Ruang ujian itu tidak hanya dipenuhi suara presentasi akademik. Ia juga dipenuhi getaran emosi yang sunyi namun kuat. Kamis, 26 Rajab 1447 Hijriah atau 15 Januari 2026 Masehi, menjadi hari yang tak akan dilupakan oleh Firdaus. Mahasiswa disabilitas netra dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Sastra Universitas Islam Makassar, akhirnya menutup perjalanan panjang studinya.
Ketika namanya dipanggil untuk memulai ujian tutup, ia melangkah dengan keyakinan yang dibangun dari bertahun-tahun ketekunan. Tidak mudah bagi Firdaus menempuh dunia akademik yang sebagian besar masih dirancang untuk mereka yang dapat melihat. Namun keterbatasan penglihatan tidak pernah berhasil memadamkan cahaya tekadnya. Ia bertahan. Ia beradaptasi. Ia terus berjalan.
Hari itu bukan hanya tentang Firdaus. Beberapa mahasiswa angkatan 2021 juga menyelesaikan studi mereka. Tetapi kisah Firdaus memiliki makna yang lebih dalam. Lima tahun perjalanan akademik dilalui dengan disiplin dan kesabaran yang luar biasa. Hasilnya nyata. Ia dinyatakan lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,80, sebuah capaian yang menempatkannya dalam kategori nilai A. Prestasi ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah batas bagi prestasi intelektual.
Saat ujian berlangsung, sebuah momen haru tak terelakkan. Ketika Firdaus mulai membaca judul presentasinya, suara yang biasanya tenang itu bergetar. Air mata menetes. Bukan karena ragu, tetapi karena ingatan tentang perjalanan panjang yang akhirnya sampai di titik akhir.
Ia teringat kedua orang tuanya yang tak pernah berhenti mendoakan. Ia teringat saudara-saudara yang menjadi sandaran. Ia teringat guru-guru dan relawan yang setia mendampinginya ketika ia membutuhkan bantuan.
“Saat saya membaca judul presentasi, saya terharu dan menangis mengingat kedua orang tua, saudara, guru-guru, dan relawan-relawan yang selalu siap saat saya membutuhkan bantuan. Terima kasih kepada semua pihak. Karena kalian, saya bisa berdiri sampai di titik ini,” ucapnya lirih, namun penuh makna.
Ucapan selamat pun mengalir dari para dosen. Dekan FKIPS UIM, Dr. Mulyadi, M.Pd., menyampaikan langsung pernyataan kelulusan Firdaus. Ia resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Sebuah gelar yang bukan sekadar huruf di belakang nama, tetapi simbol kemenangan atas keterbatasan.
Pihak fakultas memandang keberhasilan ini sebagai bukti bahwa pendidikan tinggi yang inklusif bukan sekadar slogan. Ia adalah komitmen untuk memberi ruang yang setara bagi semua mahasiswa, tanpa kecuali. Lingkungan akademik yang ramah disabilitas bukan hanya memungkinkan Firdaus bertahan, tetapi juga bertumbuh.
Wakil Dekan FKIPS, Dr. Supriadi, M.Pd., menilai capaian Firdaus lahir dari kerja keras dan kemauan yang teguh. Ia berharap kisah ini menjadi teladan bahwa kesuksesan tidak hanya milik mereka yang memiliki fasilitas lengkap, tetapi juga milik mereka yang berani berjuang lebih keras dari keadaan.
Sementara Ketua Program Studi PBSI, Erniati, M.Pd., mengenang Firdaus sebagai mahasiswa yang konsisten, tekun, dan bertanggung jawab. Baginya, Firdaus adalah inspirasi nyata bagi mahasiswa lain, terutama penyandang disabilitas, agar tidak ragu bermimpi tinggi dan menuntaskan pendidikan dengan percaya diri.
Hari itu, ruang ujian bukan hanya menjadi tempat penilaian akademik. Ia berubah menjadi panggung kecil bagi sebuah kemenangan besar. Air mata Firdaus bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa keteguhan hati selalu menemukan jalannya.
Dan ketika pintu ruang ujian itu tertutup, sebuah bab baru kehidupan terbuka. Firdaus tidak lagi hanya seorang mahasiswa. Ia kini seorang sarjana. Seorang bukti bahwa cahaya ilmu tidak pernah memerlukan mata untuk bisa bersinar.






















