Saitama, FusilatNews — Satu pasien leukemia meninggal dunia dan dua pasien lainnya berada dalam kondisi kritis setelah menerima suntikan kemoterapi di sebuah rumah sakit anak di dekat Tokyo, Jepang. Pihak rumah sakit mengungkapkan bahwa kemungkinan terjadi kesalahan dalam prosedur pemberian obat kanker.
Rumah sakit Saitama Prefectural Children’s Medical Center di Prefektur Saitama melaporkan kasus tersebut kepada kepolisian pada Selasa setelah menemukan adanya obat kanker yang seharusnya tidak digunakan dalam suntikan ke rongga sumsum tulang pada cairan tulang belakang pasien.
Ketiga pasien yang terdampak adalah laki-laki berusia di bawah 20 tahun, termasuk satu pasien yang masih berusia di bawah 10 tahun.
Menurut keterangan rumah sakit, ketiganya menerima suntikan kemoterapi antara Januari dan Oktober tahun lalu. Salah satu pasien meninggal dunia pada Februari tahun ini, sementara dua pasien lainnya—termasuk yang termuda—masih berada dalam kondisi kritis dan tidak sadarkan diri.
Obat yang ditemukan dalam cairan tulang belakang pasien adalah vincristin, obat kemoterapi yang umumnya digunakan melalui suntikan intravena. Obat tersebut tidak boleh diberikan melalui suntikan ke rongga sumsum tulang karena berisiko menyebabkan komplikasi neurologis serius.
Pihak rumah sakit menyatakan bahwa obat tersebut disimpan di ruang terkunci, namun belum dapat memastikan bagaimana obat itu bisa digunakan dalam prosedur yang tidak semestinya.
Rumah sakit juga tidak menutup kemungkinan adanya unsur tindak pidana dalam kasus ini. Kepolisian saat ini tengah melakukan penyelidikan untuk memastikan apakah terjadi kelalaian medis atau kesalahan prosedur dalam pemberian obat kepada pasien.
Kasus ini memicu kekhawatiran terkait standar keamanan dalam prosedur kemoterapi, khususnya bagi pasien anak yang menjalani perawatan kanker.
(Sumber: Kyodo News)
























