Jakarta, Fusilatnews.com – Salah satu tujuan kedatangan bangsa Eropa, termasuk Belanda, ke Indonesia adalah untuk menyebarkan agama Kristen atau gospel. Dalam setiap pelayaran, biasanya bangsa Belanda membawa misionaris yang bertugas sebagai penyebar agama Kristen Protestan. Salah satu daerah tujuan misionaris Belanda adalah tanah Batak, Sumatera Utara.
Dikutip Kompas.com, Kamis (10/11/2022), misionaris Belanda pertama kali menginjak tanah Batak pada sekitar tahun 1825-an, dan sejak saat itu berhasil mendapat kepercayaan sebagian masyarakat. Namun, kehadiran para misionaris Belanda yang menyebarkan agama Kristen tidak disetujui oleh Sisingamangaraja XII, hingga menjadi salah satu pemicu meletusnya Perang Batak (1878-1907).
Ya, mengapa Sisingamangaraja XII menentang Kristenisasi yang dilakukan Belanda? Sisingamangaraja XII adalah “raja” terakhir di tanah Batak yang memimpin Perang Batak atau Perang Sisingamangaraja. Hingga pertengahan abad ke-19, tanah Batak masih bebas dari kekuasaan Belanda. Struktur masyarakat di tanah Batak didasarkan pada bentuk kesatuan ikatan-ikatan kampung atau huta. Tiap kesatuan huta, yang diperintah oleh raja huta, didiami oleh satu marga.
Selain itu, terdapat horja (gabungan beberapa huta), yang di atasnya terdapat bius (gabungan beberapa horja). Dari beberapa bius, terbentuk kesatuan wilayah yang lebih luas, yakni kesatuan negeri yang dipimpin oleh Sisingamangaraja.
Masyarakat Batak memandang Sisingamangaraja tidak hanya sebagai pemimpin politik, tetapi juga sebagai seorang “raja” yang bersifat ilahi, yang memiliki kekuatan karismatik yang dapat memberi keselamatan, perlindungan, dan kesejahteraan.
Dengan adanya kepercayaan terhadap pemimpin seperti itu, masyarakat Batak yang terdiri atas banyak marga dapat disatukan dalam satu ikatan negeri.
Alasan Sisingamangaraja XII menentang Kristenisasi
Sebagai masyarakat yang masih hidup dalam alam tradisional, kehendak untuk mempertahankan tradisi-tradisi yang berlaku pada lingkungan hidupnya sangat besar. Sebaliknya, kecenderungan untuk menolak pengaruh dari luar yang dianggap dapat mengganggu tradisi itu menjadi besar pula.
Itulah yang terjadi saat Sisingamangaraja XII melihat kekuasaan Belanda semakin meluas, bahkan pengaruhnya telah sampai di tanah Batak. Sisingamangaraja XII, yang memimpin Perang Batak (1878-1907), mulai melakukan serangan terhadap pos-pos Belanda. Tuntutan Perang Batak cukup jelas, yakni mengusir tentara Belanda dari tanah Batak dan menolak kehadiran para misionaris yang menyebarkan agama Kristen.
Alasan Sisingamangaraja XII menentang Kristenisasi yang dilakukan Belanda adalah adanya kekhawatiran bahwa perkembangan agama Kristen akan menghilangkan tatanan tradisional masyarakat Batak, khususnya dalam hal kepercayaan dan bentuk kesatuan negeri yang telah ada sejak zaman dulu.
Selain itu, Sisingamangaraja XII beranggapan bahwa Kristenisasi merupakan alat pemerintah kolonial Belanda untuk menganeksasi wilayahnya. Pada sekitar 1850-an, para misionaris Belanda telah berhasil mendapat kepercayaan sebagian masyarakat Batak. Salah satu misionaris terkemuka saat itu adalah Ludwig Ingwer Nommensen, yang dianggap semacam tokoh suci oleh kalangan orang Batak Protestan.
Namun, kehadiran para misionaris di tanah Batak, khususnya di dataran tinggi Toba, tidak disetujui oleh Sisingamangaraja XII. Penolakan Sisingamangaraja XII sangat beralasan. Berdasarkan laporan resmi lembaga penginjilan Jerman Rheinische Missions-Gessellschaft (RMG) yang bergerak di Sumatera dalam majalah BRMG tahun 1869 dan 1871, para misionaris pernah membuat pernyataan yang mendukung aneksasi tanah Batak.
Bagi pemerintah kolonial, Kristenisasi memiliki fungsi yang cukup strategis. Dengan berpindah agama menjadi Kristen, orang Batak tidak akan menimbulkan masalah bagi Belanda.
Pada 1877, Sisingamangaraja XII bekerja sama dengan Aceh untuk mengusir para misionaris yang dianggap sebagai pelopor kekuasaan Belanda. Kemudian, pada Januari 1878, para misionaris diperintahkan untuk segera meninggalkan wilayah Sisingamangaraja XII. Karena peristiwa ini, para misionaris meminta bantuan tentara Belanda, yang memicu Perang Batak.
Dalam laporan resmi lembaga penginjilan Jerman Jahresberichte der Rheinischen Missions-Gessellschaft, para misionaris bukan hanya berperan mendampingi tentara kolonial, tetapi juga berupaya melemahkan semangat perjuangan rakyat Batak sekaligus memuluskan upaya penjajahan Belanda di wilayah ini. (F-2)






















