Siklus kehidupan yang terus berganti dan berputar, sebagai makhluk hidup maupun benda mati adalah sunatullah bagi kehidupan semesta. Begitu juga dengan manusia, hewan, tumbuhan sebagai makhluk hidup di dunia yang tumbuh, berkembang, menua dan mati kembali menyatu dengan tanah kemudian terus mengalami metamorfosa sesuai masanya menjadi energi lain seperti hujan, angin, es, api dan debu. Manusia sebagai makhluk istimewa di dunia karena memiliki akal pikir, sejatinya dapat mengendalikan kehidupan di alam semesta ini. Belum ada manusia di dunia sehebat apapun dapat hidup melebihi usia ratusan tahun karena kondisi fisik yang terus melemah akibat penuaan. Jutaan tahun sudah kehidupan tercipta hingga hari ini terlihat bahwa semua makhluk akan kembali pada sang khalik pemilik hidup yang sesungguhnya dan ini tidak terbantahkan.
Secara biologi maka tidak ada manusia yang bertahan hidup sangat lama karena terus mengalami perubahan dan berkelanjutan yang berarti manusia sebagai makhluk memiliki keturunan menjadi kehidupan manusia di masa depan. Itu adalah kita-kita saat ini sebagai manusia yang melanjutkan kehidupan para leluhur di masa lalu dan di sisi lain juga memiliki keturunan bagi kehidupan ke depan. Terus demikian siklus yang terjadi hingga semua manusia menjadi benda mati dan berubah fungsi menjadi lainnya. Ini suatu misteri kehidupan yang harus menjadi fokus bagi manusia yang berarti berasal dari debu akan kembali menjadi debu. Itulah kuasa Illahi yang luar biasa sebagai pencipta hidup semua makhluk termasuk manusia.
Untuk itulah sejatinya manusia dapat lebih mengenali dirinya sendiri untuk tujuan apa kehadirannya ke dunia, kehadiran yang tidak diminta namun kehendak sang Khalik telah menentukan dan tidak dapat dihindari kecuali menjalaninya sebagai khalifah di muka bumi. Memang masih banyak manusia yang belum sadar akan hal ini sehingga masih belum paham tentang kehadirannya di bumi akhirnya melakukan hal-hal yang merugikan dan membahayakan diri sendiri dan orang lain. Usia rata-rata manusia hari ini khusus masyarakat Indonesia itu di usia 70 tahunan, rasanya usia yang cukup panjang namun dikaitkan dengan tugas sebagai khalifah itu termasuk usia yang pendek. Bagi mereka yang mengenal diri akan muncul kesadaran diri bahwa untuk tujuan apa hidup di dunia, orang-orang seperti ini akan memanfaatkan kehidupan dunianya dengan hati-hati dan sangat bermanfaat. Tidak ada waktu yang sia-sia bagi mereka, setiap waktu amat berharga, karena apa yang mereka lakukan harus dapat memberi manfaat bagi kehidupan manusia sebelum berpulang ke alam lain.
Sejatinya setiap diri dapat melihat ke dalam diri masing-masing untuk dapat mengoreksi diri agar setiap langkah yang dilalui itu memiliki nilai kehidupan yang baik, setidaknya terhindar dari hal-hal yang mencelakakan diri sendiri. Selain sebagai makhluk berakal manusia juga sebagai makhluk yang memiliki nafsu sehingga jika tidak dapat mengendalikan diri dengan baik maka perilakunya bisa liar dan menyulitkan diri sendiri di masa depan. Masih banyak ditemui orang-orang seperti ini, khususnya di tanah air mengira hal buruk yang dilakukan asal tidak diketahui oleh lainnya akan aman. Lupa bahwa keburukan maupun kejahatan itu pasti akan diketahui hanya tinggal menunggu waktunya, akan sangat merepotkan dan memalukan diri serta keluarga. Perilaku korupsi, menipu kolega, mengintimidasi orang lain yang dianggap lemah, menjilat atasan sehingga mencelakakan atasan dan lain sebagainya yang berakibat orang lain menderita.
Berbahagialah orang-orang yang selama hidupnya mampu mengendalikan diri dengan kontrol yang baik sehingga meringankan jalannya dan menenangkan hidupnya. Walau dalam lingkup sosial mungkin kehidupannya dianggap tidak istimewa oleh lainnya terpenting apa yang dirasakan itu menjadi kebahagiaan tersendiri karena dilakukan atas dasar kehendak sendiri di jalan yang benar dan bertanggung jawab. Kualitas masyarakat Indonesia yang memiliki ciri sebagai masyarakat spiritual sejatinya lebih paham dan mampu menjalankan spirit ini dengan normal. Dengan begitu kualitas kehidupan sosial berbangsa juga penuh dengan nilai kehidupan yang tinggi sebagai bangsa beradab tapi bukan bangsa biadab. Ini akan memudahkan menjalani kehidupan sehari-hari karena semua sudah berjalan pada rule yang jelas apakah rule religi maupun rule nasionalisme sebagai bangsa Indonesia.
Pada akhirnya semua manusia akan kembali menjadi debu, jangan sia-sia kan waktu yang ada. Walau belum melakukan sesuatu yang menjadi karya maupun prestasi minimal tidak melakukan hal-hal yang memicu keributan dan kegaduhan yang mengganggu ketertiban umum. Manusia yang berakal berbeda dengan makhluk hidup lainnya, sejatinya mampu meninggalkan kebaikan bagi kehidupan anak cucu di masa depan yang terjamin baik. Dengan demikian kepulangan setiap kita ke Rahmatullah dapat dijalani lebih tenang tanpa rasa takut dan mencemaskan karena sudah puas dengan hidup yang ikhlas serta siap berpulang kapan saja. Jika selalu berada di jalan yang lurus dan benar maka kematian menjemput saat berada di jalan tersebut begitu sebaliknya, sebagai makhluk yang istimewa di muka bumi tentu tahu jalan mana yang dipilih. Jika pun ada kehidupan di masa depan yang disebut reinkarnasi setidaknya kita pernah menorehkan kehidupan yang lebih bermakna sebelumnya dan tanpa kita ketahui bisa menjadi pribadi yang baik pula di masa kehidupan reinkarnasi tersebut.
Setiap orang hanyalah sebagai makhluk terkecil di muka bumi dibandingkan dengan semesta, kesempatan hidup di dunia harus menjadi anugerah dan pengalaman yang luar biasa. Bagi saya tidak masalah menjadi pribadi berbeda terpenting terus berupaya berada di jalur yang dapat memberi manfaat hidup bagi sesama agar tercipta kehidupan yang lebih damai, berguna dan membahagiakan. Selagi diberi kesempatan hidup mari saling bersapa dalam kebaikan, kemanfaatan, tidak merendahkan dan menyakiti orang lain, karena sejatinya sakitnya orang lain menjadi sakitnya kita sebagai entitas yang sama sebagai manusia. Senang melihat orang lain senang harus menjadi pedoman dan pegangan hidup, dengan begitu kesenangan dan kebahagiaan diri terus muncul menyertai diri kita sepanjang hidup dan memberi ketenangan sejati.
Jakarta, 26 Oktober 2022
Susilawati Saras
Pemerhati lingkungan, politik dan pertahanan negara.
























