Apakah sahabat bisa membayangkan bagaimana kira-kira Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut mencari solusi untuk menyelesaikan persoalan rupiah yang terpuruk, pertumbuhan ekonomi yang melambat, daya beli masyarakat yang menurun, dan gelombang PHK yang menghantui banyak keluarga Indonesia?
Pertanyaan ini tentu bukan pertanyaan yang jahat. Justru ini pertanyaan yang sangat wajar. Sebab, dalam sejarah Indonesia, jabatan wakil presiden bukan sekadar penghias panggung kekuasaan. Pada masa-masa sulit, seorang wakil presiden sering kali menjadi dapur pemikiran tempat lahirnya berbagai solusi.
Saat krisis ekonomi mengguncang Indonesia, ada Jusuf Kalla yang dikenal cekatan, berani mengambil keputusan, dan memiliki pengalaman panjang dalam dunia usaha. Ketika ekonomi membutuhkan arah dan stabilitas, ada Boediono yang reputasinya dibangun dari disiplin ilmu ekonomi dan pengalaman panjang mengelola kebijakan moneter maupun fiskal.
Mereka boleh disukai atau tidak. Namun satu hal yang sulit dibantah: ketika berbicara soal ekonomi, keduanya memiliki bekal yang membuat publik yakin bahwa mereka memahami masalah yang sedang dibicarakan.
Lalu bagaimana dengan Gibran?
Mungkin suatu hari akan ada rapat ekonomi nasional. Rupiah melemah, investor menunggu kepastian, ekspor menurun, sementara pasar keuangan bergerak liar.
Para menteri ekonomi mulai membuka presentasi setebal ratusan halaman. Grafik ditampilkan. Angka-angka diproyeksikan ke layar. Inflasi, cadangan devisa, neraca perdagangan, arus modal asing, hingga risiko geopolitik global dibahas secara serius.
Semua mata kemudian beralih kepada wakil presiden.
“Bagaimana pendapat Bapak Wapres?”
Ruangan hening.
Semua menunggu.
Lalu sang wapres tersenyum.
“Mungkin kita bisa bikin challenge di media sosial supaya rupiah semangat lagi.”
Tentu ini hanya satire. Tetapi satire lahir justru karena publik kesulitan membayangkan kontribusi konkret yang bisa diberikan.
Masalah ekonomi bukan seperti menjual minuman kekinian yang bisa ditangani dengan promosi menarik atau desain kemasan yang lebih segar. Ekonomi nasional adalah persoalan yang melibatkan jutaan pelaku usaha, ratusan juta konsumen, pasar keuangan global, kebijakan fiskal, moneter, perdagangan internasional, hingga kepercayaan investor.
Ketika rupiah melemah, misalnya, tidak cukup hanya dengan optimisme. Pasar membutuhkan keyakinan bahwa pemerintah memahami akar masalah dan memiliki strategi yang masuk akal untuk mengatasinya.
Karena itu, yang sebenarnya ingin diketahui publik bukanlah apakah Gibran pandai berbicara atau tidak. Bukan pula apakah ia aktif membuat konten atau tampil di berbagai acara seremonial.
Yang ingin diketahui adalah: gagasan apa yang ia miliki?
Apa resepnya untuk meningkatkan investasi?
Bagaimana cara memperkuat industri nasional?
Apa pandangannya tentang utang negara?
Bagaimana strategi menghadapi perlambatan ekonomi global?
Apa usulnya untuk mengatasi pengangguran generasi muda?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu penting karena jabatan wakil presiden bukan hadiah keluarga, bukan pula bonus politik. Jabatan itu dibayar oleh rakyat melalui pajak yang mereka setorkan setiap hari.
Mungkin ada yang menjawab bahwa seorang wakil presiden tidak harus menjadi ahli ekonomi.
Benar.
Tetapi ketika negara menghadapi persoalan ekonomi yang serius, rakyat tentu berharap ada lebih dari sekadar senyum, jargon, atau pencitraan.
Mereka berharap ada kapasitas.
Mereka berharap ada kompetensi.
Mereka berharap ada pemikiran.
Sebab nilai rupiah tidak akan menguat hanya karena rakyat diminta optimistis. Lapangan kerja tidak akan tercipta hanya karena pemerintah mengunggah video pendek yang menarik. Daya beli tidak akan pulih hanya karena tagar tertentu menjadi viral.
Ekonomi memiliki hukum yang jauh lebih keras daripada algoritma media sosial.
Pada akhirnya, mungkin inilah tantangan terbesar yang dihadapi Gibran. Bukan bagaimana menjadi wakil presiden termuda. Bukan pula bagaimana mempertahankan popularitas.
Tetapi bagaimana membuktikan bahwa dirinya memang layak duduk di kursi yang pernah ditempati tokoh-tokoh yang memiliki kapasitas dan kontribusi nyata bagi bangsa.
Karena sejarah selalu kejam terhadap mereka yang memperoleh jabatan besar tanpa prestasi yang sebanding.
Dan sejarah lebih kejam lagi ketika krisis datang, sementara para pemimpinnya hanya mampu menjawab dengan senyuman.






















