Oleh: Paman BED
Dua bungkus rokok Djie Sam Soe itu habis dibagikan kepada teman-teman satu sel tahanannya. Mereka bukan orang-orang dengan wajah ramah. Sebagian bertubuh kekar, bermata tajam, dengan ekspresi keras yang memantulkan kehidupan jalanan yang panjang. Preman kelas bawah. Orang-orang yang terbiasa hidup di pinggir hukum.
Namun, ketika rokok itu dibagikan, mereka tetap mengucapkan terima kasih.
Ada sesuatu yang masih tersisa dalam diri mereka: adab.
Rokok itu dibagikan oleh seorang pemuda asal Papua. Seorang siswa SMA. Usianya masih remaja, tetapi tubuhnya tampak matang seperti lelaki dewasa. Tingginya sekitar 165 sentimeter. Kulit hitam pekat khas Papua pedalaman. Rambut keriting kecil-kecil yang melingkar rapat. Berewok tipis menghiasi dagu dan kumis samar di atas bibir.
Sekilas orang akan mengira ia pria dewasa. Padahal ia masih pelajar.
Giginya putih bersih. Sesekali ia menyeringai kecil, seperti menertawakan dirinya sendiri—antara malu, sedih, dan bingung menghadapi keadaan.
Betapa tidak.
Seorang pelajar SMA tertangkap basah oleh polisi saat memeras pedagang kaki lima. Kini ia duduk di dalam sel tahanan.
Kesempatan yang Pernah Terbuka Lebar
Pemuda itu berasal dari pedalaman Papua, sekitar Merauke. Ia dibawa ke Jawa sebagai anak asuh oleh seorang prajurit TNI Angkatan Darat yang pernah bertugas di sana.
Program anak asuh ini sebenarnya sangat mulia: memberi kesempatan pendidikan agar anak-anak Papua memiliki masa depan yang lebih baik.
Namun, seperti semua ikhtiar manusia, tidak semua kisah berakhir indah. Ada yang tersesat di tengah jalan.
Pemuda ini salah satunya.
Orang tua asuhnya akhirnya menyerah dan ia diusir dari rumah karena dianggap sudah keterlaluan. Padahal nasihat telah diberikan berkali-kali. Uang saku tidak pernah terlambat. Kebutuhan sekolah dipenuhi.
Tetapi ia memilih jalan lain.
Masih teringat jelas dalam benaknya tekanan psikologis yang ia rasakan saat pertama kali masuk sekolah. Lingkungan baru itu terasa asing dan menakutkan. Secara fisik ia sungguh berbeda dengan teman-teman sekelasnya.
Tubuhnya besar. Kulitnya hitam pekat. Wajahnya terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan dengan remaja seusianya.
Perbedaan itu membuatnya merasa terasing.
Alih-alih diterima, ia justru merasa menjadi tontonan.
Hanya beberapa siswa yang dikenal bandel—yang sering ditegur guru—yang bersedia berteman dengannya. Di dalam kelompok kecil itulah ia merasa diterima.
Ironisnya, karena tubuhnya besar dan penampilannya keras, ia justru dianggap sebagai pemimpin kelompok.
Ketika mereka berjalan bersama di luar sekolah, dialah yang paling diandalkan.
Keterasingan itu perlahan berubah menjadi pelarian.
Minuman keras menjadi kebiasaan. Dan ketika uang tidak cukup untuk membiayai kebiasaan itu, ia mulai memalak pedagang kecil dan sopir angkutan umum.
Sampai akhirnya polisi menghentikan langkahnya.
Ketika Masih Ada Orang yang Peduli
Ironis.
Bukan karena ia tidak memiliki kesempatan, justru karena kesempatan itu tidak dijaga.
Allah mengingatkan manusia dengan sangat jelas:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Meski diusir dari rumah, nasib baik belum sepenuhnya meninggalkan pemuda ini.
Seorang kerabat dari keluarga asuhnya masih peduli. Ia menampung pemuda itu dan berusaha menyelamatkan masa depannya dengan menemui kepala sekolah.
Keputusan sekolah cukup mengejutkan.
Seluruh biaya pendidikan digratiskan hingga ia lulus, dengan satu syarat sederhana: datang ke sekolah setiap hari dan belajar dengan baik.
Kesempatan kedua terbuka.
Namun sering kali hidup tidak runtuh karena kurangnya peluang, melainkan karena kegagalan manusia mengendalikan dirinya sendiri.
Di Balik Tubuh Besar, Ada Hati yang Bergetar
Hari itu tanggal 25 Desember.
Di tengah riuh percakapan para penghuni sel yang keras, ia duduk diam dengan tatapan kosong.
Di hadapannya berdiri seseorang yang menjenguknya: adik kandung dari orang tua asuh barunya. Sosok yang masih sudi peduli.
Tangan mereka saling menggenggam.
Erat.
Lama.
Seolah pemuda itu takut genggaman itu dilepaskan.
Bibirnya bergetar.
Ucapan terima kasih dan permohonan maaf keluar perlahan. Ia mengaku malu untuk pulang. Ia merasa tidak pantas tinggal di rumah orang yang sudah begitu baik kepadanya.
Ia hanya menitipkan satu pesan:
Agar permintaan maafnya disampaikan kepada orang tua asuhnya.
Tubuhnya besar. Wajahnya keras.
Namun saat itu terlihat jelas: hatinya lembut.
Ia menyesal.
Hati Manusia Tidak Pernah Sepenuhnya Mati
Peristiwa kecil di dalam sel tahanan itu mengingatkan kita pada satu hal penting:
Hati manusia pada dasarnya diciptakan lembut.
Ia mengeras hanya karena terlalu lama tenggelam dalam kebiasaan buruk dan lingkungan yang salah.
Allah menggambarkan hati yang hidup dalam Al-Qur’an:
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik… kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya merinding karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 23)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Penyesalan adalah tanda bahwa hati belum sepenuhnya mati.
Selama manusia masih mampu menyesal, pintu perubahan sebenarnya belum tertutup.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Penyesalan adalah bagian dari taubat.”
(HR. Ibn Majah)
Jalan Pulang
Kisah pemuda Papua ini adalah potret kehidupan.
Banyak orang telah diberi kesempatan, pendidikan, dan dikelilingi orang-orang baik, namun kalah oleh kebiasaan buruk yang dibiarkan tumbuh.
Namun manusia tidak pernah benar-benar kehilangan hatinya.
Hati itu hanya tertutup.
Dan kadang ia baru berbicara ketika hidup mengguncangnya keras—melalui kegagalan, atau melalui jeruji besi.
Ketika waktu kunjungan berakhir, pemuda itu melepaskan genggaman tangan orang yang menjenguknya dan kembali ke sudut sel.
Di sekelilingnya, asap rokok dari kawan-kawan sel memenuhi ruangan.
Tak ada yang tahu badai apa yang sedang berlangsung di dalam batinnya.
Namun di balik wajah keras itu, ada seorang remaja yang sedang belajar memahami makna penyesalan.
Selama hatinya masih mampu bergetar, jalan pulang itu akan selalu ada.
Referensi
- Al-Qur’anul Karim, QS. Ar-Ra’d:11 dan QS. Az-Zumar:23
- Shahih Bukhari & Shahih Muslim (Hadits tentang hati)
- Sunan Ibn Majah (Hadits tentang penyesalan sebagai bagian dari taubat)

Oleh: Paman BED





















