• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Bisnis

Meramal Nasib Koperasi Merah Putih

Ali Syarief by Ali Syarief
July 3, 2026
in Bisnis, Economy, Feature
0
Meramal Nasib Koperasi Merah Putih
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ali Syarief

Meramal masa depan sebuah program pemerintah memang selalu mengandung risiko. Terlalu cepat memuji bisa berujung pada kekecewaan. Terlalu dini mencibir juga bisa terbukti keliru. Namun, ada satu cara sederhana untuk memperkirakan peluang keberhasilan sebuah kebijakan: melihat rekam jejaknya.

Dalam ilmu investasi, dikenal ungkapan bahwa past performance is not a guarantee of future results. Kinerja masa lalu bukan jaminan masa depan. Benar. Tetapi, kinerja masa lalu tetap merupakan petunjuk paling rasional dibanding sekadar optimisme.

Dengan ukuran sesederhana itu, muncul pertanyaan yang layak diajukan kepada program Koperasi Merah Putih: apakah peluangnya lebih besar untuk berhasil atau justru mengulang kegagalan yang sudah berkali-kali terjadi?

Jawabannya mungkin tidak menyenangkan.

Selama puluhan tahun, negara Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam mengelola usaha. Bentuknya beragam, mulai dari perusahaan umum, persero, hingga berbagai badan usaha milik negara (BUMN). Hampir seluruh sektor pernah dimasuki: perbankan, energi, konstruksi, transportasi, pangan, farmasi, perkebunan, telekomunikasi, hingga pariwisata.

Negara tidak pernah kekurangan modal untuk mendukung mereka. Penyertaan modal negara (PMN) terus mengalir. Berbagai fasilitas diberikan. Akses kredit dipermudah. Regulasi dibuat menguntungkan. Bahkan tidak sedikit yang menikmati posisi monopoli atau setidaknya pasar yang dilindungi dari kompetisi.

Kalau masih kurang, negara juga sering menjadi penyelamat ketika perusahaan-perusahaan itu mengalami kesulitan. Restrukturisasi dilakukan. Utang dijamin. Modal ditambah lagi.

Dengan segala keistimewaan itu, seharusnya perusahaan-perusahaan milik negara menjadi mesin keuntungan sekaligus penggerak ekonomi nasional.

Realitasnya tidak sesederhana itu.

Memang ada sejumlah BUMN yang mampu mencetak laba dan menjadi pemain penting di sektornya. Namun, jumlahnya relatif sedikit dibandingkan dengan keseluruhan ekosistem perusahaan negara. Tidak sedikit pula yang hidup dari suntikan modal, penugasan pemerintah, restrukturisasi utang, atau penyelamatan berkala. Sebagian bahkan menjadi beban fiskal selama bertahun-tahun.

Persoalannya bukan semata-mata soal untung atau rugi.

Masalah yang lebih mendasar adalah insentif.

Dalam perusahaan swasta, laba menjadi ukuran utama keberhasilan. Jika perusahaan terus-menerus mengalami kerugian, pemilik modal akan menghentikan investasi atau mengganti manajemen. Risiko ditanggung langsung oleh pemilik.

Dalam perusahaan negara, mekanismenya berbeda. Ketika mengalami kerugian, masih tersedia kemungkinan tambahan modal dari APBN. Akibatnya, disiplin pasar sering kali menjadi longgar. Risiko tidak sepenuhnya ditanggung oleh pengambil keputusan, melainkan oleh negara—dan pada akhirnya oleh masyarakat pembayar pajak.

Fenomena ini dikenal dalam ekonomi sebagai soft budget constraint. Ketika organisasi yakin akan selalu diselamatkan jika gagal, dorongan untuk bekerja secara efisien cenderung melemah.

Di sinilah letak kekhawatiran terhadap Koperasi Merah Putih.

Secara filosofis, koperasi merupakan gagasan yang mulia. Ia dibangun atas asas gotong royong, kepemilikan bersama, dan partisipasi anggota. Banyak koperasi di berbagai negara justru berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang tangguh karena lahir dari kebutuhan riil masyarakat, tumbuh secara organik, dan dikelola secara profesional.

Namun sejarah juga menunjukkan bahwa koperasi yang dibentuk dari atas, didorong oleh instruksi birokrasi, atau terlalu bergantung pada dana pemerintah sering kali kehilangan ruhnya sebagai gerakan anggota. Ia berubah menjadi proyek administrasi.

Ketika koperasi lebih sibuk memenuhi target pembentukan daripada membangun kualitas tata kelola, maka yang lahir bukan institusi ekonomi yang sehat, melainkan sekadar papan nama.

Apalagi jika sejak awal memperoleh modal besar tanpa proses pembelajaran bisnis yang memadai.

