Oleh: Entang Sastraatmadja-Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat
Pemerintahan Presiden Prabowo belum genap setahun, namun telah mencatatkan sejarah penting dalam penguasaan cadangan beras nasional. Menurut data pemerintah, hingga akhir Mei 2025, cadangan beras pemerintah telah mencapai 3,9 juta ton dan diproyeksikan menembus 4 juta ton saat panen raya berakhir. Ini merupakan capaian tertinggi dalam dua dekade terakhir.
Salah satu kunci keberhasilan lonjakan cadangan ini adalah meningkatnya penyerapan gabah oleh Perum BULOG. Jika pada tahun-tahun sebelumnya penyerapan hanya berkisar 1–1,2 juta ton, maka tahun ini tembus 2 juta ton. Ditambah dengan pengadaan tahun lalu yang juga sebesar 2 juta ton, maka total cadangan beras kini berada di angka 4 juta ton.
Bagi BULOG, ini bukan sekadar pencapaian, tapi juga tantangan besar. Mengelola 4 juta ton cadangan adalah pengalaman pertama, mengingat selama ini BULOG hanya terbiasa mengelola sekitar 2 juta ton. Maka, strategi pengamanan cadangan menjadi kebutuhan mendesak—bukan sekadar opsional.
Sebelum menyusun strategi, penting untuk mengidentifikasi tantangan utama dalam pengelolaan cadangan beras. Tantangan tersebut mencakup:
- Keterbatasan infrastruktur gudang. Banyak gudang yang tidak memadai secara kapasitas maupun kualitas.
- Penurunan mutu beras selama penyimpanan. Tanpa rotasi dan kontrol kualitas yang ketat, risiko kerusakan tinggi.
- Pengamanan fisik. Risiko kehilangan atau pencurian meningkat tanpa sistem keamanan yang memadai.
- Tingginya biaya penyimpanan. Cadangan besar berarti beban anggaran besar jika tidak dikelola efisien.
- Risiko pembusukan akibat rotasi stok yang buruk.
- Lemahnya pengawasan kualitas. Kualitas beras bisa menurun drastis jika sistem monitoring tidak berjalan.
Untuk menjawab tantangan ini, setidaknya ada enam strategi kunci yang perlu dijalankan BULOG secara simultan:
1. Diversifikasi Sumber Gabah
BULOG perlu memperluas sumber pasokan, tidak hanya dari petani lokal, tetapi juga dari importir atau pelaku usaha lain yang kredibel, guna menghindari ketergantungan pada satu wilayah atau musim.
2. Pengelolaan Gudang yang Profesional
Manajemen stok yang efisien—melalui rotasi berkala, pengendalian hama, dan pemantauan suhu kelembaban—harus diterapkan di seluruh lini.
3. Pengawasan Kualitas Ketat
Standar kualitas harus ditegakkan, mulai dari kadar air, warna, bau, hingga tekstur beras. Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan berkala.
4. Pengamanan Fisik Maksimal
Gudang-gudang penyimpanan perlu dilengkapi CCTV, pagar pembatas, sistem akses terbatas, serta pengawasan manusia 24 jam.
5. Kemitraan Strategis dengan Petani
BULOG dapat membangun hubungan jangka panjang dengan petani, termasuk melalui kontrak farming, guna menjamin suplai yang berkelanjutan dan berkualitas.
6. Manajemen Risiko Proaktif
Pemantauan faktor eksternal seperti cuaca ekstrem, harga pasar internasional, dan stabilitas geopolitik harus menjadi bagian dari perencanaan strategis BULOG.
Langkah cepat Presiden Prabowo membangun 25.000 gudang alternatif adalah respons konkret terhadap keterbatasan infrastruktur. Ini keputusan strategis yang patut diapresiasi, karena menyelesaikan akar masalah dengan pendekatan sistemik.
Mengamankan cadangan beras bukan sekadar soal logistik. Ini menyangkut lima isu strategis bangsa:
- Ketahanan pangan. Beras adalah kebutuhan pokok rakyat. Tanpa cadangan yang aman, ketahanan nasional goyah.
- Stabilitas harga. Cadangan besar menekan gejolak harga dan mengurangi dampak inflasi.
- Resiliensi terhadap krisis. Cadangan kuat adalah benteng pertahanan saat bencana, gagal panen, atau geopolitik global mengganggu pasokan.
- Kepercayaan publik. Pemerintah yang mampu menjaga stok pangan akan memperoleh legitimasi sosial yang lebih kuat.
- Kemandirian pangan. Cadangan yang cukup artinya kita tak perlu tergantung pada beras impor, yang rentan fluktuasi harga dan pasokan.
Singkatnya, pengelolaan 4 juta ton cadangan beras adalah misi besar yang tidak boleh gagal. BULOG kini berdiri di garis depan, bukan hanya sebagai operator logistik pangan, tetapi sebagai penjaga gerbang ketahanan nasional. Dan dalam konteks ini, strategi bukan sekadar rencana, tetapi amanah sejarah.

Oleh: Entang Sastraatmadja-Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat




















