Dalam sejarah politik Indonesia, kita punya banyak “Bapak” — Bapak Proklamator, Bapak Pembangunan, Bapak Reformasi, dan entah siapa lagi yang sebentar lagi mungkin diusulkan jadi Bapak Segala Sesuatu. Tapi jangan sampai daftar kehormatan itu kelak ditambah satu gelar baru: Bapak Omon-Omon.
Istilah “omon-omon” ini bukan bahasa ilmiah. Ia bukan pula teori politik atau ideologi baru. Ia berasal dari kehidupan rakyat jelata, artinya kira-kira “banyak ngomong tapi hasilnya entah ke mana.” Dalam dunia politik, ini setara dengan “janji yang tak kunjung jadi nasi.” Dan konon, rakyat sudah kenyang dengan hidangan janji seperti itu — sudah dari zaman lontong belum dibungkus plastik.
Kini, perhatian publik sedang tertuju pada Prabowo Subianto, sang Menteri Pertahanan yang naik pangkat menjadi Presiden. Rakyat menunggu dengan mata setengah berharap, setengah mengantuk — karena sudah sering menunggu janji ditepati, tapi yang datang justru peresmian patung atau kunjungan ke kandang sapi.
Kita maklum, berpidato itu lebih mudah daripada membangun rumah sakit. Apalagi pidato yang disiarkan langsung di televisi dan dibumbui dengan musik heroik, seolah-olah setiap kalimatnya akan menyelamatkan bangsa dari kebodohan dan kemiskinan. Tapi ingat, rakyat bukan penonton sinetron. Mereka hafal pola cerita: tokoh utamanya selalu tampak gagah di awal, lalu mulai linglung di tengah jalan, dan akhirnya menyalahkan keadaan di akhir episode.
Mahbub Djunaidi pernah menulis bahwa politik di negeri ini kerap seperti dagelan, di mana rakyatnya sudah tahu siapa badutnya, tapi tetap membeli tiket pertunjukan. Kini kita menghadapi situasi yang mirip. Prabowo, yang dulu dielu-elukan karena gagasan besar dan semangatnya yang membara, jangan sampai justru terjebak menjadi pemain utama dalam sandiwara omon-omon: pidato besar, aksi kecil, dan hasil nihil.
Rakyat tidak butuh pemimpin yang pandai berbicara di podium dengan wajah bersemangat seperti memimpin pasukan perang. Mereka butuh pemimpin yang diam-diam bekerja, seperti petani yang mencangkul tanpa berorasi. Bukan pemimpin yang memelihara “narasi” tapi lupa menanam “aksi”.
Apalagi jika setiap janji disertai kalimat, “akan kita kaji,” “sedang dalam proses,” atau “nanti setelah kondisi memungkinkan.” Itu tanda-tanda dini penyakit omon-omon kronis — penyakit yang membuat pemimpin tampak sibuk berbicara tapi tak pernah bergerak. Kalau dibiarkan, rakyat akan memberi gelar baru: Bapak Wacana Abadi.
Jangan sampai sejarah mencatat, setelah semua drama dan perjuangan menuju kursi presiden, Prabowo hanya dikenang sebagai pemimpin yang pandai berpidato tapi gagal membumikan janji. Negeri ini sudah terlalu lama menjadi laboratorium kata-kata: pembangunan, transformasi, hilirisasi — semua terdengar canggih di seminar, tapi di warung kopi rakyat tetap sibuk menambal utang dan menahan lapar.
Kita masih berharap, Prabowo bukan tokoh yang akan menambah daftar panjang para pemimpin yang “berhasil bicara tapi gagal bekerja.” Rakyat sudah letih menunggu pencerahan dari langit, sementara yang mereka butuhkan sebenarnya cuma keadilan di bumi.
Jadi, sebelum semuanya terlambat, mari kita ingatkan dengan lembut tapi tegas: Pak Prabowo, jangan sampai Anda dikenang bukan sebagai Bapak Pemersatu, bukan pula Bapak Kedaulatan, melainkan Bapak Omon-Omon.
























