Damai Hari Lubis-Ketua Aliansi Anak Bangsa
Sebagian Media Sosial dan atau media mainstream banyak yang berspekulasi entah bersumber realitas atau sekedar lempar opini. Tapi pastinya berita terkait pencapresan Anies untuk Tahun 2024 memang seksi.
Tidak dapat dipungkiri banyak publik alhasil terpengaruh dan terpecah opini oleh pemberitaan yang ada.
Namun publik umumnya memahami terkait endors meng-endors merupakan sesuatu hal yang lumrah. Terutama dalam kancah menyambut pesta demokras pemilu 5 Tahun sekali. Dengan selingan sebagian berita selain faktual, juga ada yang separuh matang, selebihnya bak adonan kue dari bahan yang warna-warni. Ujungnya adalah tidak jauh dari hal dukung mendukung terhadap sebuah kelompok capres untuk meraih kursi lewat pemilu 2024. Banyak juga Individu-individu yang nimbrung sekedar meramaikan usaha bisnisnya.
Maka sekali lagi semua fenomena yang ada berikut segala dinamikanya, adalah hal yang biasa, baik didunia bisnis, apalagi didalam kancah perpolitikan pada setiap bangsa dinegara manapun di belahan dunia ini.
Namun kebanyakan media massa tersebut selain “adanya faktor endorse untuk mempengaruhi publik dan partai-partai diluar kelompok atau koalisinya”, banyak juga bersumber kepada gejala-gejala politik yang berkembang dan faktual, selebihnya ada juga yang hanya ingin mencari viewer (pembaca) untuk meningkatkan rating dan bisnis media milik mereka. Dan dalam dunia bisnis dan politik hal dukung-mendukung merupakan hal yang lumrah jikalau ada pembeda maka kebanyakan beda setipis kulit ari.
Dibalik kewajaran dinamika politik pilpres 2024 ada ketidak wajaran, yakni ada fenomena diskursus politik yang brutal. Ada keanehan karena perbuatan yang jauh dari rasa malu, terlebih pelakunya seperti Moeldoko merupakan orang istana, atau penguasa eksekutif atau penyelenggara pemerintahan negara. Namun perlilakunya ujug-ujug ingin mengambil alih Partai Demokrat yang pernah mengantarkan seorang SBY, menjadi presiden. Sehingga secara sarkasme dapat dimajaskan ” orang istana merampok Partai Demokrat “
Halaman selanjutnya pada zaman yang masih paralel dengan perampokan dimaksud, ternyata orang nomor satu di istana di Merdeka Utara, Jakarta yang tranparan mengakui cawe-cawe kepada dua kelompok koalisi partai, yang soundingnya, kedua koalisi tersebut sudah terdengar dari kota hingga belantara, bahwa masing masing koalisi partai tersebut sudah memiliki masing masing capres untuk berkompetisi di Pilpres 2024.
Namun kedua kelompok masing masing yang berkoalisi tersebut, yang juga merupakan orang atau individu individu istana, paling tidak para pendukungnya atau restunya adalah dari kalangan istana, bahkan boss partai yang petugasnya menjadi seseorang presiden dan kedua-duanya menghendaki ketua umum partai demokrat AHY anak kandung asli dari SBY, sesepuh Partai Demokrat, yang satu pihak mengiming-imingi AHY dijadikan Cawapres, yang satunya lagi hendak jadikan AHY, menjadi Capres. Dan semuanya satu lingkaran dari “para penghuni kandang istana”. Misi mereka hanya satu, enyahkan Anies dari Arena Gelanggang Pemilu Pilpres.
Apa yang nyata salah pada diri seorang Anies Baswedan ? Apakah ada jejak rekamnya yang mengecewakan dan melukai masyarakat saat Ia mengemban amanah jabatan Gubernur IKN? Bukankah justru Anies adalah Gubernur tersukses di tanah air, saat kelangsungan rezim dibawah asuhan Jokowi?
