
Bukan senyum yang dibuat untuk kamera.
Melainkan senyum seseorang yang benar-benar menikmati hidup.
Aku bertanya dalam hati,
“Apakah aku sudah cukup membuatmu bahagia?”
Tak ada jawaban.
Namun entah mengapa, aku merasa ia sedang tersenyum seperti dulu.
Dan untuk pertama kalinya sejak kepergiannya…
aku tidak menangis.
Aku justru tersenyum.
Mungkin inilah yang disebut menerima.
Bukan melupakan.
Melainkan berdamai.
Kini aku tidak lagi mencari Nana di pemakaman.
Aku menemukannya di rumah.
Di meja makan.
Di ruang tamu.
Di aroma sabun.
Di lipatan handuk.
Di uang kecil dalam laci.
Di sandal yang tersusun rapi.
Di setiap kebiasaan baik yang kini perlahan menjadi bagian dari hidupku.
Aku menemukan Nana…
di dalam diriku sendiri.
Karena ternyata seseorang yang sangat kita cintai tidak pernah benar-benar pergi.
Ia berpindah tempat.
Dari hadapan mata…
ke dalam hati.
Dari suara…
menjadi nilai-nilai kehidupan.
Dari kehadiran…
menjadi cahaya yang diam-diam membimbing langkah kita.
Mungkin inilah yang dimaksud Helen Keller ketika menulis,
“What we have once enjoyed we can never lose. All that we love deeply becomes a part of us.”
Apa yang pernah kita cintai dengan sungguh-sungguh tidak pernah benar-benar hilang.
Ia menjadi bagian dari diri kita.
Kini aku mengerti.
Sesal memang datang belakangan.
Tetapi jika kita mau belajar darinya, sesal tidak harus menjadi akhir.
Ia dapat berubah menjadi rasa syukur.
Syukur karena pernah dipertemukan.
Syukur karena pernah dicintai.
Syukur karena masih diberi kesempatan meneruskan warisan kebaikan yang ditinggalkannya.
Dan setiap kali aku merapikan rumah ini…
aku tahu…
aku tidak sedang hidup sendirian.
Masih ada seseorang yang berjalan bersamaku.
Tak terlihat.
Tak terdengar.
Namun selalu hadir.
Namanya…
cinta.
Epilog
Lalu aku memahami satu hal yang selama ini luput dari kesadaranku.
Selama bertahun-tahun aku mengira akulah yang menjaga keluarga ini.
Akulah yang bekerja.
Akulah yang mencari nafkah.
Akulah yang menulis.
Akulah yang berdiri di depan.
Ternyata aku keliru.
Di belakang langkahku, ada seorang perempuan yang tanpa banyak bicara menjaga agar hidup kami tetap utuh.
Ia tidak membangun gedung.
Ia tidak memimpin perusahaan.
Ia tidak menjadi pejabat.
Namun setiap hari ia membangun sesuatu yang jauh lebih besar:
sebuah rumah yang layak disebut “rumah”.
Kini tugas itu berpindah kepadaku.
Aku tahu aku tak akan pernah bisa melakukannya sebaik dirinya.
Tetapi setiap kali aku berusaha merapikan bantal…
mengelap meja…
menghargai orang-orang yang bekerja…
dan memperlakukan keluarga dengan kelembutan…
aku sedang meneruskan hidupnya.
Barangkali itulah makna cinta yang sesungguhnya.
Bukan memiliki seseorang selama-lamanya.
Melainkan menjadi pribadi yang lebih baik karena pernah hidup bersamanya.
Sebuah Doa
Dalam diam, kau tetap bicara,
melalui bantal yang rapi,
meja yang selalu terjaga,
dan wangi sabun yang tinggal di kamar mandi.
Kau hadir dalam hal-hal kecil
yang dahulu luput dari mataku—
selembar uang di laci untuk kurir,
gelas bening yang telah disiapkan,
serta rumah yang setiap sudutnya
kau rawat dengan kasih yang tak bersuara.
Kini aku mengerti,
cinta ternyata tidak selalu meminta untuk diingat.
Ia memilih menetap
dalam kebiasaan-kebiasaan baik
yang diam-diam diwariskan.
Aku memang tak lagi dapat menggenggam tanganmu.
Namun setiap kali aku berusaha menjadi
lebih sabar,
lebih rapi,
lebih lembut kepada sesama,
aku tahu…
sebagian dari dirimu sedang hidup di dalam diriku.
Selamat beristirahat, Na.
Jika kelak Allah mempertemukan kita kembali,
aku ingin menyampaikan satu kalimat
yang terlambat kuucapkan ketika engkau masih di sisiku.
Terima kasih.
Dan kali ini…
aku berharap…
aku tidak lagi datang terlambat. □




















