Oleh: Ni Made Usmantari, Anggota DPRD Provinsi Bali dari Fraksi PDI Perjuangan
Jakarta – Selasa (28/10/2025) esok, Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97. Pada 28 Oktober 1928 lalu, pemuda-pemuda Indonesia yang berasal dari berbagai daerah menggelar Kongres Pemuda dan mencanangkan Sumpah Pemuda:
Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia
Berbangsa satu, bangsa Indonesia
Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia
Menjelang peringatan ke-97 Sumpah Pemuda, Presiden RI Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, Rabu (23/10/2025) lalu.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan komitmennya untuk mengajarkan bahasa Portugis, yang juga merupakan bahasa yang digunakan rakyat Brasil, di sekolah-sekolah di Indonesia.
Dengan demikian, akan ada satu bahasa lagi yang akan diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia, yakni bahasa Portugis, di samping bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Mandarin, bahasa Jepang, dan sebagainya yang sudah lebih dulu diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia.
Adapun tujuannya adalah untuk mempermudah komunikasi antara rakyat Indonesia dan rakyat Brasil yang jumlahnya sama-sama banyak, yakni di atas 200 juta jiwa: Indonesia 286 juta jiwa, Brasil 213 juta jiwa. Bahasa ibarat jembatan yang bisa menghubungkan satu pihak dengan pihak lainnya.
Secara psikologis, Indonesia dan Brasil juga pernah senasib: sama-sama dijajah Portugis.
Presiden Prabowo pun sudah barang tentu fasih berbahasa Portugis, mengingat mantan Komandan Jenderal Kopassus itu pernah lama bertugas di Timor Timur, kini Timor Leste, yang menggunakan bahasa Portugis sebagai bahasa resminya, di samping bahasa Tetum yang berasal dari bahasa lokal setempat.
Akan tetapi, semua itu janganlah mengurangi kebanggaan kita untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Peringatan ke-97 Sumpah Pemuda bahkan perlu kita jadikan momentum untuk meningkatkan kebanggaan kita akan bahasa Indonesia.
Bung Karno menguasai puluhan bahasa asing. Tapi Presiden I RI itu tetap bangga berbahasa Indonesia.
Pak Harto menguasai sejumlah bahasa asing. Tapi Presiden ke-2 RI itu tetap bangga berbahasa Indonesia. Termasuk di forum internasional.
Begitu pun presiden-presiden berikutnya mulai dari mendiang BJ Habibie, mendiang KH Abdurahman Wahid, Ibu Megawati Soekarnoputri dan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.
Kita juga patut mencontoh bangsa-bangsa lain seperti Jepang dan Prancis. Rakyat Jepang bangga berbahasa Jepang, rakyat Prancis bangga berbahasa Prancis. Mereka bahkan cenderung alergi dengan bahasa asing.
Bahasa Indonesia sudah terbukti menjadi bahasa persatuan yang mampu menyatukan berbagai etnis di Indonesia. Dari dulu hingga kini.
Bahasa Indonesia juga sudah lama “go internasional” yang dipelajari di negara-negara lain seperti Jepang, Australia, Belanda, Amerika dan sebagainya. Bahasa Indonesia bahkan menjadi bahasa resmi UNESCO
Diketahui, UNESCO atau United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization adalah Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dengan kata lain, bahasa Indonesia semakin diakui sebagai bahasa internasional setelah ditetapkan sebagai salah satu bahasa resmi di UNESCO pada November 2023. Status ini memungkinkannya digunakan dalam forum internasional dan meningkatkan martabat serta pengaruhnya secara global, yang didukung oleh jumlah penuturnya yang banyak dan kemudahan tata bahasanya, meskipun masih ada tantangan internal dan eksternal.
Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa adalah identitas atau jati diri kita. Alhasil, kita harus bangga berbahasa Indonesia.
























