• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Baliho Terima Kasih Jokowi: Simbol Kesalahan Sistem atau Kebutuhan Akan Pengakuan?

Ali Syarief by Ali Syarief
October 18, 2024
in Feature, Politik
0
Baliho Terima Kasih Jokowi: Simbol Kesalahan Sistem atau Kebutuhan Akan Pengakuan?
Share on FacebookShare on Twitter

Pernyataan Damai Hari Lubis, seorang pegiat dan aktivis Mujahid 212, terkait keberadaan baliho “Terima Kasih Jokowi” yang bertebaran di berbagai sudut kota, memberikan pandangan kritis terhadap dinamika kekuasaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama satu dekade masa pemerintahannya. Lubis menyoroti lima poin yang menurutnya mencerminkan fenomena di balik baliho-baliho tersebut, yakni megalomania, kebutuhan akan pembenaran, haus akan penghormatan, serta keinginan untuk melawan kritik terhadap kepemimpinan Jokowi. Pernyataan ini memperlihatkan perspektif yang lebih dalam tentang relasi antara pemimpin, sistem, dan rakyat yang dipimpinnya.

1. Presiden Berkuasa Tanpa Akuntabilitas Kepada Rakyat

Lubis memulai dengan mengkritik bagaimana sistem politik Indonesia memberikan ruang bagi seorang presiden untuk tidak bertanggung jawab secara langsung kepada rakyat setelah masa jabatannya berakhir. Menurutnya, baliho “Terima Kasih Jokowi” menjadi bukti dari kecenderungan ini. Setelah 10 tahun memimpin, Jokowi justru seakan-akan meminta maaf atas beberapa hal yang belum terpenuhi, meskipun posisinya adalah sebagai kepala negara yang memiliki otoritas dan kekuasaan untuk membawa perubahan besar.

Lubis melihat ini sebagai kesalahan bukan hanya pada sosok presiden, tetapi juga pada sistem yang memungkinkan hal tersebut terjadi. Sistem demokrasi Indonesia, dengan segala kekurangannya, memberikan ruang bagi presiden untuk mengambil kebijakan tanpa harus bertanggung jawab penuh kepada rakyat dalam jangka panjang. Dalam kasus Jokowi, hal ini dipandang sebagai manifestasi dari sistem yang tidak menuntut akuntabilitas yang cukup dari pemimpin terhadap rakyatnya.

2. Megalomania: Mengukir Nama Dalam Sejarah

Lubis juga menyinggung kecenderungan megalomania dalam politik Indonesia, di mana pemimpin berusaha meninggalkan jejak besar dalam sejarah. Baliho-baliho tersebut, menurutnya, mencerminkan ambisi untuk diingat sebagai sosok yang berjasa, meskipun ada banyak kritik terhadap kebijakan-kebijakan selama kepemimpinannya. Di sini, Lubis memperlihatkan kekhawatiran bahwa penghormatan berlebihan terhadap presiden dapat mengaburkan pandangan kritis masyarakat terhadap kebijakan yang dijalankannya.

Keberadaan baliho semacam ini juga mengindikasikan bagaimana seorang pemimpin bisa terjebak dalam kebutuhan untuk diakui oleh masyarakat luas, bahkan ketika pencapaiannya masih dipertanyakan. Fenomena ini memperlihatkan bahwa dalam politik modern, citra publik dan pencitraan sering kali menjadi fokus utama dibandingkan substansi kepemimpinan itu sendiri.

3. Kebutuhan Akan Pembenaran

Lubis menilai bahwa baliho-baliho tersebut adalah bagian dari upaya pembenaran diri yang dilakukan oleh Jokowi dan pendukungnya. Setelah sepuluh tahun berkuasa, pertanyaan besar tentang keberhasilan atau kegagalan kepemimpinan muncul dari berbagai sudut pandang. Dalam konteks ini, baliho “Terima Kasih Jokowi” terlihat seperti respons atas kritik yang datang dari berbagai pihak, seakan-akan menunjukkan bahwa kepemimpinan Jokowi harus diakui dan diapresiasi oleh rakyat.

Namun, apakah baliho semacam itu merupakan cara yang tepat untuk merespons kritik? Lubis berpendapat bahwa ini adalah bagian dari upaya untuk menciptakan narasi bahwa segala sesuatu yang dilakukan sudah tepat dan layak diapresiasi, meskipun mungkin kenyataannya tidak demikian. Dalam hal ini, Lubis melihat adanya upaya untuk membenarkan tindakan dan kebijakan yang sebenarnya masih memerlukan evaluasi lebih lanjut.

