Ada tuntunan dari Zumhur Ulama, bagamaimana cara mementukan Imam Sholat, ketika ditemui semua kandidat tidak memenuhi syarat ideal untuk menjadi Imam. “Maka pilihlah yang paling sedikit salahnya”. Begitu.
Makna dari fatwa itu adalah “betapa pentingnya posisi seorang imam/pemimpin”, bagi umat Islam.
Kita akan menghadapi Pilpres-2024. Sudah mafhum. Ada 3 Pasangan Calon. Sudah diberi nomor pula, sebagai ID–nya. Bagi umat Islam, yang hati nuraninya, masih diberi hidayah siasah, maka ghirah sentimental untuk berpegang teguh kepada fatsun agama itu menjadi panutan nuraninya. Tentu saja, ini juga fenomenal bagi umat-umat agama lain. Hal ini mudah bisa kita simulasikan, seperti ini; Bila masyarajat Bali dihadapkan kepada dua pilihan, untuk memilih Cagub Bali, yang satu adalah namanya I Gede Putu Agung dan Yang Satu Muhammad Syachroni. Tentu saja pilihannya, sudah dapat dipastikan adalah kepada IGP Agung.
Pilihan itu, tidak salah. Tidak perlu juga disebut sebagai pilihan identitas. Itu adalah sentiment subjektif, yang akan terjadi dan inherent ada setiap orang. Fenomena umum.
Maksud dari pesan yang saya tulis disini adalah, bila kelompok-kelopok Islam, ormas-ormaslah, majelis-majaleis ta’lim-lah, jama’ah 212-lah, dan lain-lain, pun tak akan bisa menghindari “suasana kebathinan” itu.
Pertimbangan–pertimbangan itulah, mengapa kemudian PDIP, menentukan Cawapresnya Jokowi dahulu jatuh piliahnnya kepada KH Ma’ruf Amin. Dan untuk untuk Pilpres 24 yang akan datang ditetapkan Mahfud MD.
Ini adalah, catatan saya, bahwa kedua figure itu, karena posisinya sebagai wakil, semata-mata sebagai alat politik. Alat untuk mengeruk dukungan dari kaum muslimin. Ia adalah siasah manipulative.
Sekarang kita punya pasangan, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar. Alhamdulillah. Kedua-duanya fasih dalam banyak hal dan terutama mahrajnya kebijakan perubahannya baik.
Tak ada alasan yang perlu dikemukakan, selain fardhu a’in, untuk mendukungnya; Aspek kebangsaannya, tidak ada yang perlu diragukan. Prestasi dalam pemerintahannya, terekam dengan telanjang. Didukung oleh intelektualitasnya dan keshalihannya, gerakan perubahan yang mereka akan kerjakan, adalah jawab terhadap berbagai masalah bangsa saat ini.
Rekomendasi kriteria kepemimpinan yang diharapkan menjadi panduan bagi umat Islam dalam memilih pemimpin dan Rekomendasi sikap dalam Pemilu 2024, dari keleompok Ijtima Ulama dan elemen lain, adalah penegasan verbal sebagai keputusan yang penting, untuk menyatukan gerak dan sikap umat.


























