Dalam pemahaman saya, hidayah itu telah sampai pada pikiran dan hati Surya Paloh. Mengapa? Sebab tanpa hidayah, Ia tidak akan mencalonkan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar. Ia akan berusaha untuk bisa mencalon dirinya sendiri. Seperti terjadi pada Ketum-ketum Partai lain. Tetapi karena radar hati dan pikiranya, sadar akan kekurangan yang ada pada dirinya, dan potensi unggul itu ada pada diri orang lain, lalu merekalah yang kemudian menjadi pilihan untuk dimenangkan menjadi Presiden/Wakil Presiden.
Inilah dalam terminology agama, disebut sebagai Hidayah Al-Fithri (Hidayah Fitri). Ia adalah jenis hidayah yang diberikan kepada setiap individu sejak lahir. Ini adalah pemahaman bawaan yang ada dalam diri manusia tentang keberadaan Tuhan dan asas-asas moral yang mendasar. Hidayah ini menciptakan kesadaran fitrah atau naluri agama.
Dalam konteks agama, “hidayah” adalah kata yang sering digunakan dan memiliki makna penting. Hidayah merujuk pada panduan, petunjuk, atau cahaya spiritual yang diberikan oleh Tuhan atau yang Ilahi kepada individu. Ini adalah konsep yang khusus dalam Islam dan banyak agama lainnya, seperti Kristen dan Yahudi.
Cahaya spiritual hanya akan terlihat dan tertangkap oleh suatu kesadaran yang terbentuk oleh referensi kecerdasan, wawasan dan pengetahuan. Ia tidak dapat dimiliki oleh mereka yang buta pengatahuan.
Dalam agama-agama lain, konsep serupa dapat disebut sebagai “iluminasi rohani,” “pencerahan,” atau “panduan ilahi.” Artinya, individu percaya bahwa mereka diberikan panduan oleh Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi untuk menjalani kehidupan yang benar, baik, dan sesuai dengan nilai-nilai agama mereka.
Latar belakang Anies dan Imin, mudah mencair dalam berbagai hal. Umpamanya tradisi Nahdiyin, bisa menjadi cair dalam tubuh Anies, karena wawasan kedalaman ke-Islaman Anies. Pengalamam Cak Imin dalam dunia politik, mudah larut pada diri Anies, karena luasnya samudra ilmu Anies sebagai intelektual. Visi melihat Indonesia kedepan, mereka berdua sudah dalam satu frekuensi sehingga resonansinya mudah diterima.
Coba kita lihat Prabowo dan Gibran, bagaimana mereka faham terhadap inti dari ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia. Kejadian seperti Jokowi memilh Menag yang sekarang, ini nyeleneh dari fatsun yang lazim. Baru kali ini bukan, ada Menag RI, yang kualitas nya sejauh jarak langit dan bumi dengan Menag-menag RI sebelumnya. Apa yang akan didapat dari kinerja model menag RI seperti itu?
Prabowo (mu’alaf) dan Gibran, dalam pemahanan agama adalah baru pada level iqra satu, pun masih harus dibimbing. Duet mereka dalam konteks apapun jomplang. Posisi Gibran ada dalan pendulum minus. Tidak masuk dalam dynamic equilibrium yang bisa saling mengisi (empowering).
Teringat dialog saya dengan Prof Hogan – Mcquarie University Australia – dalam suatu sore di rumahnya Sydney. Saat-saat sedang menjadi diskursus dunia, apalah George Bush Junior akan menyerang Iraq atau tidak, ditengah-tengah demo diseluruh dunia, menyerukan agar Amerika tidak menyerang Iraq.
“it is not easy to predict an idiot of his decision” – tidak mudah memahi keputusan seorang yang idiot, kata Hogab. Dan betul, akhirnya Iraq dihancur luluh-lantahkan oleh Bomb Amerika.
Kira-kira sama halnya dengan keputusan Prabowo, orang sekelas Yusril Ihza Mahendra, Airlangga Hartarto, Fahri Hamzah cs, tak menjadi pertimabngn kuat menjadi wakilmya. Bila pertimbangannya soal elektabilitas, apa Gibran identic dengan elektabilitas Bapaknya? Lalu apa dasarnya memilih Gibran.
Apalagi kalau kita katakan sebagai “tidak mendapat hidayah” atau tersesat kalah ulah sendiri.
Wallahu a’lam.


