Anies merupakan jatidiri yang langka. Kejujuran sikap dan sifatnya disaat pemerintahan kontemporer dibawah kepemimpinan Jokowi. Setiap kali menoleh kata Mahfud MD di setiap sisi pandang, sarat dengan segala macam kecurangan, pastinya kacamata publik juga terhadap multi diskresi politik dann hukum penguasa yang sifatnya aneh-aneh, diantaranya bahkan ada beberapa orang yang terpapar korupsi, malah dijadikan orang kepercayaan di kabinet? Jadi petinggi di BUMN, bahkan salah seorangnya dijadikan Capres di Tahun 2024.
Maka, Anies justru adalah orang Aneh di jaman now.
Kembali kepada sosok SBY dan figur AHY. Apakah Partai yang menjadikan dirinya sebagai tokoh panutan dan AHY selaku Pimpinan Pengurus Demokrat yang lebih dulu membuat sebuah koalisi bersama dengan Nasdem dan PKS. dengan kesepakatan nama koalisi adalah Partai Perubahan Untuk Persatuan (KPP) yang telah lebih dulu terbentuk daripada dua kelompok koalisi, yakni koalisi Capres PS (Gerindra dan PKB) Dan Koalisi Ganjar (PDIP. & PPP), dan entah Golkar dan PAN, karena mereka dulunya bersatu dalam koalisi gemuk minus PDIP.
Kemana AHY akan mereka bawa? Namun yang manapun partainya AHY, akan dibawa, yang jelas Anies terhempas dari peta politik Capres 2024. Maka tingkat polah para istanawan-istanawati, membuat sebagian publik, general menjadi kebingungan bahkan sampai ubun-ubun kepala mereka memanas, karena banyak berkurang enerji hanya terkuras untuk berpikir dan bertanya – tanya serta keheranan.
Apakah mereka tidak punya SDM, sebagai Bakal Cawapres di 2024. Apakah Moeldoko sebagai orang Istana dan tangan kanan penghuni tetap Tuan Jokowi untuk selama jadi presiden RI ada keterkaitannya ? Setidaknya tentu tahu tingkah dan sepak terjang Moeldoko, yang membuat gaduh partai Demokrat melalui KLB. Tahun 2021, di Medan, Sumut. Bahkan sampai kemeja hijau. Setidaknya dari sisi perspektif hukum, ada temuan tentang pembiaran oleh Jokowi, jika Jokowi mengetahui sepak terjang anak buahnya Moeldoko. Karena jika Jokowi ngeh, Jokowi punya akses tuk menstop atau memerintahkan Moeldoko untuk diam tertib dan berlaku manis, agar jangan berketerusan membuat malu kaum istana.
Apakah Moeldoko dengan fenomena yang ada saat ini, dirinya justru hanya sebagai pion, hanya sebagai pelaku praktek obstruksi, atau eksekutor lapangan, khusus sebagai lalakon figur algojo, mem-barrier, menyandera Partai Demokrat.
Jika dihubungkan dengan diskursus politik kotor Partai Golkar yang diisukan menawarkan bakal Capres kepada AHY, serta Boss dari Jokowi Sang Petugas Partai yang menawarkan AHY Bakal Cawapres, bahkan ” konon” Sang Ibu adalah Ketua Dewan Pengarah, Badan Pembina Ideologi Pancasila, namun attitude-nya bertolak belakang dengan Sila Persatuan? Ataukah mungkin konteks pada objek materi punya nilai tupoksi yang berbeda? Dewan Pengarah tidak memiliki domain pada ranah politik? “Jangan lupa sang Ibu ini kan Ketum Parpol , dan yang melakukan pembiaran adalah Anggota Partai dan pelakunya Moeldoko berperilaku bertentangan dengan Pancasila? Tidak etis jika malah memanfaatkan sandera yang ada, lalu mengajak gabung Ketua Umum Partai yang tersandera?”