4. Haus Akan Penghormatan dan Penghargaan

Dalam analisisnya, Lubis juga menyinggung bahwa baliho-baliho ini mencerminkan kehausan akan penghormatan dan penghargaan. Seorang presiden yang telah berkuasa selama satu dekade seharusnya mampu menerima kritik dengan lebih terbuka, bukan justru membutuhkan penghormatan yang berlebihan dari rakyatnya. Lubis menyiratkan bahwa tindakan memasang baliho terima kasih tersebut menunjukkan betapa besarnya keinginan untuk terus dihormati dan diingat sebagai pemimpin yang berjasa, meskipun ada bagian dari masyarakat yang merasa sebaliknya.

Lubis melihat hal ini sebagai bagian dari fenomena yang lebih luas di mana pemimpin-pemimpin politik sering kali haus akan pengakuan dan penghormatan dari rakyatnya. Baliho “Terima Kasih Jokowi” dapat dilihat sebagai simbol dari rasa haus ini, di mana apresiasi dari rakyat dianggap sebagai indikator kesuksesan seorang pemimpin.

5. Melawan Isu “Adili Jokowi”

Salah satu poin penting yang juga diangkat oleh Lubis adalah bahwa baliho-baliho ini merupakan strategi untuk melawan isu yang berkembang tentang kemungkinan mengadili Jokowi setelah masa jabatannya berakhir. Menurut Lubis, hal ini merupakan respons terhadap suara-suara yang mengkritik berbagai kebijakan Jokowi selama menjabat, khususnya terkait dengan isu hukum, HAM, dan ketidakadilan sosial. Baliho “Terima Kasih Jokowi” seakan menjadi cara untuk menegaskan bahwa Jokowi telah berjasa besar dan tidak layak untuk diadili atas kesalahan-kesalahan yang dituduhkan kepadanya.

Di sini, Lubis memperlihatkan bahwa politik pencitraan masih menjadi alat yang sangat efektif dalam menghadapi kritik. Dengan memunculkan narasi “terima kasih” dan “penghargaan”, baliho-baliho tersebut mencoba membentuk opini publik bahwa Jokowi adalah pemimpin yang sukses dan layak diapresiasi, bukan diadili atau dipertanyakan kebijakannya.

Kesimpulan

Pernyataan Damai Hari Lubis tentang fenomena baliho “Terima Kasih Jokowi” memperlihatkan dimensi yang lebih dalam dari politik pencitraan di Indonesia. Baliho ini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi simbol dari bagaimana kekuasaan, penghormatan, dan citra diri dipertahankan oleh pemimpin-pemimpin politik. Melalui analisis Lubis, kita dapat melihat bahwa di balik keberadaan baliho tersebut, ada dinamika kekuasaan yang lebih kompleks, di mana sistem politik dan kebutuhan akan pengakuan saling mempengaruhi.

Pada akhirnya, fenomena ini mengingatkan kita akan pentingnya akuntabilitas dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mampu bertanggung jawab atas kebijakannya, bukan sekadar bergantung pada pencitraan dan penghormatan yang berlebihan. Baliho “Terima Kasih Jokowi” menjadi pengingat bahwa dalam politik, citra publik sering kali diprioritaskan di atas substansi dan akuntabilitas.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Hasil Survei Terbaru, Khofifah-Emil Unggul pada Pilkada Jatim 2024

Next Post

Heboh! Dewan Guru Besar UI Gelar Rapat Darurat Bahas Pemberian Gelar Doktor kepada Bahlil Lahadalia

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi
Feature

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur
Birokrasi

MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

April 20, 2026
Economy

Mengelola Risiko DSR 40%: Ketika Negara Seperti Keluarga yang Terlilit Cicilan di Tengah Dunia yang Bergejolak

April 20, 2026
Next Post
Heboh! Dewan Guru Besar UI Gelar Rapat Darurat Bahas Pemberian Gelar Doktor kepada Bahlil Lahadalia

Heboh! Dewan Guru Besar UI Gelar Rapat Darurat Bahas Pemberian Gelar Doktor kepada Bahlil Lahadalia

Siapa Saja yang Tidak Dianjurkan Mengonsumsi Daun Kelor?

Siapa Saja yang Tidak Dianjurkan Mengonsumsi Daun Kelor?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

April 20, 2026
MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

April 20, 2026

Mengelola Risiko DSR 40%: Ketika Negara Seperti Keluarga yang Terlilit Cicilan di Tengah Dunia yang Bergejolak

April 20, 2026

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

April 20, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...