Jakarta-FusilatNews – Lonjakan kasus Campak kembali terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Penyakit yang disebabkan virus ini menunjukkan tren peningkatan signifikan sejak 2022, atau dua tahun setelah pandemi Covid-19 melanda, dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Fakta tersebut terungkap dalam investigasi jurnalis FusilatNews : Dalam laporannya, disebutkan bahwa gangguan layanan kesehatan selama pandemi menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya jumlah kasus.
Selama periode pembatasan sosial, akses terhadap layanan imunisasi rutin mengalami penurunan tajam. Banyak orang tua menunda atau bahkan melewatkan vaksinasi anak karena kekhawatiran tertular Covid-19 di fasilitas kesehatan. Dampaknya, cakupan imunisasi campak—yang seharusnya mencapai lebih dari 95 persen untuk menciptakan kekebalan kelompok—tidak terpenuhi.
Kementerian Kesehatan sebelumnya juga mencatat adanya peningkatan laporan kasus campak di berbagai daerah sejak 2022. Sejumlah wilayah bahkan sempat melaporkan kejadian luar biasa (KLB), menandakan penyebaran virus yang tidak lagi terkendali secara lokal.
Campak dikenal sebagai salah satu penyakit paling menular di dunia. Virusnya menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Dalam kondisi tanpa kekebalan, satu orang dapat menularkan virus kepada 9 hingga 10 orang lainnya. Gejala awal meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, hingga munculnya ruam di seluruh tubuh.
Namun, ancaman terbesar bukan hanya pada tingkat penularannya. Campak dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga radang otak (ensefalitis) yang berpotensi menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak dengan daya tahan tubuh lemah.
Para ahli kesehatan menilai, meningkatnya kasus campak saat ini merupakan “efek domino” dari pandemi. Tidak hanya karena terganggunya layanan kesehatan, tetapi juga akibat menurunnya kepercayaan sebagian masyarakat terhadap vaksinasi, yang diperparah oleh maraknya informasi keliru di ruang digital.
Pemerintah kini didorong untuk mempercepat pemulihan cakupan imunisasi melalui program kejar imunisasi, peningkatan edukasi publik, serta penguatan sistem surveilans penyakit. Tanpa langkah cepat dan terukur, tren kenaikan ini dikhawatirkan akan terus berlanjut dan mengancam generasi anak-anak Indonesia.
Kembalinya campak bukan sekadar persoalan kesehatan, melainkan cermin rapuhnya sistem perlindungan dasar masyarakat pascapandemi. Alarm sudah berbunyi—pertanyaannya, seberapa cepat respons diberikan sebelum wabah meluas lebih jauh.

























