Bermula dari undangan pertemuan sejumlah Ketua Umum Partai Koalisi Regime Jokowi di Istana Negara, minus Partai Nasdem, maka publik opini nitizen mengkristal bahwa Jokowi selaku Presisden/Kepala Negara, terlihat ada gelagat ia tidak netral dalam menghadapi Pilpres 24. Sangat beralasan, sebagai konsekuensi logis, dimana sebelummnya, secara gamblang pula Jokowi telah memberi isyarat bahwa Ganjar Pranowo (Si Rambut Putih) dan Prabowo Subianto (Presiden yang akan datang giliran PS) adalah CaPres yang ia dukung.
Lalu, sontak saja Denny Indrayana, dkk, bereaksi. Ia menyampaikan pernyataan, baik tertulis maupun melalui podcastnya, bahwa Presiden Jokowi Cawe cawe dalam Pilpres 24. Cawe-cawe adalah Bahasa Jawa yang artinya “ikut campur/tidak netral/alias berpihak”.
Bingkai Presiden Jokowi cawe-cawe itu, tidak dibuat oleh Denny Indrayana, tetapi itu potret imaginasi Nitizen pada diri Jokowi; dilihat dari gelagat, ucapan dan melalui gerak langkah strategisnya. Ia telanjang tercium, kehawatiran jika Anies Baswedan akan terpilih menjadi Presiden 24. Karena satu-satunya capres, yang ia tidak pernah terucap dukungannya, kepada mantan Menteri dan tim suksesnya itu. Malah dua pasangan Capres dukungan Jokowi itu, seolah-olah dihadapkan supaya secara diametral untuk mengalahkan Anies Baswedan.
Publik Opini Jokowi Cawe-cawe itu, meluas dan viral keberbagai kelompok dan segment di masyarakat. Masing-masing berbicara menurut persepsinya sendiri-sendiri. Caci maki dan hujatan pun inherent dalam setiap pergunjingan publik diberbagai medsos kepada Jokowi.
Dalam pernyataan terpisah kemudian, Jokowi juga terjerembab menggunakan istilah cawe-cawe lagi. Ia mengatakan dalam Pilpres 24, akan cawe-cawe. Tapi yang ia maksud sebenarnya “bagaimana dapat menjaga kesinambungan apa yang sudah ia kerjakan, supaya terus bisa dilanjutkan”.
Pernyataan Jokowi “saya akan cawe-cawe itu”, gempar juga di ranah public, Menjadi perbincangan panas lagi oleh berbagai kalangan, yang pro melawan yang kontra. Sehingga telah mengundang turun tangan para Jubir KSP, untuk mengklarifikasinya apa yang dimaksud oleh Jokowi tersebut.
Adalah menjadi tidak masuk akal, bila alasan Jokowi yang bersiteguh untuk cawe-cawe pada Pilpres 24 itu; karena ingin memelihara apa yang selama ini telah ia bangun, infra-structure dll itu. Ia tidak faham ada UU no 25/2004, tentang Sistem Pembangunan Nasional. Jadi apa yang telah dibangun oleh Jokowi selama ini, acuan Bapenas adalah UU No 25/2004 itu. Jadi bukan ansich idea/gagasan Jokowi. Sepertinya contohnya, bahkan, KA Cepat Jakarta~Bandung, itu berasal dari rencana yang ada jauh sebelum Jokowi melaksanakannya.
Jadi siapapun kelak yang akan menjadi Presiden RI, program-program kerja yang akan dilaksanakannya adalah realisasi janji-janji kepada public yang kemudian dipadukan dengan Rencana Pembangunan Nasional tersebut, menurut UU No 25/2004 itu.
Jadi Jokowi cawe-cawe pada pilpres 24 nanti, bukan karena persoalan keberlangsungan program-program yang sudah dikerjakan, tetapi ada agenda lain yang semua tahu bahwa ia akan mengalami Post Power Syndrome, yang disebabkan oleh berbagai masalah kebijakan yang menyebabkan kerugian kepada banyak pihak.























