Anwar Husen
Pemerhati Sosial / Pengagum Timnas Belanda
Dalam sebuah tulisan bernada ringan tentang Timnas Maroko pada Piala Dunia 2026, saya pernah menulis:
“Saya pengagum Timnas Belanda sejak lama. Bahkan mungkin hingga perhelatan Piala Dunia ini bubar. Tetapi belum sekalipun saya menulis tentang profil mereka. Kiprah Timnas Maroko dan Jepang di Piala Dunia 2022 di Qatar justru yang terpilih untuk ditulis. Cukuplah ini menjadi penanda bahwa mengagumi dan menulis adalah dua hal yang bisa berbeda. Sedikit mirip bait lagu: tak selamanya cinta harus memiliki.”
Mengagumi dan mendukung sebuah tim nasional bukan semata soal kemenangan atau jumlah trofi yang berhasil diraih. Kita juga tidak mungkin berpindah kewarganegaraan hanya karena jatuh hati pada sebuah tim sepak bola. Selalu ada pesan, pelajaran, dan nilai yang lebih besar dari sekadar hasil akhir pertandingan.
Bagi saya, perjalanan Timnas Belanda di setiap edisi Piala Dunia selalu menghadirkan sensasi baru yang memantik kekaguman. Mereka bukan hanya bermain untuk menang, tetapi juga menghadirkan cara yang berbeda dalam meraih kemenangan. Cara yang sering kali meninggalkan jejak sejarah dan kenangan yang sulit dilupakan.
Juara Hanyalah Gelar
Gelar juara dapat diraih dengan berbagai cara. Namun Belanda hampir selalu menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar hasil akhir. Dalam setiap turnamen besar, mereka menyuguhkan momen-momen yang bernilai artistik, unik, bahkan sensasional.
Momen-momen itulah yang kemudian hidup abadi dalam rekaman sejarah dan jejak digital. Setiap kali Piala Dunia digelar, memori itu kembali muncul dan mengingatkan dunia bahwa Belanda selalu memiliki cerita yang berbeda.
Mari mulai dari Piala Dunia 2014.
Gol Terbang Van Persie yang Melegenda
Pada fase grup Piala Dunia 2014, Belanda berhadapan dengan juara bertahan, Spanyol. Pertandingan diawali kontroversi ketika wasit Nicola Rizzoli memberikan penalti kepada Spanyol setelah Diego Costa terjatuh di kotak terlarang akibat kontak dengan Stefan de Vrij.
Banyak pengamat menilai Costa terlalu mudah jatuh. Namun keputusan tetap berlaku dan Xabi Alonso sukses mengeksekusi penalti tersebut.
Alih-alih goyah, Belanda justru mengamuk.
Mereka mengendalikan permainan seolah sedang memberikan pelajaran tentang bagaimana sepak bola modern dimainkan. Lima gol bersarang ke gawang Spanyol. Bukan lima gol biasa, melainkan lima gol yang penuh kualitas dan estetika.
Yang paling dikenang tentu gol “terbang” Robin van Persie. Sebuah sundulan spektakuler dari luar kotak penalti yang melayang melewati Iker Casillas, salah satu penjaga gawang terbaik dunia saat itu. Gol tersebut menjadi salah satu gol paling ikonik dalam sejarah Piala Dunia.
Belum lagi aksi Arjen Robben yang berkali-kali mengoyak pertahanan Spanyol dengan kecepatan dan kelincahannya.
Secara historis, Spanyol memang pernah mengalami kekalahan yang lebih telak. Namun dalam era sepak bola modern dan panggung sebesar Piala Dunia, kekalahan 1-5 dari Belanda menjadi salah satu luka paling membekas dalam sejarah mereka.
“Penipuan” Paling Bersejarah
Piala Dunia 2022 di Qatar mungkin menjadi milik Argentina. Namun Belanda meninggalkan satu momen yang layak dikenang sepanjang masa.
Pada perempat final melawan Argentina, saat pertandingan memasuki masa injury time dan harapan tampak hampir habis, Belanda menampilkan salah satu skema tendangan bebas paling cerdik dalam sejarah turnamen.
Alih-alih menembak langsung ke gawang, Teun Koopmeiners mengirim bola datar ke Wout Weghorst yang berdiri di dalam kotak penalti. Weghorst lalu memutar badan dan melepaskan tembakan yang mengubah skor menjadi 2-2.
Argentina, termasuk Emiliano Martínez yang dikenal sebagai salah satu kiper terbaik dunia, benar-benar terkecoh.
Boleh disebut sebagai “penipuan” yang sangat sopan. Tidak melanggar aturan, tetapi berhasil memperdaya lawan dengan kecerdasan tingkat tinggi. Sebuah momen yang akan terus diputar dan dibahas dalam sejarah sepak bola dunia.
Rekor yang Meneror
Menjelang Piala Dunia 2026, Jepang datang dengan reputasi yang mengesankan. Dalam berbagai laga persahabatan, mereka mampu mengalahkan tim-tim besar dan menunjukkan perkembangan yang luar biasa.
Jepang pernah mempermalukan Jerman 4-1 di Wolfsburg pada 2023. Mereka juga membangun reputasi sebagai tim yang disiplin, cepat, dan sangat sulit dikalahkan.
Karena itu, laga pembuka Belanda melawan Jepang menjadi salah satu pertandingan yang menarik perhatian banyak pengamat.
Rekor Teror yang Patah
Belanda memasuki Piala Dunia 2026 dengan rasa percaya diri tinggi. Di bawah arahan Ronald Koeman, skuad Oranje dihuni perpaduan pemain senior dan generasi muda berbakat.
Nama-nama seperti Virgil van Dijk dan Memphis Depay menjadi tulang punggung pengalaman. Sementara Cody Gakpo, Brian Brobbey, dan sejumlah talenta muda lainnya memberikan energi baru.
Dalam laga melawan Jepang pagi tadi, Belanda tampil dominan dengan penguasaan bola mencapai sekitar 60 persen. Mereka mengendalikan ritme pertandingan dan membuat catatan impresif Jepang di laga-laga sebelumnya nyaris tidak terlihat.
Virgil van Dijk membuka keunggulan melalui sundulan akurat pada awal babak kedua. Jepang sempat menyamakan kedudukan melalui Keito Nakamura. Namun Belanda kembali menunjukkan kualitasnya hingga pertandingan berakhir dengan skor 2-2.
Sensasi Itu Masih Ada
Di luar hasil imbang tersebut, ada satu hal yang kembali mengingatkan saya mengapa Belanda selalu menarik untuk ditonton.
Mereka selalu menemukan cara menghadirkan kejutan.
Pagi tadi, dua gol Belanda lahir dengan tingkat presisi yang luar biasa. Bola sama-sama memantul tiang gawang sebelum masuk. Satu melalui sisi kiri, satu lagi melalui sisi kanan.
Bagi sebagian orang mungkin itu sekadar gol. Tetapi bagi penikmat sepak bola, itu adalah gambaran tentang ketelitian, kecermatan, dan seni dalam permainan.
Gol-gol itu seperti mewakili karakter Belanda sendiri: sederhana, efektif, namun dieksekusi dengan tingkat akurasi yang nyaris sempurna.
Karena itulah, setiap kali Piala Dunia datang, selalu ada alasan untuk menunggu Belanda bermain.
Mereka mungkin tidak selalu menjadi juara.
Tetapi mereka hampir selalu menghadirkan sesuatu yang berbeda.
Dan Belanda, seperti biasa, selalu saja berbeda.
Wallahu a’lam.

Anwar Husen


















