Oleh : Dr. Susilawati Saras SE.,MM.,MA.,M.han – Intelektual Bela Negara
Kehidupan manusia terus berkembang semakin modern dengan mengedepankan hak azasi manusia (HAM). Setiap manusia memiliki ruang atau wilayah pribadi yang tidak boleh dimasuki tanpa seizin dari setiap individu. Ini dimaksudkan sebagai penghargaan kepada setiap manusia bahwa dijamin hak dasar hidup sesuai kehendaknya. Untuk itu maka setiap negara di dunia berupaya untuk melindungi seluruh rakyatnya dari berbagai ancaman, gangguan yang menakutkan dan melemahkan. Sejatinya hari ini sudah tidak ada lagi manusia yang hidup dalam ketakutan dan kecemasan tinggi akibat perang, kejahatan dan lain-lain.
Pada pembukaan UUD 1945 tertulis “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
Di era modern saat ini, semangat seluruh negara-negara di dunia untuk mewujudkan perdamaian dunia dapat dilakukan dengan berbagai bentuk diplomasi dengan seni, budaya, pendidikan, persahabatan dan olahraga. Diplomasi tidak semata harus dilaksanakan di ruang-ruang formil yang justru sering memunculkan ketegangan seperti di ruang sidang PBB dan sejenisnya tapi juga di ruang- ruang terbuka yang lebih hangat.
Contoh, beberapa waktu lalu Indonesia diputuskan akan menjadi tuan rumah sepak bola U-20 yang salah satu negara pesertanya adalah Israel. Namun disayangkan, karena terjadi pro dan kontra yang begitu keras di tanah air akhirnya batal giat akbar tersebut dilaksanakan di Indonesia. Jika tidak dibatalkan tentu memberi keuntungan ekstra bagi Indonesia, mengingat Israel adalah musuh Palestina harapannya berteman dengan Israel akan membuka peluang pertemanan antara Israel dan Palestina juga. Ini momen yang sangat baik, selain mendapat keuntungan bahwa timnas U-20 semakin percaya diri tampil di panggung internasional, juga memberi image positif bagi Indonesia di mata dunia bahwa Indonesia dianggap mampu sebagai jembatan perdamaian antara negara yang berperang selain tentunya dampak ekonomi lainnya.
Kehidupan harus berubah lebih baik, seorang ilmuwan asal Jerman Albert Einsten berkata “bagaimana mendapatkan hasil berbeda dengan cara yang sama” (terus memusuhi Israel yang menjajah Palestina).
Bangsa Indonesia harus berterimakasih kepada Palestina, selain sebagai bangsa mayoritas muslim seperti Indonesia, juga sebagai negara pertama di dunia yang mengakui Indonesia menjadi sebuah negara. Secara psikologi tentu memiliki hubungan erat, namun sejatinya dapat turut serta menghentikan perang antara Israel-Palestina, dengan cara membangun persahabatan lewat olahraga ini.
Sangat disayangkan momentum seperti ini tidak disikapi dengan bijak oleh bangsa Indonesia, belum tentu dalam waktu dekat hal seperti ini akan terjadi lagi sejatinya pemerintah Indonesia harus tegas jika sesuai konstitusi tidak perlu ragu dan bingung. Berbicara tentang hubungan antar negara, tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar karena masing- masing negara harus lebih dulu menyesuaikan diri masing-masing sebelum berlanjut pada kesepakatan- kesepakatan yang menguntungkan.
Terlewat sudah momen itu, yang paling terdampak adalah generasi muda Indonesia yang sedang semangat berprestasi di bidang olahraga dapat tampil di panggung dunia membentuk karakter percaya diri yang baik dalam berkarya untuk menorehkan tinta emas bagi Indonesia di panggung internasional.
Pentingnya masyarakat Indonesia memahami dengan baik konstitusi, agar hal- hal seperti ini tidak terjadi lagi. Diplomasi yang baik dilakukan dengan berbagai cara selama dalam alur yang baik berdampak pada kualitas sumber daya manusia Indonesia terus meningkat baik dan itu sangat dibutuhkan bagi kemajuan Indonesia.
























