• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Berebut Jadi Tuhan

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
October 29, 2022
in Feature
0
Berebut Jadi Tuhan

Memperingati Sumpah Pemuda, Bendera Merah Putih di terbangkan dengan layang-layang bentuk naga, di kabupaten Tulungagung Jawa Timur, Rabu (28/10/2020).(SLAMET WIDODO)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dr. Salamun, M.Pd.I, Dosen di STIT Pringsewu Lampung, Alumni Program Doktor UIN Raden Intan Lampung

Jakarta – Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (Al-Quran).”

Setiap anak manusia yang lahir ke muka bumi adalah unik. Keunikan tersebut kemudian melahirkan apa yang kemudian disebut sebagai identitas. Kita tidak pernah mengajukan penawaran kepada Tuhan untuk terlahir dari suku bangsa manapun, bahkan juga dari seorang ibu yang mana.

Mengenal orang dan suku bangsa lainnya tidak saja hanya sebatas nama dan adat budayanya, namun lebih dari itu ialah dapat memahami esensi dari perbedaan tersebut, yaitu kesadaran pluralitas. Kesadaran pluralitas inilah yang kemudian para pemuda mengidentifikasi diri sebagai Jong Java, Jong Soematra, Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten, Jong Batak Bond, Jong Celebes, Pemoeda Kaum Betawi, dan Perhimpoenan Peladjar Indonesia membuat kesepakatan melalui penyatuan visi dengan satu komitmen yang dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Dalam Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928, para pemuda berkomitmen bahwa Kami Putra dan Putri Indonesia Mengaku bertumpah darah yang satu Tanah Indonesia, Berbangsa yang satu Bangsa Indonesia dan menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia (Suryanegara, 2017).

Maka hendaknya kita juga belajar meneguhkan semangat mereka dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara dalam konteks kekinian dan selamanya.

Mengapa semangat para pemuda 1928 tersebut menjadi penting untuk terus kita pupuk dan tumbuh suburkan? Tentu tidak terlepas dari pertimbangan geografis-kosmologis dan sosio-antropologis sekaligus. Indonesia menjadi negara demokrasi paling plural dengan potensi “perbedaan” terbesar di muka bumi, terdiri dari 1.340 suku dan lebih dari 1.158 bahasa daerah (Suharto, 2019), yang tersebar di hampir semua pulau yang berjumlah tidak kurang dari 17.508 (Suari dkk., 2017).

Potensi perbedaan tersebut menjadi karunia tersendiri sekaligus menjadi potensi konflik yang membahayakan ketika kita sebagai bangsa keliru mengelolanya. Dalam banyak konteks kehidupan sosial apakah dalam masyarakat organisasi atau dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, menyisakan berbagai catatan penting untuk menjadi bahan renungan kita sebagai sebuah negara bangsa yang majemuk.

Entah mengapa saat ini kehidupan bermasyarakat dan berbangsa kita seperti sangat terkotak-kotak. Perbedaan suku dan lingkungan tempat tinggal bahkan lembaga pendidikan sekalipun sering menjadi sekat-sekat kehidupan bermasyarakat yang kemudian memicu terjadinya konflik yang dalam banyak kasus menimbulkan korban jiwa.

Perbedaan pandangan dan sikap seolah-olah menjadi sesuatu yang haram. Kita sering dipaksa menjadi seseorang yang tidak boleh berbeda. Padahal ketika kita berada dalam ruang publik atau berada dalam alam demokrasi, perbedaan adalah sebuah keniscayaan dan ianya menjadi ruh demokrasi itu sendiri.

Ruang publik dan kebebasan Tindakan (dan ucapan) hanya akan terjadi dan hanya bisa dipahami, dalam masyarakat (ruang publik). Ruang Publik adalah dunia bersama tempat di mana manusia saling berbagi, saling memahami, saling mendengarkan dan melihat sekaligus didengarkan dan dilihat (Fahruddin, 2020).

Ruang publik adalah ruang antara, ruang yang mempertautkan berbagai kepentingan manusia-manusia yang duduk mengitarinya, saling memandang dan saling mendengarkan. Seperti meja yang ditempatkan di antara mereka yang duduk mengitarinya. Jika meja itu hilang, maka hilanglah kebersamaan itu. Kebersamaan terbentuk ketika masing-masing individu memberikan ruang kebebasan berpikir dan bertindak yang tentu saja harus bertanggungjawab atas tindakannya tersebut.

Kebebasan akan hilang manakala terjadi dua hal. Pertama, isolasi radikal, di mana semua orang tidak lagi saling memberikan persetujuan. Kasus seperti ini terjadi, misalnya dalam pemerintahan tiranis, atau dalam masyarakat anarkis masing-masing punya kehendaknya.

Kedua, dalam “masyarakat massa” atau “histeria massa”, di mana kita melihat semua orang tiba-tiba bertingkah seolah-olah mereka adalah anggota dari satu keluarga, masing-masing menggandakan dan melestarikan perspektif orang di sekitarnya. Fanatisme berlebihan atas kelompok dan golongannya secara berlebihan tanpa critical thinking, tidak ada visi.

