Oleh: White Lily
Jika dunia memiliki bintang Michelin untuk para koki, barangkali langit pun tak akan cukup luas untuk menampung bintang-bintang yang layak disematkan kepada para ibu. Sebab di dapur kecil yang sederhana itu, tersembunyi seorang maestro sejati—yang tak pernah mengejar pujian, tak menuntut pengakuan, dan tak menuliskan resepnya dalam buku tebal. Ia menuliskannya langsung di relung hati kita.
Ibu adalah chef sejati karena ia memahami rahasia paling mendasar dari seni kuliner: bahwa makanan bukan sekadar perkara rasa, melainkan cinta yang diaduk perlahan, kesabaran yang direbus hingga lunak, dan ketulusan yang dimasak dengan api kecil. Ia tahu kapan kita pulang dengan langkah lesu dan hati letih; saat itulah semangkuk sup hangat disajikan—berbicara lebih fasih daripada seribu kalimat penghiburan.
Tak ada sekolah kuliner termahal yang mampu mengajarkan kepekaan seorang ibu. Ia hafal betul selera setiap penghuni rumah: kakak sulung yang tak menyukai bawang putih, si bungsu yang alergi telur, dan ayah yang selalu meminta sambal terpisah di piring kecil. Ia adalah pencicip paling jujur, peracik rasa paling telaten, sekaligus penyempurna resep yang tak pernah berhenti belajar—dari dapur nenek ke dapur ibu, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Resep-resep itu mengalir seperti sungai yang tak pernah kering.
Dalam ingatan kita, aroma masakan ibu adalah peta yang selalu menuntun jalan pulang. Di perantauan, saat lidah merindukan rasa yang akrab, sesungguhnya yang kita cari bukan semata makanan, melainkan kehangatan yang ia sisipkan di setiap sendok sayur. Kita boleh duduk di restoran mahal dengan koki bertaraf internasional, namun tak ada yang benar-benar mampu menandingi nasi goreng ibu yang sederhana—karena di dalamnya tersimpan sejarah, pelukan yang tak terlihat, dan pengorbanan yang tak pernah dihitung.
Ibu memasak bukan demi tepuk tangan atau bintang penghargaan. Ia memasak karena baginya, melihat kita makan dengan lahap adalah kebahagiaan yang tak bisa ditukar dengan apa pun. Di matanya, setiap suap adalah doa, setiap hidangan adalah ikhtiar agar kita tetap sehat, tetap kuat, dan selalu merasa dicintai.
Maka biarlah para chef terkenal di layar televisi menuai sorak dan pengakuan dunia. Namun di dapur kenangan kita, di ruang terdalam hati kita, gelar Chef Terbaik di Dunia hanya pantas disematkan kepada satu nama: Ibu. Sebab masakannya bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghangatkan jiwa—dan tak ada bumbu termahal di dunia ini yang mampu meniru resep rahasia yang ia miliki: cinta tanpa syarat.





















