Dalam setiap perang, peluru pertama tidak selalu menentukan siapa yang akan disalahkan. Yang menentukan justru siapa yang menguasai narasi.
Konflik yang hari ini populer disebut sebagai “Iran War” menyimpan paradoks mendasar: secara kronologis, serangan militer besar justru diawali oleh Israel dan Amerika Serikat. Namun dalam konstruksi wacana global, Iran tampil sebagai aktor utama—bahkan seolah-olah pemicu perang. Di sinilah kita berhadapan bukan hanya dengan konflik militer, tetapi juga dengan konflik makna.
Fakta yang Terabaikan: Siapa yang Memulai?
Pada 28 Februari 2026, Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan udara dan rudal terkoordinasi ke berbagai target strategis di Iran.
Operasi ini bahkan disebut sebagai serangan “pre-emptive” (serangan pendahuluan) oleh pihak Israel sendiri.
Serangan tersebut bukan simbolik—melainkan menghantam fasilitas militer, infrastruktur, hingga pusat kekuasaan Iran.
Baru setelah itu Iran melakukan serangan balasan dalam bentuk rudal dan drone ke Israel dan pangkalan AS di kawasan.
Bahkan dalam beberapa laporan, konflik 2026 secara eksplisit disebut “dimulai oleh serangan Amerika–Israel terhadap Iran.”
Namun, menariknya, yang mengemuka bukan istilah “US-Israel War on Iran”, melainkan “Iran War”.
Distorsi Bahasa: Dari Agresor Menjadi Subjek
Bahasa bukan alat netral. Ia adalah alat kekuasaan.
Penyebutan “Iran War” secara halus menggeser posisi Iran dari objek serangan menjadi subjek konflik. Ini adalah teknik klasik dalam propaganda:
Pelaku awal dikaburkan
Respons dibingkai sebagai agresi
Korban diposisikan sebagai ancaman
Fenomena ini bukan hal baru. Pada 2024, serangan Iran ke Israel juga disebut luas sebagai agresi, padahal itu merupakan balasan atas pengeboman konsulat Iran di Damaskus oleh Israel—yang secara hukum internasional dianggap wilayah kedaulatan Iran.
Artinya, pola framing sudah berulang:
aksi Israel → reaksi Iran → narasi global menyalahkan Iran.
Propaganda: Sadar atau Struktural?
Apakah ini propaganda yang disengaja?
Jawabannya: bisa dua-duanya.
Propaganda sadar (deliberate framing)
Negara dengan kekuatan media global—terutama Amerika Serikat dan sekutunya—memiliki kemampuan untuk menentukan istilah, framing, dan angle berita. Penyebutan konflik sering kali mengikuti kepentingan geopolitik: siapa yang ingin dijadikan “ancaman global”.Propaganda struktural (systemic bias)
Bahkan tanpa konspirasi eksplisit, media global cenderung mengikuti:sumber resmi Barat
framing keamanan ala NATO
narasi “stabilitas vs ancaman”
Akibatnya, Iran secara otomatis diposisikan sebagai “troublemaker”, sementara tindakan Israel atau AS dianggap “defensif” atau “preventif”.
Dalam konteks modern, propaganda bahkan diperkuat oleh disinformasi digital dan AI, yang memperkeruh persepsi publik tentang siapa yang menyerang siapa.
Proxy War atau Proxy Narrative?
Sering konflik ini disebut sebagai “proxy war”—perang melalui perantara (milisi, kelompok regional, dll.). Itu benar secara militer.
Namun yang lebih halus adalah proxy narrative:
narasi yang tidak langsung, tetapi membentuk kesimpulan publik tanpa perlu menyatakan fakta secara utuh.
Contohnya:
Tidak menyebut siapa menyerang dulu
Menggunakan istilah netral yang bias (“eskalasi Iran”)
Menonjolkan balasan, bukan pemicu
Hasil akhirnya: publik global menerima realitas yang sudah “disunting”.
Kesimpulan: Perang Dimenangkan di Dua Medan
Perang ini tidak hanya berlangsung di langit Teheran atau Tel Aviv. Ia juga berlangsung di ruang redaksi, timeline media sosial, dan pikiran publik dunia.
Secara militer, mungkin peluru pertama datang dari Israel dan Amerika.
Namun secara naratif, peluru pertama justru ditembakkan oleh bahasa.
Dan ketika sebuah perang dinamai “Iran War”, pertanyaan pentingnya bukan lagi siapa menyerang lebih dulu—
melainkan: siapa yang berhasil menentukan cerita.

























