Dr. SusiLawati Saras, SE,.MM,.MA,.M.han – Pemerhati lingkungan, Politik dan Pertahanan Negara.
Kehidupan manusia di dunia, sebagai makhluk hidup diantara makhluk hidup lainnya sama, yaitu hidup dalam dinamika perubahan alam. Yang membedakannya adalah, karena manusia memiliki akal piker, maka selalu berupaya untuk menyesuaikan kehidupan dengan dinamika alam tersebut.
Dinamika alam itu hak semesta. Terjadi di mana saja dan kapan saja, sehingga manusia harus mampu bisa menyesuaikan diri, dalam arti berupaya menghindarinya agar tidak menjadi korban. Anggap sebagai pengingat diri agar kehidupan selanjutnya tertata lebih baik dari sebelumnya, juga lebih mempunyai komitmen untuk menjaga lingkungan.
Bicara tentang dinamika alam khususnya di negara Indonesia, yang wilayahnya sering diguncang gempa bumi (peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba, yang kemudian menciptakan gelombang seismik dan ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi).
Sepanjang wilayah Indonesia terdapat patahan lempeng (sesar) yang kadang diikuti oleh naiknya air laut dalam volume dan gelombang besar ke daratan (Tsunami) maka perlu dipikirkan kembali lebih serius bagaimana penduduk dapat hidup lebih aman terhindar dari dinamika alam ini yang selalu memakan korban jiwa manusia, mengingat geografi Indonesia riskan terjadinya bencana gempa bumi.
Seperti baru-baru ini terjadi gempa bumi di kabupaten Cianjur yang menyebabkan rumah warga rubuh dan menimbulkan korban jiwa manusia cukup besar, bisa jadi masih banyak korban-korban meninggal yang terkubur dalam reruntuhan rumah-rumah mereka.
Selalu begini pola yang terjadi jika ada bencana gempa bumi, sejatinya jika sudah diprediksi bahwa karakter alam Indonesia demikian bisa dilakukan upaya seperti, dengan mulai membangun rumah menggunakan material bangunan menyesuaikan dengan karakter geografi alamnya.
Di sisi lain yang paling utama adalah, pemerintah wajib mengupayakan adanya alat early warning system (alarm peringatan bencana) agar dapat dibaca dan diukur secara terus menerus intensitas getaran dengan menggunakan alat atau metode yang dipilih.
Dalam hal ini bisa mencontoh Jepang sebagai negara yang sering menghadapi bencana yang sama. Maka saat dibunyikan alarm tanda bahaya, masyarakat dapat menghindari dampak dari reruntuhan rumah maupun gedung untuk segera ke luar rumah atau berkumpul pada titik lokasi yang lebih aman yang telah disiapkan oleh pemerintah. Karena selama ini diamati jika terjadi gempa bumi masih belum berubah polanya, masyarakat selalu menjadi korban akibat reruntuhan dari rumah dan bangunan.
Yang miris jika usia anak-anak sekolah menjadi korban, apakah tertimpa reruntuhan rumah maupun reruntuhan gedung sekolah, rasanya hati pedih tiada tertara. Saatnya pemerintah pusat dan pemerintah daerah semakin fokus membuat kebijakan nasional dalam pembangunan nasional berbasis pada kelestarian alam dan lingkungan.
Dengan mengerahkan para akademisi dari institusi pendidikan di tanah air seperti ITB, ITS dan lainnya untuk bersatu dalam sebuah forum khusus membahas terkait karakter geografi Indonesia yang riskan bencana ini, sebagai negara kepulauan yang beriklim tropis. Untuk terus menerus menelusuri dinamika alam sebagai bidang keilmuan yang dimiliki oleh para akademisi dan pemerintah dapat mengambil setiap kebijakan yang dibutuhkan dari forum tersebut sebagai laboratorium penelitian nasional.
Akhirnya, semoga masyarakat Cianjur dan sekitarnya yang terdampak bencana gempa bumi dapat lebih kuat dan sabar menghadapi segala musibah yang terjadi, anggap sebagai jalan pembersihan bagi diri. Ke depan kehidupan menjadi lebih baik, lebih tenang, lebih bijak, lebih guyup, lebih harmoni, lebih bernilai sebagai masyarakat yang mengedepankan religi/spiritual.
Jakarta, 25 November 2022.
























