Menurut Alfons, keterbukaan informasi untuk setiap insiden siber akan mendewasakan. Setiap orang bisa belajar di mana letak masalahnya dan apa yang bisa dipelajari dari insiden yang terjadi.
Jakarta – Fusilatnews – Membandingkan praktek keamanan siber ( cyber security ) antara institusi perjudian dengan otoritas keuangan. darimana orang ingin belajar keamanan siber, dari institusi perjudian atau otoritas keuangan, mayoritas akan menjawab dari otoritas keuangan.
Sebagai contoh dua group penguasa jaringan kasino terbesar di Amerika, yakni MGM Resorts dan Caesars Palace yang menjadi korban serangan ransomware.
Dinukil dari laman Forbes, peretas telah meminta uang tebusan sebesar US$ 30 juta dari Caesars. Caesars setuju untuk membayar, namun tidak mengungkapkan jumlah pasti yang dibayarkan.
Sebaliknya, MGM menolak untuk memberi uang tebusan pada peretas. konsekuensinya adalah disrupsi dan kerugian sangat besar pada operasional perusahaan itu.
“Lain lagi yang terjadi pada salah satu bank pemerintah di Indonesia yang mengalami serangan ransomware dan layanannya kepada nasabah terhenti berhari-hari, namun tetap menyangkal menjadi korban ransomware,” beber Alfons.
Padahal menurut Alfons, bukti yang terpapar terang benderang di mana data bank itu disebarkan oleh pembuat ransomware. Selain itu, bisnis perusahaan juga terdampak atas terganggunya operasional bank selama berhari-hari.
Meski beredar informasi otoritas itu mengalami serangan ransomware, namun otoritas tersebut menyangkal. Meski begitu, fakta bahwa situs otoritas sempat tidak berfungsi dan layanan pengaduan konsumen online belum berfungsi menimbulkan pertanyaan besar.
Menurut Alfons, keterbukaan informasi untuk setiap insiden siber akan mendewasakan. Setiap orang bisa belajar di mana letak masalahnya dan apa yang bisa dipelajari dari insiden yang terjadi.




















