Fusilatnews – Tepat satu tahun pemerintahannya, Presiden Prabowo Subianto kembali melakukan langkah simbolik yang khas: teatrikal, nasionalistik, sekaligus penuh pesan terselubung. Dalam Sidang Kabinet Paripurna, Senin (20/10/2025), Prabowo mengumumkan bahwa Indonesia akan memiliki mobil buatan dalam negeri—sebuah proyek yang disebutnya sebagai “jip buatan Indonesia.” Nama yang kemudian muncul di panggung publik adalah Maung, kendaraan hasil karya PT Pindad (Persero), yang kini bahkan telah menjadi mobil dinas resmi Presiden.
Pernyataan Prabowo bukan sekadar soal produksi otomotif nasional. Ia sedang berbicara kepada dua lapis audiens sekaligus: rakyat Indonesia yang haus akan kebanggaan, dan para elite yang terbiasa hidup dalam kemewahan simbolik. Ketika Prabowo berkata, “Sebentar lagi saudara-saudara harus pakai Maung semua. Saya enggak mau tahu,” lalu disambut tawa para menterinya, sesungguhnya ia sedang mencemooh sebuah esemasi—yakni gaya hidup birokrasi yang senang menampilkan status, bukan fungsi.
Maung, bagi Prabowo, bukan hanya kendaraan, melainkan metafora. Ia adalah perlawanan terhadap mental importir dan kolonialisme mental yang masih mendarah daging di lingkar kekuasaan. Dengan mewajibkan para menteri memakai Maung, Prabowo sedang menguji loyalitas simbolik mereka: apakah mereka siap menanggalkan gengsi mobil mewah buatan Eropa dan berganti ke mobil karya anak negeri? Dalam konteks ini, kelakar Prabowo bukan sekadar gurauan, melainkan sindiran keras yang dibungkus tawa.
Namun di balik retorika nasionalisme itu, ada juga aroma ironi. Mobil Maung yang diangkat sebagai kebanggaan nasional sesungguhnya belum sepenuhnya “lahir” dari rahim industri dalam negeri. Banyak komponennya masih hasil kolaborasi luar negeri, dan kemampuan produksinya terbatas. Artinya, proyek ini masih berada di tahap simbol, bukan substansi. Ketika Prabowo berkata, “Belum merupakan prestasi, tapi sudah kita mulai rintis,” ia seolah ingin mengantisipasi kritik itu lebih dulu. Ia sadar, simbol lebih cepat menggugah emosi rakyat ketimbang hasil nyata yang membutuhkan waktu panjang.
Jika dibandingkan dengan proyek Mobil Timor di era Soeharto, langkah Prabowo tampak lebih berhati-hati. Mobil Timor dulu digembar-gemborkan sebagai mobil nasional, padahal sejatinya merupakan KIA Sephia asal Korea yang hanya diganti emblem. Kini, Prabowo tampak berusaha menciptakan simbol yang lebih “berakar”—tidak langsung mengeklaim mobil nasional, melainkan “mobil buatan Indonesia.” Perbedaan semantik ini penting. Ia menunjukkan bahwa Prabowo paham politik simbolik: bahwa rakyat lebih mudah percaya pada narasi perjuangan ketimbang pengakuan hasil.
Di sinilah keahlian Prabowo bermain: menciptakan narasi heroik yang mudah dicerna. Ia tampil sebagai pemimpin yang “berani memulai,” bukan sekadar “menyelesaikan.” Ia paham bahwa dalam politik modern, imajinasi lebih penting daripada realisasi—asal imajinasi itu bisa dikemas dengan gaya strong leader yang konsisten ia tampilkan.
Namun, apakah ini hanya pencitraan? Tidak sesederhana itu. Prabowo tahu bahwa simbol bisa menjadi energi politik. Dengan menghidupkan kembali mimpi lama tentang kendaraan nasional, ia sedang menanamkan rasa percaya diri kolektif—bahwa Indonesia bisa mandiri, meski baru tahap rintisan. Tapi di saat yang sama, ia juga mengukuhkan narasi personalnya sebagai sosok yang berani menantang “kemapanan impor.”
Peluncuran Maung bukan hanya soal kendaraan militer atau sipil. Ia adalah panggung bagi Prabowo untuk mencemooh esemasi—yakni obsesi berlebihan pada citra modernitas impor. Dalam dunia politik yang dikuasai simbol dan persepsi, langkah ini bisa terbaca sebagai mockery terhadap elite yang kehilangan keindonesiaannya sendiri.
Maka ketika Maung meluncur di jalan, ia bukan sekadar kendaraan. Ia adalah pesan yang melaju: bahwa di bawah Prabowo, nasionalisme harus tampak gagah, bahkan kalau itu baru sebatas penampilan. Dan mungkin, di situlah paradoks Prabowo yang paling menarik—antara retorika kebanggaan dan realitas yang masih penuh tambalan.
























