Jakarta, Fusilatnews.com – Gempa bumi, Senin (21/11) bermagnitudo 5,6 mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Gempa Cianjur yang terjadi sekitar pukul 13.21 WIB ini berpusat pada koordinat 6.84 Lintang Selatan (LS), 107.05 Bujur Timur (BT) atau tepatnya di darat wilayah Sukalarang, Sukabumi pada kedalaman 11 kilometer.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengungkapkan, gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami. Catatan BMKG per pukul 14.00 WIB, sudah ada 15 aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock dengan magnitudo terbesar 4,0.
Dia memaparkan, gempa Cianjur merupakan jenis gempa bumi dangkal yang diduga akibat aktivitas sesar Cimandiri. Hal tersebut berdasarkan analisis dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya. “Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan geser (strike-slip),” paparnya dikutip dari Kompas.com, Senin (21/11).
Lantas, apa itu sesar Cimandiri? Dilansir dari geologi.co.id, sesar Cimandiri adalah sesar atau patahan geser aktif sepanjang kurang lebih 100 km. Sesar ini memanjang dari muara Sungai Cimandiri di Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, lalu mengarah ke timur laut melewati Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang.
Sesar Cimandiri terbagi menjadi lima segmen, yaitu: Cimandiri Pelabuhan Ratu-Citarik, Citarik-Cadasmalang-Ciceureum-Cirampo, Cirampo-Pangleseran, Pangleseran-Gandasoli. Namun, ada pula yang membagi sesar Cimandiri menjadi empat segmen, antara lain: Pelabuhan Ratu dan Cibuntu Padabeunghar Cikundul dan Baros Sukaraja. Pembagian empat segmen ini berdasarkan karakteristik morfologi yang diamati secara langsung di lapangan.
Selain gempa Cianjur, Senin (21/11), sesar Cimandiri beberapa kali sempat memicu gempa besar. Setidaknya ada tujuh gempa besar dalam abad ini yang diakibatkan sesar Cimandiri. Gempa itu antara lain gempa bumi Pelabuhan Ratu (1900), gempa bumi Cibadak (1973), gempa bumi Gandasoli (1982), gempa bumi Padalarang (1910), gempa bumi Tanjungsari (1972), gempa bumi Conggeang (1948), dan gempa bumi Sukabumi (2001).
Daryono menerangkan, gempa bumi ini dirasakan di Kota Cianjur dengan skala intensitas V hingga VI MMI. Artinya, di daerah tersebut getaran dirasakan oleh semua penduduk yang menyebabkan penduduk berlarian keluar. Gempa juga dirasakan di Garut dan Sukabumi dengan skala intensitas IV sampai V MMI.
Sementara di Cimahi, Lembang, Kota Bandung, Cikalong Wetan, Rangkasbitung, Bogor, dan Bayah, skala intensitas III MMI. Gempa juga terasa hingga Rancaekek, Tangerang Selatan, Jakarta dan Depok dengan skala intensitas II sampai III MMI. “Hingga saat ini sudah ada laporan kerusakan bangunan seperti rumah dan toko juga dampak longsor di wilayah Cianjur yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut,” kata Daryono.
Di sisi lain, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Kapusdatin) BNPB, Abdul Muhari mengatakan, pihaknya masih mendata kerusakan yang terjadi. “Pendataan pasti masih berjalan,” ujar dia, Senin (21/11).
Namun demikian, dari beberapa foto yang diterima, tampak sejumlah bangunan rusak termasuk kantor pemerintahan.
Lebih lanjut, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu tidak benar. Daryono juga mengimbau agar menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa. “Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal Anda cukup tahan gempa, atau pun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum Anda kembali ke dalam rumah,” ujar Daryono. (F-2)






















