By Paman BED
Anak kunci locker disodorkan kepadanya. Satu per satu, telepon genggam, jam tangan, dompet, dan seluruh benda pribadi berpindah tangan menuju kotak penyimpanan. Ia melangkah masuk ke aula besar—ruang temu antara mereka yang dirampas kebebasannya dan mereka yang masih menyebut diri “bebas”.
Prosedur kunjungan dijalankan tanpa cela. Setiap pengunjung diwajibkan masuk hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Makanan tak boleh sembarang lewat; semuanya mesti tunduk pada pemeriksaan petugas lapas. Keluarga narapidana yang rutin datang tampak tenang, hafal ritme, hafal batas. Berbeda dengan seorang auditor senior yang masih kikuk—tatapannya mengikuti proses pengecapan di telapak tangan: cap tak kasatmata, hanya muncul bila disinari cahaya tertentu. Sebuah tanda bahwa bahkan kebebasan pun di sini bersyarat.
Waktu kunjungan singkat. Aula riuh oleh emosi yang tak sempat disaring. Seorang anak menangis memeluk ayahnya. Seorang suami menggenggam tangan istrinya lebih lama dari yang diizinkan. Ada keluarga yang memilih diam, menjaga silaturahim tanpa menyebut perkara pidana yang telah merobek hidup mereka. Di ruang ini, cinta dan luka berdiri berdampingan tanpa banyak kata.
Namun apa yang terlihat di ruang kunjungan hanyalah permukaan. Di balik tembok, berlapis kisah yang tak pernah tercatat di berkas perkara: fitnah yang dilembagakan, jebakan kawan yang dilegalkan, suap yang disucikan prosedur, dan kepura-puraan yang disamarkan sebagai normalitas. Semua rapi, semua sah, semua menenangkan mata luar—namun menggerogoti batin mereka yang terperangkap di dalamnya.
Sang auditor termenung. Ia paham, penjara bukanlah vonis terakhir. Ia hanyalah miniatur dunia. Ada yang benar-benar bersalah, ada yang terseret arus, dan ada pula yang dipaksa mengaku bersalah demi menjaga kenyamanan sistem. Dunia, pikirnya, hanyalah pengadilan sementara. Keadilan sejati bukan milik palu hakim, melainkan hak prerogatif Allah semata, yang akan ditegakkan di akhirat kelak.
Firman Allah terngiang dalam benaknya:
“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak.”
(QS. Ibrahim [14]:42)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini adalah peringatan keras agar orang beriman tidak tertipu oleh jeda waktu yang dinikmati para pelaku kezaliman. Penangguhan bukanlah pembebasan, melainkan istidraj—penundaan yang justru menambah berat hisab. Al-Qurthubi menegaskan, dunia hanyalah panggung ujian; yang selamat bukan mereka yang lolos dari hukum dunia, melainkan mereka yang lolos dari perhitungan akhirat.
Ia pun teringat sabda Nabi ﷺ:
“Dunia ini adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.”
(HR. Muslim no. 2956)
Menurut Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, hadits ini menyingkap relativitas nikmat. Seberat apa pun kesempitan hidup orang beriman di dunia, semuanya tetap lebih ringan dibandingkan dengan kenikmatan abadi di surga. Sebaliknya, seluas apa pun kemewahan orang kafir di dunia, ia tetap sempit bila dibandingkan dengan azab akhirat.
Hotel prodeo ini pun menjelma cermin kecil dunia: penuh aturan, keterbatasan, dan kepalsuan yang dilegalkan. Namun bagi orang beriman, semua hanyalah penjara sementara. Di balik pintu dunia, ada keadilan Allah yang sempurna—tak bisa disuap, tak bisa dimanipulasi, dan tak pernah salah alamat.
By Paman BED





















