Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Jakarta, Fusilatnews – “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet,” kata William Shakespeare (1564-1616), pujangga terbesar Inggris, yang artinya kurang lebih, “Apalah arti sebuah nama? Andaikata kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan beraroma wangi.”
Demikianlah. Mau disebut “Raja Jawa” atau “Mulyono”, intinya sama saja: orang kuat!
Dan Raja Jawa atau Mulyono itu merujuk pada sosok yang satu atau sama: Joko Widodo!
Adalah Bahlil Lahadalia yang secara vulgar menyebut sosok Raja Jawa saat dirinya terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar dalam Musyawarah Nasional XI di Jakarta, Rabu (21/8/2024).
Bahlil mendeskripsikan Raja Jawa itu “ngeri-ngeri sedap”. Siapa pun yang berani main-main dengannya, maka akan celaka.
Meski Bahlil tak menyebut nama, namun publik kemudian mengasosiasikan Raja Jawa itu dengan Presiden Jokowi.
Ironisnya, kendati Bahlil menggambarkan sosok Raja Jawa itu “ngeri-ngeri sedap”, namun sejauh ini tak ada respons apa pun dari Jokowi di ranah publik atas sebutan Raja Jawa dari Bahlil itu. Entah di ranah privat mereka berdua.
Atau mungkin Jokowi justru menikmati bahkan bangga dengan sebutan Raja Jawa itu. Sebutan tersebut pun menjadi semacam peringatan bahkan ancaman bagi siapa pun yang hendak bermain-main dengan Jokowi.
Jokowi merasa terwakili oleh Bahlil. Tak perlu memberikan peringatan atau ancaman secara langsung, kini pihak-pihak yang mau bermain-main dengan Jokowi akan berpikir seribu kali.
Atau mungkin pula Jokowi memang mengandaikan atau mengidentifikasi dirinya sebagai raja. Lihat saja saat pelantikan jabatannya di periode pertama, 20 Oktober 2014, Jokowi menaiki kereta kencana dari Semanggi menuju Istana Merdeka.
Kereta kencana itu milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, namun kuda dan kusir atau saisnya sengaja didatangkan dari Solo atau Surakarta, Jawa Tengah, kota kelahiran Jokowi.
Di Solo juga ada dua kerajaan, yakni Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran.
Identifikasi Jokowi sebagai raja juga klop dengan upaya wong Solo itu untuk melanggengkan kekuasaannya seperti raja, baik melalui wacana tiga periode dengan amandemen Pasal 7 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, ataupun perpanjangan masa jabatan di periode kedua selama dua tahun dengan dalih ada pandemi Covid 19 yang melanda Indonesia.
Sayangnya, upaya Jokowi menjadikan dirinya laksana raja terganjal oleh penolakan publik, terutama Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
Ganti Nama
Belum reda riuh-rendah ihwal Raja Jawa, kini muncul sebutan Mulyono. Adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Jawa Barat Ono Surono yang melontarkan sebutan Mulyono itu.
Ceritanya, DPD PDIP Jabar mau mengusung Anies Baswedan sebagai calon gubernur Jabar di menit-menit terakhir pendaftaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024, Kamis (29/8/2024) malam. Setelah melalui tarik-ulur, akhirnya Anies batal diajukan. Ono Surono kemudian menyebut nama Mulyono yang telah menggagalkan pencalonan Anies tersebut, setelah di Jakarta juga gagal.
Publik kemudian mengasosiasikan nama Mulyono itu dengan Presiden Jokowi. Maklum, Mulyono adalah nama kecil Jokowi yang saat itu sakit-sakitan sehingga namanya diganti menjadi Joko Widodo, sebagaimana lazimnya kebiasaan masyarakat Jawa. Hal ini pun diakui Jokowi sendiri.
Cerita pergantian nama Jokowi itu dikisahkan dalam buku, “Jokowi Menuju Cahaya” karya Alberthiene Endah yang diluncurkan pada Kamis (13/12/2018), yang juga dihadiri Jokowi.
“Saya terlahir dengan nama Mulyono. Tapi, nama itu tak terlalu lama saya miliki karena orang tua saya segera mencarikan nama baru ketika saya berulang kali sakit,” kata Jokowi dalam buku tersebut, seperti dikutip sebuah media.
“Maka, nama Mulyono kemudian diganti dengan Joko Widodo. Boleh tidak percaya, saya kemudian tumbuh sehat. Itu misteri,” kata Jokowi.
Seperti Raja Jawa, Mulyono juga digambarkan Ono Surono sebagai sosok yang kuat, yang bisa menggagalkan pencalonan Gubernur DKI Jakarta 2017-2022 itu baik di Jakarta maupun Jabar.
Habis Raja Jawa, terbitlah Mulyono, lalu terbitlah …


