Ciri ruang publik yang sehat manakala masyarakat memiliki kesadaran pluralitas. Pluralitas manusia terletak dalam kesamaannya, yaitu bahwa mereka tidak sama. Sementara kebebasannya terimplikasi dari hakikatnya sebagai manusia yang bertindak, karena bertindak berarti memulai, mencipta, dan memulai berarti melakukan pilihan-pilihan; itu adalah kebebasan.

Dalam On Revolution, Hannah Arendt membedakan kebebasan politik dari kebebasan personal (Arendt, 2006). Bagi Arendt, kebebasan politik adalah kebebasan warisan pemikir seperti Aristoteles, dan praktik polis di Yunani kuno, dan itulah yang sebenarnya dinamakan kebebasan. Kebebasan jenis ini, sekarang ini, dipahami sebagai kebebasan positif, yaitu kebebasan untuk melakukan apa pun dan menjadi apa pun berdasarkan otonomi seseorang.

Sementara, kebebasan personal adalah, dalam kacamata Arendt, kebebasan yang dipahami dalam politik modern. Kebebasan demikian berada di luar politik.

Dalam paham sekarang ini, kebebasan itu dinamakan sebagai kebebasan negatif, yaitu kebebasan dari apa pun dan siapa pun yang menjadi penghalang bagi pemenuhan sesuatu atau diri. Kebebasan yang sejati adalah bebas untuk, ketika seseorang masih berkutat dengan bebas dari maka sejatinya belum merdeka.

Pertanyaannya adalah apakah kemudian sebagai bangsa kita sudah sungguh-sungguh bebas untuk melakukan apapun atau masih dibayangi dengan kapitalisme global dan kekuatan asing lainnya yang mengendalikan kebijakan-kebijakan dalam negeri?

Kebebasan menjadi pilar utama demokrasi. Ketika dalam praktik berdemokrasi masih kita dapati ada orang atau kelompok tertentu mendominasi kebenaran dan memaksakan kebenaran yang diyakininya kepada orang lain, maka sesungguhnya demokrasi sudah mati.

Bahkan yang memprihatinkan kemudian adalah ketika ada komunitas keagamaan yang begitu bersemangat melakukan takfirisasi (mengkafirkan yang lain) dan menganggap sesat bagi yang tidak sejalan, maka sejatinya mereka sudah mengambil otoritas Tuhan.

Ya, banyak orang dan barangkali golongan hari ini sudah pada berebut jadi Tuhan. Atau setidaknya kita dalam banyak hal sudah terjebak dan bahkan menjebakkan diri bertindak laiknya malaikat pencatat amal bagi orang lain.

Idealnya kita disibukkan dengan muhasabah atau introspeksi diri, bukan justru kepo menilai dan menghakimi yang bukan menjadi kewenangan dan otoritasnya. Semangat kebersamaan dan kebebasan yang digelorakan oleh para Pemuda 94 tahun yang lalu hendaknya harus kita pupuk terus menerus agar menjadi energi positif untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang bermartabat dan disegani dalam dunia global internasional.

Sudah saatnya kita berpikir untuk kemajuan bangsa dan tidak menjebakkan diri ke dalam kubangan sentimen mayoritas minoritas atau politik belah bambu yang berusaha untuk membelah rakyat. Masyarakat sudah cukup lelah menghadapi berbagai beban kehidupan, janganlah dihadapkan dengan persoalan-persoalan politik rendahan dengan membuat polarisasi di tengah masyarakat dengan politik identitas dan semacamnya.

Pluralitas dan keberagaman identitas merupakan keniscayaan. Yang perlu kita lakukan bersama adalah saling menghormati apapun keputusan politik yang diambil oleh pemilik otoritas. Tidak elok saling menilai antarkompetitor, fokuslah dengan apa keunggulan masing-masing karena menurut hemat saya anak bangsa negeri ini sudah semakin cerdas dan hendaknya marilah kita bangun dan hadapi tahun politik ke depan dengan politik yang beradab.

Berbeda adalah keniscayaan, ada Jong Java, Jong Soematra, Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten, Jong Batak Bond, Jong Celebes, Pemoeda Kaum Betawi dan Perhimpoenan Peladjar Indonesia. Karena keberagaman itulah lahir Indonesia.

Dan hendaknya Indonesia harus kita rawat menjadi negara bangsa yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darahnya dengan semangat keadilan tanpa diskriminasi dan tirani dan intimidasi oleh kelompok tertentu atas yang lain, apalagi dilakukan oleh negara–dan semoga tidak akan terjadi– yang mestinya menjadi pelindung dan pemersatu bagi segenap anak bangsa.

Dikutip dari Kompas.com, Kamis 27 Oktober 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Perempuan, Senjata Siluman – (Terorisme 2)

Next Post

IJAZAH DAN MORAL HAZARD

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Feature

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional
Birokrasi

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
Next Post
10 Peta Jalan Menyelamatkan Masa Depan Indonesia

IJAZAH DAN MORAL HAZARD

Ganjar Pranowo Tidak Diundang Acara PDIP Jawa Tengah, Kisruh Apa Lagi?

Kop Pig,  Fx Rudy Rayakan HUT Ganjar Usai Disanksi: Saya Kan Ndak Bicara Capres

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

April 19, 2026
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist