Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024
Jakarta – Mulyono, dalam bahasa Jawa berasal dari kata “mulyo” yang berarti mulia. “No” menunjukkan jenis kelamin laki-laki. Sebaliknya, “Ni’ menunjukkan jenis kelamin perempuan. Contohnya Mulyani.
Namun ketika disandang sebagai nama orang, mengapa justru menimbulkan kesialan? Sial bagi diri sendiri, keluarga maupun orang lain. Lantas, ada apa dengan Mulyono (Mulyani)?
Kebetulan Indonesia pernah memiliki seorang presiden yang nama kecilnya adalah Mulyono, yakni Joko Widodo.
Bagi sebagian rakyat Indonesia, terutama Roy Suryo dan kawan-kawan, Jokowi yang bernama kecil Mulyono itu merupakan pembawa sial.
Gegara Jokowi, Roy Suryo dkk ditetapkan sebagai tersangka fitnah dan pencemaran nama baik terkait tuduhan dugaan ijazah palsu S1 dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta milik Jokowi.
Indonesia juga pernah punya Menteri Keuangan bernama Sri Mulyani Indrawati. Bahkan Menteri Keuangan untuk tiga Presden berturut-turut, mulai dari Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, hingga kini Prabowo Subianto meskipun tidak sampai akhir.
Bagi sebagian rakyat Indonesia, Sri Mulyani juga dianggap sebagai pembawa sial. Utang luar negeri Indonesia menggunung. Orang miskin bertebaran di mana-mana. Pengangguran merajalela. Pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di sana-sini. Namun Mulyani tak begitu peduli.
Kalau tidak dianggap sebagai pembawa sial, bagaimana mungkin rumah pribadi Sri Mulyani di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, sempat menjadi sasaran amuk massa?
Amuk massa memang tidak dibenarkan, baik secara hukum, moral, budaya, maupun agama. Sebab itu, mereka yang telah menjarah rumah Sri Mulyani pun kini sedang mempertanggungjawabkan perbuatan mereka secara hukum. Kita mendukung proses hukum tersebut.
Dalam tradisi Jawa, jika seorang anak yang menyandang nama tertentu sering mengalami sakit-sakitan, maka namanya harus diganti. Mungkin anak itu terlalu berat memikul beban nama tersebut.
Mulyono, misalnya. Mulyo berarti mulia. Mungkin nama ini tidak cocok disandang wong Solo itu, sehingga akhirnya diganti dengan Joko Widodo. Joko berarti anak laki-laki. Widodo berarti sehat, selamat, kuat atau sentosa.
Terbukti kemudian Jokowi menjadi sosok yang tumbuh sehat dan kuat. Kalau tidak kuat, bagaimana mungkin bisa menjadi Presiden, bahkan sampai dua periode?
Namun bagi sebagian wasyarakat, sekali lagi terutama Roy Suryo dkk, Jokowi alias Mulyono bukanlah sosok yang mulia. Kalau mulia, mengapa ia diserang dengan tuduhan ijazah palsu?
Alhasil, jabatan Presiden tidak identik dengan kemuliaan. Kuat? Mungkin. Tapi belum tentu mulia.
Selamat? Mungkin. Di dunia. Di akhirat belum tentu.
Mulyono Lain
Kini ada Mulyono lain yang juga membawa sial, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.
Diketahui, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Mulyono, Rabu (4/2/2026) kemarin.
KPK kemudian menetapkan Mulyono dan dua orang lainnya sebagai tersangka suap restitusi pajak. Suap yang diterima Mulyono dkk senilai Rp1,5 miliar, dan Mulyono mendapat bagian Rp800 juta, di mana Rp300 juta di antaranya ia gunakan untuk membayar uang muka pembelian rumah.
Mulyono bersama dua tersangka lainnya langsung ditahan. Kedua tersangka lainnya itu adalah Dian Jaya Demega selaku fiskus yang menjadi anggota tim pemeriksa dari KPP Madya Banjarmasin, dan Venasisus Jenarus Genggor alias Venzo (VNZ) selaku Manajer Keuangan PT Buana Karya Bhakti (BKB).
Saat ditangkap KPK, Mulyono tentu saja sedang sial. Tapi dia juga membawa kesialan bagi negara karena dengan suap itu ia memberikan potongan pajak yang tentu saja merugikan keuangan negara
William Shakespeare (1564-1616), pujangga terbesar Inggris pernah berkata, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.”
Artinya, “Apalah arti sebuah nama? Andaikata kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi.”
Terbukti kemudian, sebagian orang yang menyandang nama Mulyono ternyata tidak mulia. Tentu masih banyak Mulyono-Mulyono lain yang karakter atau kepribadian dan hidupnya mulia. Tidak banyak dihujat seperti Jokowi, dan disangka melakukan korupsi seperti Kepala KPP Madya Banjarmasin itu. Nah!

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024





















