Pertanyaan yang mengemuka hari ini: Mengapa Sylvester Matutina hingga kini belum ditahan?
Pertanyaan ini sesungguhnya tidak hanya menyasar persoalan teknis penegakan hukum, melainkan lebih jauh menyingkap jantung dari relasi kuasa dalam politik hukum Indonesia.
Dari sisi politik hukum, kasus Sylvester adalah cermin dari bagaimana hukum kerap dikompromikan dengan kepentingan kekuasaan. Sylvester bukan figur sembarangan. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh Jokowi lovers, bagian dari akar rumput Projo yang selama ini menjadi basis loyalitas politik Presiden Jokowi. Dengan posisi itu, Sylvester membawa simbol bahwa dirinya adalah representasi “wajah rakyat” yang berdiri di belakang Jokowi.
Maka, jika Sylvester ditahan, publik bisa menafsirnya sebagai rapuhnya benteng kekuasaan Jokowi. Sebab penahanan itu berarti pemerintah sedang menindak “anak kandung politiknya sendiri”. Hal tersebut berpotensi menimbulkan guncangan, bukan hanya pada tingkat persepsi publik, tetapi juga dalam barisan pendukung Jokowi di lapangan. Dalam bahasa politik, penahanan Sylvester akan menjadi “retakan simbolis” yang menurunkan aura dominasi Jokowi di tengah pemerintahan KMP.
Sebaliknya, dengan tidak ditahannya Sylvester, pesan yang hendak ditegaskan justru sebaliknya: bahwa Jokowi masih memegang kendali penuh atas kekuasaan. Bahwa bersama Jokowi adalah tempat yang aman, bahkan bagi mereka yang sedang berhadapan dengan hukum. Efek psikologis ini tentu memperkuat keyakinan basis massa, bahwa kekuasaan Jokowi bukan hanya protektif, tetapi juga masih dominan dan tidak mudah digoyahkan.
Namun, dari sisi penegakan hukum, hal ini menunjukkan paradoks yang sangat serius. Hukum kehilangan kepastian, karena ia tampak tunduk pada konfigurasi politik. Hukum seolah hanya berlaku keras pada mereka yang tidak memiliki akses pada kekuasaan, namun menjadi tumpul ketika menyentuh lingkar dalam penguasa. Kasus Sylvester dengan demikian menjadi parameter nyata bahwa negara hukum Indonesia masih berada pada level retoris, bukan praksis.
Apakah di belakang Sylvester ada orang kuat yang membackingnya? Pertanyaan ini sesungguhnya telah dijawab dengan sendirinya. Tidak perlu orang kuat di belakang Sylvester, sebab sosok yang melindunginya justru adalah “orang terkuat” dalam sistem politik saat ini: Presiden itu sendiri.
Pada titik inilah, politik hukum memperlihatkan wajah aslinya: hukum hanyalah alat, dan kekuasaan adalah penentu. Sylvester Matutina hanyalah satu contoh kecil, tapi ia membuka tabir besar bahwa keadilan di negeri ini masih ditentukan oleh siapa yang berada di belakang Anda, bukan oleh apa yang Anda lakukan.
