Jadi batasan kerja suka-suka ? Suka-suka gak jelas !
“Jadi nampaknya semua pola diskursus politik para pembesar pada era Jokowi identik dengan pertanyaan ketus, ‘ KALIAN MAU APA, INI MAU KAMI ? ‘. Setidaknya sama atau se-liner identitas politiknya, berkesan semau gue “
Ini mungkin temuan dan kajian untuk kelak diperbaharui, agar sistim politik dan hukum tidak overlapping.
Namun semua anak panah tajam dengan ujung mata panah diberi nila, sebenarnya semua anak panah mengarah kepada Anies yang karakteristiknya face attitude, yang nice dan asing saat ini (dibaca; orang jujur) dimata mayoritas publik bangsa ini, oleh sebab selain cemerlang wawasan dan pola berpikirnya disertai kaya dengan berbagai karya-karya yang diakui, karena keberhasilan nyata, baik dari lembaga resmi negara, juga dari lembaga swasta (informal) nasional dan lembaga Internasional. Semata-mata karena kepiawaian dan leadershipnya. Perjuangan keras, sungguh-sungguh, dan faktor intelektualitas serta kecerdasan dan kejujuran (profesional dan proporsional dan akuntabilitas) semua tidak apriori namun berdasarkan data empirik. ” Oleh karenanya Orang Asing atau gaya sosok individu yang ganjil saat ini, mesti diwaspadai tidak boleh bebas bergerak, terlebih berkuasa dan mengatur-atur. “. Ruwet pola pikir terbolak balik, alias sungsang.
Maka serius, Anies riil ditakuti bak hantu disiang hari bagi para kelompok pesaingnya atau kelompok dengan pola pikir subjektifitas yang tinggi dan edunisme.
Jadi ibarat kontestan memperebutkan piala bergilir, Anies sudah the winner/ Sang Juara sebelum bertanding.
Maka sosok Anies harus diluluh lantakan, salah satunya melalui tebar image negatif dengan pola ofensif lewat kelompok tertentu, sampai dengan menyerang kepribadian terkait asal nenek moyang (rasis), justru kelompok penyerang dengan pola rasis, mempunyai sertipikasi S.1, S. 2 dan S. 3 betulan atau orisinil, alias asli, mereka lupa atau karena otak mereka dipenuhi arahan sarat rekayasa, entah kursus di negeri mana, sehingga melupakan makna sumpah pemuda 28 Oktober 1928 dan pesan dan harapan para leluhur bangsa, tentang saling hormat dalam framing “bhinneka tunggal ika”.
Maka, “selain pola yang digunakan mengkerdilkan sistim konstitusi atau hukum positif (ius konstitum), bahkan sengaja secara transparan atau telanjang mata, berbuat jauh dari budaya malu, amat miris, karena perilaku ketololan atau ndableg ini justru ditampilkan oleh beberapa sosok individu yang kategori derajatnya pigur publik, ” sehingga antiklimaks, yang seharusnya menjadi role model atau sikap panutan, ternyata prototif jumawa, dengan gaya implementasinya keblangsak.
Termasuk, ada tokoh tinggi eksekutif selain perangainya “ngasal plus wajah cengengesan”, kadang seolah body language mengiba, bahasa tubuh yang mimikri, berganti ganti, atau kondisional sesuai momentum. Jadi prinsipnya yang penting mendapatkan kelolosan bukan untuk memiliki kelulusan.
Dan salah satu strategi dari orang-orang berkepribadian tak jelas ini, amat arogan .selain kemaruk, serta ber-pola menggunakan segala cara (machiavelisme). Mereka ada dibalik layar dengan menggunakan pola lempar batu sembunyi tangan, gaya klasik yang tak mungkin mau bertanggung jawab, “mereka sebisanya manuver demi mencegah (Anies Baswedan) dengan metode machiavelisme serta homo homini lupus seperti kata Thommas Hobbes, untuk mendapatkan apa yang diinginkan “manusia bagai srigala kepada manusia lainnya”.
