WASHINGTON-Fusilatnews – Pemerintah Amerika Serikat mengakui menghadapi kesulitan besar dalam menghadapi serangan drone Iran di tengah konflik yang terus memanas di Timur Tengah. Militer AS menyatakan tidak semua drone yang diluncurkan Iran dapat dicegat oleh sistem pertahanan udara mereka.
Pengakuan tersebut disampaikan dalam pengarahan tertutup kepada anggota Kongres AS. Dalam pertemuan itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine menjelaskan bahwa drone Iran menjadi tantangan yang jauh lebih serius dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Menurut mereka, sistem pertahanan udara Amerika memang mampu menembak jatuh sebagian besar drone yang datang, tetapi tidak dapat menjamin semua serangan berhasil dicegah.
Drone Iran Sulit Dicegat
Militer AS menilai drone jenis “kamikaze” buatan Iran, seperti Shahed, memiliki karakteristik yang membuatnya sulit ditangkal. Drone tersebut terbang rendah dan relatif lambat sehingga lebih sulit terdeteksi oleh radar dibandingkan dengan rudal balistik.
Selain itu, Iran juga menggunakan strategi serangan dalam jumlah besar untuk membanjiri sistem pertahanan udara. Dengan meluncurkan ribuan drone murah secara bersamaan, Iran berupaya memaksa AS menghabiskan amunisi pencegat yang jauh lebih mahal.
Serangan Drone Meluas di Timur Tengah
Serangan drone Iran tidak hanya menyasar target militer AS. Sejumlah negara di kawasan Timur Tengah juga menjadi sasaran serangan sejak konflik meletus pada akhir Februari 2026.
Di Kuwait, misalnya, ratusan drone dan rudal dilaporkan diluncurkan Iran sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan sekutunya. Otoritas Kuwait menyatakan sebagian besar berhasil dicegat, tetapi beberapa di antaranya tetap mencapai target.
Di Uni Emirat Arab, data menunjukkan ratusan drone diluncurkan Iran dan sebagian berhasil menembus pertahanan udara meskipun mayoritas berhasil dihancurkan.
Konflik yang semakin meluas ini juga mendorong Amerika Serikat untuk meminta bantuan negara lain yang memiliki pengalaman menghadapi drone Iran. Ukraina, misalnya, menyatakan siap membantu Washington dengan teknologi dan keahlian yang mereka kembangkan dalam menghadapi drone Shahed selama perang melawan Rusia.
Fokus Hancurkan Lokasi Peluncuran
Karena tidak semua drone dapat dicegat di udara, militer AS kini menitikberatkan strategi pada penghancuran lokasi peluncuran drone di wilayah Iran atau daerah yang dikuasai sekutunya. Langkah ini dinilai lebih efektif untuk mengurangi intensitas serangan.
Para pejabat pertahanan AS juga menegaskan bahwa meskipun menghadapi tantangan besar, kemampuan pertahanan udara Amerika dan sekutunya masih mampu menahan sebagian besar serangan yang diluncurkan Iran.
Namun demikian, pengakuan bahwa tidak semua drone dapat dicegat menunjukkan perubahan besar dalam dinamika perang modern, di mana drone murah dan sederhana mampu menguji bahkan sistem pertahanan udara paling canggih di dunia.
























