BEIRUT, FusilatNews – Militer Israel secara resmi memulai operasi darat di wilayah selatan Lebanon, menandai eskalasi baru dalam konflik bersenjata antara Israel dan kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran. Langkah ini meningkatkan kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi meluasnya perang di kawasan Timur Tengah.
Operasi tersebut diumumkan oleh militer Israel (Israel Defense Forces/IDF) pada Senin (16/3/2026). IDF menyatakan pasukannya menjalankan operasi darat terbatas dan terarah untuk menyerang basis militer serta infrastruktur Hezbollah di wilayah Lebanon selatan yang dekat dengan perbatasan Israel.
Juru bicara militer Israel menyebut operasi itu bertujuan menghancurkan kemampuan militer Hezbollah dan menciptakan zona keamanan di sepanjang perbatasan utara Israel guna melindungi warga Israel dari serangan roket dan drone. Operasi darat ini juga disertai serangan udara intensif yang menargetkan fasilitas militer dan jaringan logistik kelompok tersebut.
Eskalasi Setelah Serangan Roket Hezbollah
Ketegangan meningkat sejak awal Maret 2026 ketika Hezbollah meluncurkan serangkaian roket ke wilayah Israel utara, termasuk ke arah Haifa dan wilayah Galilea. Serangan tersebut disebut sebagai respons terhadap konflik yang lebih luas di Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Iran dan Israel.
Israel kemudian membalas dengan serangan udara besar-besaran ke sejumlah wilayah Lebanon, termasuk Beirut dan daerah selatan negara itu. Serangan tersebut menargetkan fasilitas militer, gudang senjata, serta pusat komunikasi Hezbollah.
Seiring meningkatnya intensitas serangan, Israel memperluas operasi militernya dengan mengerahkan pasukan darat ke wilayah Lebanon selatan yang sebelumnya tidak dikuasai. Beberapa kota strategis di dekat perbatasan dilaporkan menjadi titik pertempuran antara pasukan Israel dan milisi Hezbollah.
Korban dan Krisis Kemanusiaan
Eskalasi konflik tersebut telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang signifikan. Laporan otoritas Lebanon menyebutkan lebih dari 800 orang tewas dan lebih dari satu juta warga mengungsi sejak gelombang serangan Israel dimulai pada awal Maret.
Sebagian besar warga yang mengungsi berasal dari wilayah selatan Lebanon dan kini tinggal di tempat penampungan darurat atau mengungsi ke wilayah yang lebih aman di utara negara itu.
Serangan udara Israel juga dilaporkan menghantam sejumlah fasilitas sipil dan infrastruktur, termasuk jembatan, fasilitas kesehatan, serta kawasan permukiman. Situasi ini memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah berkembang di Lebanon.
Kekhawatiran Dunia Internasional
Sejumlah negara Barat, termasuk Kanada, Prancis, Jerman, Inggris, dan Italia, menyatakan keprihatinan atas kemungkinan operasi darat besar-besaran Israel di Lebanon. Mereka memperingatkan bahwa eskalasi tersebut berpotensi memicu konflik berkepanjangan dan memperparah krisis kemanusiaan di kawasan.
Pemerintah Israel menyatakan operasi militer akan terus berlangsung sampai Hezbollah tidak lagi menjadi ancaman bagi keamanan wilayah utara Israel.
Namun, para analis menilai langkah ini dapat membuka babak baru konflik regional yang lebih luas, terutama karena Hezbollah merupakan sekutu strategis Iran dan memiliki kekuatan militer signifikan di Lebanon.
























