“Success is not final, failure is not fatal: it is the courage to continue that counts.” — Winston Churchill
Kegagalan bukanlah aib. Banyak pemimpin besar dunia pernah gagal sebelum mencapai puncak kekuasaan. Namun, kegagalan menjadi persoalan serius ketika seseorang gagal berulang kali, memperoleh kesempatan terbesar dalam hidupnya, lalu kembali gagal saat memegang kekuasaan tertinggi.
Kisah politik Prabowo Subianto dapat dibaca dalam bingkai tersebut.
Ia pernah gagal menjadi calon wakil presiden pada era reformasi. Setelah itu, ia dua kali maju sebagai calon presiden pada 2014 dan 2019, dan dua kali pula dikalahkan rakyat di kotak suara. Pada 2024, takdir politik akhirnya berpihak kepadanya. Dengan dukungan penuh penguasa sebelumnya, sumber daya negara yang masif, serta koalisi politik raksasa, ia berhasil menduduki kursi Presiden Republik Indonesia.
Tetapi justru di sinilah ironi terbesar itu muncul.
Ketika kesempatan yang selama puluhan tahun dikejar akhirnya berada di tangannya, berbagai persoalan mendasar bangsa tetap tak menunjukkan tanda-tanda penyelesaian yang berarti. Pertumbuhan ekonomi berjalan biasa-biasa saja. Lapangan pekerjaan berkualitas masih sulit diperoleh. Daya beli masyarakat melemah. Harga kebutuhan pokok menjadi keluhan harian. Korupsi masih menjadi penyakit kronis yang belum menemukan obatnya.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya kesan bahwa pemerintahan baru hanya menjadi kelanjutan dari pemerintahan lama. Banyak rakyat yang mengharapkan perubahan justru melihat kesinambungan masalah yang diwariskan tanpa keberanian melakukan koreksi mendasar.
Sejarah menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak dinilai dari seberapa lama ia mengejar jabatan, melainkan dari apa yang berhasil ia lakukan setelah memperoleh jabatan tersebut.
Di sinilah perbandingan dengan sejumlah pemimpin Afrika menjadi menarik.
Selama bertahun-tahun, Afrika sering dipandang dunia sebagai benua yang tertinggal. Namun beberapa negara berhasil melahirkan pemimpin yang mampu mengubah nasib bangsanya secara nyata.
Lihatlah Paul Kagame di Rwanda. Negara itu keluar dari tragedi genosida yang menghancurkan hampir seluruh sendi kehidupan. Namun dalam beberapa dekade, Rwanda berhasil membangun stabilitas politik, memperbaiki tata kelola pemerintahan, menekan korupsi, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang konsisten.
Atau Seretse Khama yang meletakkan fondasi pembangunan Botswana. Ketika merdeka, Botswana termasuk negara termiskin di dunia. Kini negara itu sering dijadikan contoh keberhasilan pengelolaan sumber daya alam dan tata kelola pemerintahan yang relatif bersih di Afrika.
Bahkan Ellen Johnson Sirleaf berhasil membawa Liberia keluar dari perang saudara yang berkepanjangan dan mengembalikan kepercayaan dunia terhadap negaranya.
Mereka memimpin negara-negara yang jauh lebih miskin daripada Indonesia. Infrastruktur mereka jauh lebih terbatas. Modal pembangunan mereka jauh lebih kecil. Namun mereka mampu menghasilkan perubahan yang dapat diukur dan dirasakan rakyatnya.
Sebaliknya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, populasi produktif yang besar, wilayah strategis, serta anggaran negara yang terus meningkat setiap tahun. Dengan modal sebesar itu, alasan kegagalan semakin sulit dicari pembenarannya.
Ada sebuah kutipan terkenal dari Albert Einstein yang sering digunakan untuk menggambarkan kegagalan kepemimpinan:
“Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results.”
Jika pola kebijakan yang sama terus dipertahankan, jika lingkaran kekuasaan yang sama terus dipelihara, dan jika keberanian untuk melakukan koreksi tidak pernah muncul, maka hasil yang diperoleh pun tidak akan berbeda.
Pada akhirnya rakyat tidak akan mengingat berapa kali seseorang kalah dalam pemilihan umum. Rakyat juga tidak terlalu peduli berapa lama seseorang bercita-cita menjadi presiden.
Yang akan diingat sejarah adalah satu pertanyaan sederhana:
Apa yang berhasil dilakukan ketika kekuasaan itu akhirnya berada di tangan?
Dan apabila setelah gagal menjadi calon wakil presiden, gagal dua kali menjadi presiden, lalu ketika berhasil menjadi presiden pun masih gagal menghadirkan perubahan yang dijanjikan, maka sejarah mungkin akan mencatatnya sebagai sebuah paradoks politik yang langka: seseorang yang begitu lama mengejar kekuasaan, tetapi tidak mampu mengubah keadaan ketika kekuasaan itu akhirnya berhasil diraih.



