Maka kentara sekali banyak pihak yang ingin berusaha Anies dibatalkan selaku peserta kontestan, dengan berbagai cara, tanpa sedikitpun melalui cara yang halal, “karena Anies sebagai target sasaran ternyata adalah sosok asing,” sehingga Provinsi DKI. Jakarta mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) Selama 5 kali berturut turut dari BPK sejak 2017 – 2021.” Maka Anies selaku Gubernur DKI. Jakarta adalah sebagai orang ghuraba atau orang asing.
Namun bagaimana dengan jejak rekam Kedua Capres oponent Anies yang mendapat restu serta berpagar betis istana? “, sepengetahuan publik, paralel sebagai pengikut fanatis Jokowi, sehingga keberadaannya dibawah pengaruh, karena restu keduanya pun datang dari Presiden Jokowi, yang mengakui akan cawe-cawe untuk tokoh pengganti dirinya di 2024. “
” Benang merah antara Moeldoko yang seakan sosok sadis yang ingin merampok Partai Demokrat, dan sebagian lainnya dengan pola pendekatan ‘ rayuan pulau kelapa ‘, kepada SBY dan anak biologisnya AHY. yang keduanya SBY dan AHY merupakan sumber enerji dan sebagai tulang pondasi organisasi besar daripada Partai Demokrat. Sehingga peran antagonis dan melankolis mesti menjadi ikatan jerat kuat, menuju satu tujuan kearah penutup dan pembuka mata rantai “.
Lalu, “apakah metode keras dan sadis dan versi rangkul dan lunak ini, merupakan sebuah metode atau teori yang harus dijalankan, dengan kata lain sebuah konspirasi, ‘ yang dijadikan pola untuk digunakan para politisi dan penguasa pengeroyok dan pembantai Hak Berpolitik dan Hak Asasi Anies dan Hak Politik dan Hak Hukum Partai Demokrat ? ‘
Oleh para semua lawannya, yang berpotensi menjadi pelemahan lawan ( sosok Anies, dan sosok AHY serta SBY), karena jujur, ‘ dimata banyak publik, bahwa bakal semua lawan Anies, selain mini prestasi juga pemilik track record yang tercederai ‘, sehingga publik berprediksi, adanya modus dengan sinyal merah, mereka ingin merebut salah satu partai melalui sosok AHY. Misi-nya hanya satu, sementara agar Anies tercampakan, saat Capres 2024, begitupula hilangnya kuku kuat Partai Demokrat dari peta perpolitikan tanah air, dan lalu jangka panjangnya, Anies hilang dari pusat peredaran bakal Capres 2028 dan seterusnya, dan pendukung setianya Partai Demokrat asli pun, selanjutnya terhapus hilang bak debu, selain penguasa yang telah berlipat kekuatan oleh sebab kekuasan politik yang mereka miliki, dan kekuatan hukum yang mungkin sudah dipermak sedemikian rupa, entah telah menjadi model apa sistim hukum yang kekinian adalah UU. RI. No. 7 Tahun 2017. UU. Tentang Pemilu, khususnya menyangkut isi pasal terkait Presidential threshold ( minimal 20 % ) , kemudian apakah menjadi 30 % atau % 40 % ?
Lalu kelak masih adakah Partai Demokrat, bisa jadi ada, namun dengan tuan rumah yang berbeda, kemudian moral hazard justru semakin menguat dengan segala proteksi, kroni, fasilitas dan politik kekuasaan, serta semua kepentingan dan provit terus berlanjut serta lancar dinikmati “.
