Oleh: Entang Sastraatmadja
Zaman keemasan (golden age) adalah periode dalam sejarah yang ditandai oleh kemakmuran, stabilitas politik, perdamaian, serta pencapaian tertinggi dalam bidang budaya, ekonomi, atau ilmu pengetahuan. Konsep ini berakar dari mitologi Yunani tentang masa damai dan utopis, namun dalam perkembangan modern digunakan untuk menggambarkan puncak kejayaan suatu peradaban—seperti Zaman Keemasan Islam (abad ke-8 hingga ke-13) atau Renaisans Italia.
Dalam konteks Indonesia pasca-kemerdekaan, istilah “zaman keemasan” bersifat sangat subjektif. Ia bergantung pada indikator yang digunakan: apakah stabilitas ekonomi, pengaruh politik internasional, kekuatan militer, atau kematangan sistem politik dan partai-partai yang mengelolanya.
Secara umum, sebuah periode dapat disebut zaman keemasan apabila memenuhi beberapa indikator utama:
puncak popularitas dan pengaruh, kinerja yang efektif dalam mencapai tujuan, pengaruh besar dalam pengambilan kebijakan, stabilitas internal yang solid, serta dukungan luas dari masyarakat.
Dalam konteks partai politik, zaman keemasan biasanya ditandai oleh:
- Kemenangan pemilu dengan selisih yang signifikan,
- Penguasaan jabatan strategis dalam pemerintahan,
- Kualitas kader yang berpengaruh dan berkelanjutan.
Namun, tetap harus disadari: “zaman keemasan” bukanlah fakta tunggal, melainkan tafsir yang sangat ditentukan oleh konteks dan perspektif.
Kilasan Zaman Keemasan Indonesia Modern
Beberapa periode dalam sejarah Indonesia modern kerap disebut sebagai masa puncak:
1. Era Orde Baru (1980-an–1990-an): Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi
Banyak ekonom menyebut era ini sebagai masa keemasan pembangunan fisik dan stabilitas nasional. Indonesia berhasil mencapai swasembada beras pada 1984, prestasi yang diakui dunia melalui penghargaan FAO.
Pendapatan per kapita melonjak dari sekitar USD 70 di awal Orde Baru menjadi hampir USD 1.000 pada 1996. Stabilitas keamanan relatif terjaga, meski harus dibayar mahal dengan pembatasan kebebasan sipil dan politik.
2. Era Orde Lama (1950-an–awal 1960-an): Puncak Diplomasi dan Geopolitik
Di bawah kepemimpinan Soekarno, Indonesia tampil sebagai mercusuar dunia ketiga.
Konferensi Asia Afrika 1955 menjadikan Indonesia episentrum diplomasi global dan pelopor Gerakan Non-Blok. Pada awal 1960-an, Indonesia bahkan memiliki salah satu kekuatan militer terkuat di belahan bumi selatan, berkat dukungan persenjataan dari Uni Soviet.
3. Visi “Indonesia Emas 2045”
Saat ini, pemerintah mengusung narasi Indonesia Emas 2045—sebuah proyeksi ambisius agar Indonesia menjadi salah satu dari lima kekuatan ekonomi terbesar dunia, dengan memanfaatkan bonus demografi hingga awal 2030-an. Namun, visi ini masih berada di ranah janji dan perencanaan, belum realitas sejarah.
Zaman Keemasan dan Partai Politik: Studi Kasus Gerindra
Pertanyaannya kemudian: bagaimana kaitan konsep zaman keemasan dengan perjalanan partai politik di Indonesia?
Dalam beberapa tahun terakhir, Partai Gerindra menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berdasarkan Pemilu Legislatif 2024, Gerindra menjadi partai ketiga terbesar di DPR dengan 86 kursi. Ketua umumnya, Prabowo Subianto, menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan kini telah terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia.
Dari sisi elektoral dan pengaruh politik, Gerindra jelas berada pada fase terbaik sepanjang sejarahnya. Pada Pemilu 2019, partai ini meraih 13,57% suara dan 78 kursi, menandai konsistensi pertumbuhan dibanding pemilu sebelumnya.
Namun, apakah kondisi ini dapat langsung disebut sebagai “zaman keemasan Gerindra”?
Jawabannya tidak sesederhana angka. Politik bersifat dinamis. Popularitas adalah puncak yang rapuh jika tidak diikuti dengan konsistensi kinerja dan kejelasan arah ideologis.
Faktor Pendorong Popularitas Gerindra
Meningkatnya pengaruh Gerindra dipengaruhi oleh beberapa faktor utama:
- Kepemimpinan Prabowo Subianto, yang sejak Pilpres 2014 dan 2019 menjadi magnet elektoral partai;
- Koalisi politik, khususnya bergabungnya Gerindra ke dalam pemerintahan Jokowi, yang membuka akses kekuasaan dan sumber daya;
- Jaringan politik dan militer Prabowo yang luas;
- Strategi komunikasi populis, terutama melalui media sosial;
- Kinerja sejumlah kader, seperti Sufmi Dasco Ahmad, yang cukup menonjol di parlemen dan pemerintahan.
Ujian Sesungguhnya: Kekuasaan
Ke depan, prospek Gerindra memang cerah, terutama dengan Prabowo sebagai Presiden. Namun, tantangan juga tidak kecil. Partai ini harus mampu menjaga keseimbangan antara menjadi partai penguasa dan tetap mempertahankan identitas politiknya.
Keterlibatan penuh dalam pemerintahan akan memperbesar sorotan publik, kritik, dan tuntutan akuntabilitas. Di sinilah ujian sejati dimulai: apakah kekuasaan akan melahirkan kematangan, atau justru menggerus idealisme.
Zaman keemasan sejatinya bukan diukur dari seberapa tinggi kekuasaan diraih, melainkan dari apa yang ditinggalkan kekuasaan itu bagi rakyat dan demokrasi.
Semoga.
(Penulis adalah Anggota Dewan Pakar DPN HKTI)

Oleh: Entang Sastraatmadja






















