Di sebuah negeri yang terkenal dengan sakura, samurai, dan Shinkansen yang melesat bagai peluru waktu, ada sebuah berita sederhana, nyaris remeh, yang menjadi tajuk penting media nasional. Seorang pemuda menendang pacarnya gara-gara si pacar minta memeriksa isi ponselnya. Lalu, tetangga mendengar jeritan. Polisi datang. Sang pemuda ditangkap. Selesai.
Kalau dibaca sambil mengunyah gorengan di pinggir jalan, berita ini barangkali akan membuat kita tergelak sambil nyeletuk, “Ya ampun, segitu doang masuk berita internasional?” Tapi di sinilah kita perlu menaruh jari telunjuk di dagu, menimbang-nimbang: mengapa berita seperti ini penting bagi Jepang?
Karena justru di situlah letak keanehan sekaligus keindahan negeri itu. Sebuah insiden domestik yang di sini bisa saja dianggap urusan dapur orang lain, atau bahkan tidak masuk kolom 100 teratas berita daring, di Jepang justru menjadi sorotan. Diberitakan. Diberi tempat. Dibahas. Seolah dunia sedang runtuh karena satu tendangan kecil yang tak menimbulkan luka serius.
Namun, di balik itu, berita ini punya tafsir lain: Jepang adalah negeri yang sudah begitu aman, sampai-sampai hal sekecil ini saja bisa mengguncang kesadaran hukum masyarakatnya.
Bandingkan dengan negeri kita, Nusantara tercinta. Di sini, bukan sekadar pacar menendang pacarnya, tapi negara—melalui aparatnya—bisa menendang logika rakyat berkali-kali: korupsi dana bantuan, penyitaan uang triliunan, penghilangan barang bukti, rekayasa hukum, tapi semua dianggap biasa saja. Media memberitakan, lalu esoknya lenyap, tenggelam di lautan berita politik yang lebih dramatis tapi tetap nihil akuntabilitas.
Kita sudah biasa membaca berita tentang pejabat mencuri uang rakyat. Kita sudah biasa mendengar jaksa yang ‘menyimpan’ uang Rp 300 miliar di rumah. Sudah biasa menyaksikan aparat tersenyum dalam konferensi pers kasus besar, lalu diam-diam tersulap hilang dalam rotasi jabatan. Dan semua ini terjadi di bawah langit yang sama, yang terus terang sudah terlalu sabar menaungi kebobrokan kita.
Di Jepang, seorang pria menendang pacarnya: ditangkap, diperiksa, dan diberitakan. Di Indonesia, seorang pejabat menendang hak rakyat: diberi panggung, diberi jabatan, bahkan kadang diberi tiket pilkada.
Jadi, sesungguhnya bukan soal siapa yang menendang siapa. Tapi siapa yang dianggap penting untuk disorot. Di Jepang, hukum berdiri di sisi korban, betapapun kecilnya luka. Di sini, hukum sering kali berdiri di sisi kekuasaan, betapapun besar kerugiannya bagi rakyat.
Maka jika Anda ingin tahu seberapa sehat sebuah bangsa, jangan hanya lihat megaproyek dan gedung pencakar langitnya. Lihatlah berita-berita kecilnya. Karena di situlah nurani sebuah negara bersembunyi.
Dan kita, barangkali, sedang kehabisan nurani untuk memberitakan hal kecil. Karena yang kecil dianggap sepele, dan yang besar sudah membuat kita mati rasa.
Salam hormat untuk tetangga Jepang yang masih peduli dengan suara perempuan berteriak.
