Modal memang penting. Tetapi modal bukan pengganti kompetensi.

Tidak sedikit usaha kecil yang tumbuh menjadi perusahaan besar justru karena dipaksa bertahan menghadapi kerasnya persaingan. Mereka belajar membaca pasar, menghitung risiko, menjaga arus kas, dan memahami kebutuhan konsumen.

Sebaliknya, organisasi yang sejak lahir dibanjiri fasilitas sering kali tidak pernah benar-benar belajar menghadapi kenyataan pasar.

Karena itu, ukuran keberhasilan Koperasi Merah Putih bukanlah berapa ribu koperasi berhasil dibentuk, bukan pula berapa triliun rupiah berhasil disalurkan.

Ukuran sesungguhnya jauh lebih sederhana.

Berapa koperasi yang masih hidup lima tahun lagi?

Berapa yang mampu bertahan tanpa subsidi?

Berapa yang benar-benar menghasilkan keuntungan bagi anggotanya?

Berapa yang dapat membayar seluruh biaya operasionalnya dari hasil usaha sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kelak akan memberikan jawaban paling jujur.

Optimisme tentu diperlukan. Tetapi optimisme yang sehat selalu disertai kesediaan belajar dari pengalaman. Sejarah ekonomi Indonesia telah memberikan pelajaran mahal bahwa tidak semua usaha yang dimiliki negara otomatis berhasil, meskipun memperoleh modal besar, perlakuan istimewa, bahkan perlindungan monopoli.

Karena itu, sebelum menaruh harapan terlalu tinggi kepada Koperasi Merah Putih, mungkin lebih bijak jika pemerintah terlebih dahulu menjawab satu pertanyaan sederhana: mengapa begitu banyak usaha yang dikelola negara belum mampu menjadi contoh keberhasilan yang berkelanjutan?

Sebab jika akar persoalan tata kelola tidak berubah, maka mengganti nama program atau membentuk lembaga baru hanya akan menghasilkan cerita lama dengan judul yang berbeda.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Segelintir Orang Makin Kaya Indonesia

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Segelintir Orang Makin Kaya Indonesia
Feature

Segelintir Orang Makin Kaya Indonesia

July 3, 2026
Mengapa Pendidikan Karakter Penting untuk Mencegah Pelecehan Seksual Nonverbal?
Feature

Mengapa Pendidikan Karakter Penting untuk Mencegah Pelecehan Seksual Nonverbal?

July 3, 2026
Sarjana Menganggur:  Ijazah Kehilangan Nilai Tukarnya
Economy

Sarjana Menganggur: Ijazah Kehilangan Nilai Tukarnya

July 2, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW Tuding Pemerintah Tidak Serius, Hanya  Seolah – olah Dalam Menindak Pelaku Judi Online
Birokrasi

Hari Bhayangkara ke-80, Ini Catatan IPW

by Karyudi Sutajah Putra
July 2, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-- Peringatan Hari Bhayangkara atau Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Polri saat ini ditandai dengan hadiah manis bagi...

Read more
Robohnya Benteng Moral Kami

Robohnya Benteng Moral Kami

July 1, 2026
Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

July 1, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Meramal Nasib Koperasi Merah Putih

Meramal Nasib Koperasi Merah Putih

July 3, 2026
Segelintir Orang Makin Kaya Indonesia

Segelintir Orang Makin Kaya Indonesia

July 3, 2026
Mengapa Pendidikan Karakter Penting untuk Mencegah Pelecehan Seksual Nonverbal?

Mengapa Pendidikan Karakter Penting untuk Mencegah Pelecehan Seksual Nonverbal?

July 3, 2026
Bukan Kemenkes, Mestinya Kemhan Gandeng Polri dan Komnas HAM Usut Kematian Lima Peserta Latsarmil Calon Manajer KMP

Bukan Kemenkes, Mestinya Kemhan Gandeng Polri dan Komnas HAM Usut Kematian Lima Peserta Latsarmil Calon Manajer KMP

July 2, 2026
Sarjana Menganggur:  Ijazah Kehilangan Nilai Tukarnya

Sarjana Menganggur: Ijazah Kehilangan Nilai Tukarnya

July 2, 2026
Bertanya, Mencurigai, dan Menduga Ijazah Palsu – Bukan Tindak Pidana

Bertanya, Mencurigai, dan Menduga Ijazah Palsu – Bukan Tindak Pidana

July 2, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Meramal Nasib Koperasi Merah Putih

Meramal Nasib Koperasi Merah Putih

July 3, 2026
Segelintir Orang Makin Kaya Indonesia

Segelintir Orang Makin Kaya Indonesia

July 3, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...