TOKYO, badan antariksa Jepang mengatakan bahwa pihaknya telah menyerah untuk mendaratkan pesawat luar angkasa ultra-kecil negara itu di Bulan, setelah komunikasi dengan pendarat gagal stabil setelah peluncurannya minggu lalu.
Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang mengatakan pendarat Omotenashi tidak dapat menerima transmisi dari Bumi untuk memperbaiki lintasan dan posisinya, karena sel surya terus membelakangi matahari. Upaya untuk memperbaiki posisi dan orbitnya juga tidak berhasil, kata badan tersebut.
Tatsuaki Hashimoto, seorang profesor di JAXA, menyebut pengembangan itu sebagai “kegagalan setelah kegagalan” pada konferensi pers menyusul keputusan untuk membatalkan pendaratan di Bulan.
Biaya pengembangan untuk penyelidikan itu 800 juta yen, katanya.
JAXA berharap pendarat berbentuk kotak, berukuran panjang 11 sentimeter, lebar 24 cm, dan tinggi 37 cm serta berat 12,6 kilogram, akan menjadi wahana pertama negara itu yang mendarat di permukaan Bulan.
Omotenashi, disebut-sebut sebagai pendarat bulan terkecil di dunia, diluncurkan Rabu dari Pusat Antariksa Kennedy milik Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional di Florida dengan Sistem Peluncuran Antariksa megaroket AS.
Setelah peluncuran, pendarat berhasil dipisahkan dari roket dan mulai melakukan perjalanan menuju Bulan.
Tetapi sel suryanya gagal berfungsi karena tubuhnya berotasi menjauhi matahari setiap empat hingga lima detik sekali, yang berarti delapan kali lebih cepat dari batas yang diasumsikan.
Menunggu sampai sel surya pulih pada hari Selasa atau lebih baru berarti kehilangan kesempatan untuk memasuki orbit bulan dan mendarat di bulan, kata badan tersebut.
© KYODO






















