Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Psikopat. Jika mendengar kata ini, kebanyakan dari kita ingatannya langsung melayang ke sosok kejam, sadis, bengis, bahkan pembunuh berdarah dingin.
Padahal tidak mesti demikian. Pasalnya, kondisi gangguan kejiwaan bernama psikopat ini berkelas-kelas. Ada kelas ringan, kelas sedang, hingga kelas berat. Nah, sosok pembunuh berdarah dingin itulah yang sementara ini kita kenal sebagai psikopat.
Sesungguhnya psikopat adalah istilah yang mengacu pada seseorang yang memiliki gangguan kepribadian antisosial atau antisocial personality disorder (ASPD). Orang dengan ASPD cenderung egois, manipulatif, tidak jujur, tidak empati, tidak takut, tidak punya perasaan bersalah, dan sulit mengendalikan dorongan atau keinginan diri mereka.
Dus, ternyata tidak punya empati terhadap orang lain pun termasuk gejala psikopat. Tidak punya perasaan bersalah ketika berbuat salah pun termasuk gejala psikopat.
Ihwal psikopat ini belakangan membetot perhatian publik. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Serang, Banten, Senin (5/6/2023), mengklaim menemukan 19 calon anggota legislatif (caleg) Pemilu 2024 terindikasi psikopat.
Hasil tersebut diperoleh setelah KPU Kota Serang menggelar tes kesehatan terhadap 695 caleg dari berbagai partai politik di rumah sakit dan puskesmas. Ada yang kondisinya ringan, sedang hingga berat, termasuk caleg petahana. Hanya satu orang yang kondisinya berat.
Untuk bisa lolos ke daftar calon tetap (DCT), mereka harus tes lagi hingga 19 Juli mendatang. Jika dalam tes kedua nanti kondisinya tak berubah, maka mereka akan gugur.
Pertanyaannya, mengapa hanya KPU Kota Serang yang mengungkap hal ini? Bagaimana dengan KPU di kota-kota lain, kabupaten-kabupaten, dan provinsi-provinsi di seluruh Indonesia bahkan KPU RI atau pusat? Apakah mereka tidak melakukan tes dan menemukan caleg-caleg yang terindikasi psikopat seperti KPU Kota Serang, baik ringan, sedang atau pun berat?
Selayaknya semua KPU mengikuti jejak KPU Kota Serang, memeriksa dan kemudian mengumumkan daftar caleg yang terindikasi psikopat.
Korupsi Marak
Di antara indikator pengidap gangguan jiwa psikopat adalah tak punya empati dan tak punya perasaan bersalah. Apakah maraknya kasus korupsi di legislatif, mulai dari DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi hingga DPR RI karena banyak anggota legislatif yang sesungguhnya mengidap gangguan jiwa bernama psikopat?
Sejauh ini belum ada studi tentang itu. Tetapi bila dilihat dari indikator gangguan jiwa psikopat, antara lain tak punya empati (kepada rakyat) dan tak punya perasaan bersalah (ketika berbuat salah), maka maraknya kasus korupsi di lembaga legislatif patut diduga salah satu pemicunya adalah gangguan jiwa bernama psikopat itu.
Lihat saja. Sejak awal era reformasi hingga kini, sudah ada ratusan anggota DPR RI yang terlibat korupsi. Di DPRD, mereka yang terlibat korupsi sudah mencapai sekira 3.700 orang.
Korupsi di legislatif bahkan menyentuh pucuk pimpinan tertinggi, yakni Setya Novanto (saat itu Ketua DPR RI) dan Irman Gusman (saat itu Ketua DPD RI).
Kalau masih punya empati kepada rakyat, terutama rakyat miskin, para anggota legislatif itu tak mungkin akan melakukan korupsi. Sebab, korupsi berarti merampas hak rakyat, yakni hak untuk hidup sejahtera.
Kalau masih punya perasaan bersalah, tak mungkin para anggota legislatif itu melakukan korupsi. Sebab, korupsi berarti merampok uang negara yang notabene uang rakyat yang membayar pajak.
Lihat pula, tak sedikit koruptor dari lembaga legislatif yang saat digelandang ke ruang tahanan atau gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih sempat tersenyum simpul bahkan tertawa lebar sambil melambaikan tangan. Kalau mereka masih punya perasaan bersalah, tentu hal itu tak akan terjadi.
Sisi Lain Psikopat
Psikopat ternyata punya sisi lain. Sebut saja sisi terang. Menurut sebuah studi, seperti dilansir sebuah sumber, yang dimuat di Journal of Personality and Social Psychology, ciri-ciri psikopat seperti kecenderungan untuk mendominasi yang tak kenal takut (fearless dominance) bisa menjadi faktor penentu kesuksesan seorang pemimpin politik.
Studi tersebut menganalisis data kepribadian 42 orang Presiden Amerika Serikat (AS) dan menemukan presiden yang memiliki skor tinggi pada ‘fearless dominance’ adalah presiden yang paling efektif dalam menjalankan roda pemerintahan.
Salah satu contoh presiden dengan ‘fearless dominance’ tinggi adalah Theodore Roosevelt, yang dikenal sebagai pahlawan perang dan pemimpin yang berani mengambil risiko besar.
Sebaliknya, presiden dengan ‘fearless dominance’ rendah seperti William Taft dan Millard Fillmore sering dilupakan oleh sejarah.
Ternyata, psikopat ada sisi gelap dan sisi terangnya sekaligus. Ibarat dua sisi dari sekeping mata uang. Dalam konteks politik di Indonesia, lebih dominan manakah, sisi gelap atau sisi terangnya?
Karyudi Sutajah Putra: Analisis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI).






