Memang tidak masuk akal, seolah bergabungnya partai (koalisi) Perubahan Untuk Persatuan/ KPP. Yang serius untuk kemajuan bangsa ini di semua bidang, serta semata – mata demi mencapai tujuan pada Sila ke ke- 5 pada Pancasila, ” Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia “. Namun miris, ” sebaliknya justru KPP. Dan Anies, dipandang bagai musuh bangsa, yang nir guna. namun cukup mengherankan, mereka hendak rangkul satu partai dari KPP. Sehingga Anies dimata mereka bagai barang yang bisa mencelakai atau nir guna ? namun ditakuti rezim, karena Anies merupakan komoditi super mahal, karena diprediksikan bakal calon juara, sehingga dinamika politiknya berkembang dengan isu keras, bahwa salah satu partai dari KPP. hendak mereka curi yaitu Partai Demokrat, sebelumnya pernah juga terbit isu, ada pihak ingin mencuri salah satu partai lainnya dari KPP. yakni Partai Nasdem, namun sudah tertepis kandas, oleh Surya Paloh dirigen Partai Nasdem yang konsisten dan konsekuen.
Sementara publik mayoritas dari para pendukung KPP. yakin 100 % bahwa Tokoh Mantan Petinggi TNI. Figur Negarawan, Sosok Mantan Presiden 2 kali Susilo Bambang Yudhoyono/ SBY. pemilik kunci dan gembok Partai Demokrat beserta Anak Biologisnya AHY. Tentu tidak mungkin mau menggadai harga dirinya didepan mata saat ini serta dihadapan kelak 2024 menuju sistim perubahan dari semua sisi yang kurang baik manjadi lebih elok, serta yang ada dan baik mesti terus dirawat dan terjaga.
Mengingat sosok beliau amat dihormati, cukup disegani, terbebas dari bercak kotor, serta Beliau SBY. Secara logika dan sejarah politik, tidak mungkin mau menyisakan sejarah dengan titik – titik noda utamanya dihadapan anak mantu dan cucu kandungnya, serta seluruh anak bangsa kelak. Terlebih SBY. Memiliki budaya malu, tidak doyan bohong dan tidak culun, melainkan intelektualitasnya amat dapat dipertanggung jawabkan bukan sekedar oleh mereka berdua SBY dan AHY. Namun dijamin, dapat dijamin jiwa kebangsaannya oleh mayoritas masyarakat bangsa ini , dan mengingat selalu terngiang pepatah bijak Soekarno, ” Jas Merah , Jangan Suka Melupakan Sejarah “, kata mutiara yang amat tersohor serta melegenda, dan pastinya buku catatan dunia pun akan turut menoreh tinta jika terkait orang besar model SBY. Termasuk salah seorang tokoh yang dulu dibenci kelompok PKI pada usia belasan tahun, maka tentu SBY tidak mau kontradiktif dari saat Ia berkarier hingga AHY. Diperebutkan partai – partai
Maka berita setengah jadi, terkait SBY dan tentang AHY. ” keduanya Anak dan Bapak Asli Biologis, ” akan termakan lalu terperangkap dengan hikayat adonan warna warni terlebih ngasal, maka sekali lagi publik tidak percaya, dan yakin publik sepertinya siap menghadapi apapun yang akan terjadi, membela secara konstitusi kepada Anies Baswedan calon yang serius dibenci lawan politiknya, oleh sebab Anies sosok ,tokoh yang memiliki kredibilitas mumpuni serta Anies punya modal extra mahal khususnya pada zaman orde kontemporer, yakni karakter asing atau janggal saat zaman now, yakni sosok yang akuntabilitas dan kredibilitas tinggi, karena Anies figur menjanjikan bangsa ini, dikarenakan memiliki perangai jujur, cerdas lagi terpercaya.
Kemudian kembali ke laptop. Jika prediktif akan ada program jangka pendek dan jangka panjang, tentu SBY dan AHY. Akan siap menjadi debu walau mesti mempertahankan Anies, daripada berdiri lalu menjadi tanah yang setiap harinya terinjak – injak. Kapan lagi ? segerakan ! tegakkan konstitusi. Sebagaimana agenda perlawanan antara warna putih cemerlang vesus si hitam kelam.























