Jakarta – Siapa sangka, seseorang yang memberi anaknya nama Pahlawan, kelak dia benar-benar menjadi pahlawan. Orang itu adalah Kolonel TNI (Purn) Soemardi, yang jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Kalibata, Jakarta Selatan, sebagai Pahlawan Nasional. Dan anak itu adalah H Budi Pahlawan, seorang pengusaha nasional yang kini berusia 74 tahun.
Budi diberi nama Pahlawan karena lahirnya di Hari Pahlawan Nasional, yakni tanggal 10 November.
Seperti ayahnya, Budi pun punya nasionalisme yang tinggi. Bedanya, kalau dulu sang ayah berjuang dengan memanggul senjata untuk berperang melawan penjajah, kini sang anak berjuang di bidang ekonomi dengan strategi bisnis yang nasionalis.
“Salah satu wujud nasionalisme dalam bidang ekonomi adalah mencintai produk dalam negeri,” kata Budi Pahlawan dalam perbincangan santai di kantornya di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (2/7/2026).
Sempat kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) Jakarta, namun menginjak tingkat ketiga, ibu dan kemudian bapaknya meninggal dunia hanya dalam tempo setahun. Kuliahnya pun terpaksa berhenti. Lalu banting setir bekerja sebagai karyawan demi adik-adiknya supaya bisa bersekolah.
Hanya 11 tahun menjadi karyawan, Budi kemudian merintis usaha sendiri dengan mendirikan Perseroan Terbatas (PT) bersama dua orang temannya.
Budi pun menekuni usaha lift dan tangga berjalan produksi dalam negeri dengan membangun pabrik lift di Tangerang, Banten. Sementara kantor pemasarannya di Jakarta, Palembang, Bandung, Semarang dan Surabaya.
Banyak gedung-gedung besar di Jakarta yang menggunakan lift produksi perusahaan Budi. Di antaranya gedung Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di Senayan, dan Gedung Granada di Semanggi, Jakarta Pusat, serta Rumah Sakit (RS) Pertamina di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan lain-lain.
Budi juga membuka cabang-cabang perusahaan di daerah-daerah. Budi juga berekspansi ke luar negeri, khususnya China, dengan membangun pabrik lift di negeri tirai bambu itu berpatungan dengan pengusaha setempat maupun dari Indonesia.
Namun Budi kurang beruntung di negeri Panda itu, sehingga saham miliknya yang hanya nol koma sekian persen ia jual saja.
Kini, semua usaha Budi sudah ia percayakan pengelolaannya kepada tiga anaknya yang masing-masing anak memegang perusahaan sendiri-sendiri. Harapannya, usaha-usaha tersebut dapat berekspansi menjadi lebih luas lagi.
“Semua sudah saya percayakan ke anak-anak. Saya cukup menjadi Komisaris saja,” jelas pria berbudi luhur yang punya prinsip “low profile, high profit” yang menaungi 300-an karyawan ini.
Menurut Budi, tidak mudah menekuni usaha lift di Indonesia karena serbuan produk sejenis dari luar negeri begitu banyaknya dengan harga yang sangat bersaing. “Bedanya, di luar negeri mereka mendapat dukungan penuh dari pemerintahnya, sementara di sini kita dibiarkan berjuang sendiri,” tukas pria kelahiran Kota Bandung, Jawa Barat, dan sempat bersekolah di SMPN 1 Kota Pekalongan, Jawa Tengah, ini.
Budi sempat bersekolah di Pekalongan karena keluarganya mengikuti tugas bapaknya sebagai Kepala Staf Kodim (Kasdim) Pekalongan saat itu.
“Tapi sampai pensiun dan kemudian meninggal dunia, Bapak tidak punya rumah pribadi,” cetusnya.
Mungkin ayahnya itu dapat disejajarkan dengan Hoegeng, Kapolri kelahiran Pekalongan yang sampai akhir hayatnya juga tidak punya rumah pribadi itu.
Budi adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara, di mana kedua kakaknya adalah perempuan, dan empat adiknya adalah laki-laki. Akan tetapi, tak satu pun dari ketujuh bersaudara ini mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang prajurit TNI, yang terakhir bertugas di Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad) Jakarta. Mengapa?
“Karena bapak waktu itu sering pergi berperang. Kalau pulang berewokan, anak-anaknya takut kalau mau digendong. Karena itulah kami tidak ada yang menjadi tentara, karena kalau mau sekadar bertemu keluarga saja sudah susah,” paparnya.
Selain menjadi pengusaha, Budi juga menjadi seorang pengajar untuk sekadar menyalurkan hobinya. “Bahkan kalau ada mahasiswa UI yang skripsinya soal lift, saya diminta menjadi salah seorang pengujinya,” aku Budi, yang hobi bersekolah sehingga selepas drop out dari UI ia melanjutkan ke perguruan tinggi swasta, baik untuk S1 yang punya dua gelar, dan S2 yang juga punya dua gelar, dan kini sedang mengambil program S3.
Budi Pahlawan menikah dengan Hj Sri Djarwati dan dikaruniai tiga anak, yakni dua laki-laki dan satu perempuan. Istrinya adalah pensiunan pegawai Bank Mandiri yang merupakan merger dari tiga bank plat merah, di mana istrinya berasal dari Bank Dagang Negara (BDN).
“Sebab itulah waktu itu saya mantap membuka usaha sendiri. Karena kalau gagal, istriku juga bekerja, sehingga urusan makan sudah aman,” tutur pria yang nada bicaranya selalu antusias ini.
“Saya suka sekolah karena saya suka ilmu. Saya juga suka berbagi ilmu. Karena ada tiga amal jariyah atau amal yang tak pernah putus pahalanya, yakni amal saleh, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh/salehah,” ucapnya.
Kegiatan Sosial
Budi Pahlawan sempat terjun ke dunia politik dengan menjadi bendahara umum sebuah partai politik Islam. Tapi setelah terjun ke dalam, Budi mulai menyadari bahwa politik ternyata bukan habitatnya, sehingga ia pun menolak dicalonkan menjadi wakil rakyat.
Kendati demikian, Budi aktif dalam kegiatan sosial dan usaha. Di dunia usaha, ia aktif di Asosiasi Lift Seluruh Indonesia atau APPLE, bahkan sempat menjadi Ketua Umum dua periode dan kini menjadi Penasihat, dan kini dilanjutkan putra-putrinya.
Di ranah sosial, Budi aktif menjadi pengurus Ikatan Orang Tua Angkat (IOTA) yang rutin melakukan tukar-menukar pemuda dan pemudi Indonesia dengan negara-negara ASEAN plus Jepang.
Mimpi Budi ke depan adalah Indonesia yang mandiri di bidang ekonomi dengan memproduksi barang-barang sendiri yang kandungan lokalnya cukup banyak. “Kalau sudah begitu, baru kita bisa bangga sebagai bangsa Indonesia,” tandasnya.

















