Fusilatnews – Di panggung tasyakuran ulang tahun ke-61 Partai Golkar, Bahlil Lahadalia bicara dengan gaya khasnya: ringan tapi penuh kode. “Kalau belum bisa memberikan yang solid, minimal jangan buat gerakan tambahan,” ujarnya sambil menatap para kader di kantor DPP Partai Golkar. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tapi di tubuh Golkar, tak ada ucapan yang betul-betul sederhana.
“Gerakan tambahan” adalah istilah yang lahir dari pengalaman panjang partai tua ini menghadapi intrik internal. Di Golkar, setiap tepukan bahu bisa berarti lobi, setiap senyum bisa jadi sinyal faksi. Maka, ucapan Bahlil itu sejatinya bukan sekadar imbauan menjaga kekompakan, melainkan alarm dini bagi mereka yang mulai “bergerak sendiri”.
Bahlil tahu betul medan yang ia masuki. Ia bukan kader lama yang tumbuh dari akar beringin—bukan anak AMPI, bukan alumnus Kosgoro, bukan pula hasil perkaderan tradisional yang penuh intrik musyawarah. Ia datang dari luar, dari dunia birokrasi dan bisnis, dan kini diberi mandat memimpin partai yang hidup dari jaringan dan loyalitas. Di Golkar, loyalitas adalah mata uang yang kursnya bisa berubah setiap kali kekuasaan berganti.
Maka ketika ia mengingatkan agar tak ada “gerakan tambahan”, sesungguhnya ia sedang berbicara pada dua jenis kader: mereka yang masih setia pada bayangan Airlangga Hartarto, dan mereka yang sedang menakar peluang politik di bawah kepemimpinannya. Kalimat itu adalah pagar simbolik — upaya mencegah kebun beringin itu tumbuh liar tanpa arah.
Golkar, sejak Orde Baru, memang terbiasa hidup dalam “kekompakan yang terkontrol”. Di masa lalu, kontrol itu datang dari pusat kekuasaan bernama Soeharto. Kini, kontrol itu hendak dibangun ulang oleh Bahlil lewat gaya manajemen yang lebih teknokratik: disiplin, efisien, dan tanpa banyak sentimentalitas ideologis. Ia ingin menjadikan Golkar seperti perusahaan besar yang taat struktur, bukan arena tawar-menawar antarfaksi.
Namun mengelola Golkar bukan seperti mengelola kementerian. Di partai ini, semua orang punya sejarah, semua kursi punya cerita. Para politisi senior yang pernah merasakan panasnya kursi DPP tak akan mudah diarahkan hanya dengan kata “soliditas”. Mereka terbiasa hidup dalam “gerakan tambahan” — sebab justru dari gerakan tambahan itulah posisi tawar mereka tumbuh.
Ironisnya, Bahlil sendiri naik karena gerakan semacam itu: manuver politik yang gesit, komunikasi dua arah dengan lingkar kekuasaan, dan kemampuan membaca arah angin. Ia kini harus menertibkan hal yang dulu menjadi bahan bakar kariernya sendiri.
Di usia ke-61, Golkar ibarat pohon tua yang masih rindang tapi akarnya mulai menjalar ke mana-mana. Bahlil berusaha memangkas ranting liar agar partai itu tampak teratur, tapi setiap pangkasan bisa memunculkan luka. Ia tahu, partai ini tidak bisa dimatikan dengan disiplin, melainkan dihidupkan dengan seni mengelola perbedaan.
“Gerakan tambahan” mungkin terdengar seperti peringatan keras, tapi sejatinya itu adalah bentuk kegelisahan seorang ketua baru: bagaimana menjaga pohon besar agar tetap tegak di tengah badai ambisi.
Dan seperti pepatah lama di tubuh beringin, tak ada yang benar-benar diam di Golkar — mereka hanya menunggu waktu untuk bergerak lagi. Dengan atau tanpa tambahan.


























