Oleh: Entang Sastaatmadja – (Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)
Jepang kini tengah menghadapi krisis beras yang mencemaskan. Lonjakan harga akibat gelombang panas ekstrem yang menghancurkan panen membuat masyarakat menjerit. Menteri Pertanian Jepang, Taku Eto, bahkan mengundurkan diri setelah menuai kritik tajam atas lambannya respons pemerintah. Harga beras di Negeri Sakura kini menembus 4.268 yen—sekitar Rp484.000—untuk 5 kilogram. Sebuah angka yang mencerminkan kegentingan pangan.
Pemerintah Jepang pun tergopoh. Perdana Menteri Shigeru Ishiba menerima pengunduran diri Eto dan segera menunjuk Shinjiro Koizumi sebagai penggantinya. Namun, upaya ini tak banyak membantu. Tingkat kepercayaan publik anjlok ke titik terendah: 27,4 persen. Di berbagai sudut kota, antrean panjang pembeli beras 5 kg mengular nyaris setiap hari. Pemerintah terpaksa menggelontorkan 200.000 metrik ton cadangan beras nasional untuk meredam gejolak pasar.
Krisis Beras: Bukan Isapan Jempol
Krisis beras bukan hanya perkara stok yang menipis. Ia adalah cerminan dari rapuhnya sistem ketahanan pangan. Penyebabnya beragam: cuaca ekstrem, gagal panen, distribusi yang semrawut, lonjakan permintaan, hingga ulah spekulan yang bermain di tengah celah.
Dampaknya pun tak main-main:
- Harga melambung tinggi, memukul rakyat kecil.
- Gizi masyarakat terganggu karena akses pangan terganggu.
- Potensi keresahan sosial dan instabilitas politik pun mengintai.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Produksi beras kita memang sedang naik daun. USDA bahkan memproyeksikan produksi nasional mencapai 34,6 juta ton tahun ini. Tapi ironi tak bisa dielakkan: harga beras di pasar justru mulai merangkak naik. Aneh tapi nyata. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahkan menuding adanya permainan para “middleman” alias tengkulak yang memanfaatkan momentum untuk meraup keuntungan.
Jika logika ekonomi berjalan normal, harga seharusnya turun saat pasokan melimpah. Tapi kenyataannya tidak. Apa yang salah?
Produksi Naik, Harga Ikut Naik: Ini Penyebabnya
Ada setidaknya delapan faktor krusial yang bisa membuat harga beras tetap melonjak meski stok mencukupi:
- Biaya Produksi Tinggi: Harga pupuk, benih, dan upah tenaga kerja terus naik.
- Distribusi Amburadul: Jalur distribusi yang panjang dan tak efisien menaikkan ongkos logistik.
- Spekulasi Pasar: Pelaku usaha memanfaatkan ketidakpastian untuk menimbun dan mengatur harga.
- Permintaan Lokal Meningkat: Penduduk bertambah, pola konsumsi tak terkendali.
- Peran Tengkulak: Terlalu banyak perantara menambah mata rantai dan harga.
- Kebijakan Tak Efektif: Regulasi yang salah sasaran justru memperkeruh pasar.
- Cuaca Ekstrem: Perubahan iklim mengganggu pola tanam dan panen.
- Masalah Transportasi: Infrastruktur belum merata menyebabkan ketimpangan suplai antar daerah.
Jangan Sampai Indonesia Terlambat Antisipasi
Kita harus belajar dari Jepang: krisis pangan bisa terjadi bahkan di negara maju. Produksi yang melimpah tak menjamin harga stabil jika sistem distribusi dan tata kelola pangan buruk. Pemerintah perlu sigap, tidak cukup hanya mengandalkan angka produksi. Yang dibutuhkan adalah strategi terpadu: membenahi distribusi, menindak spekulan, menstabilkan harga, dan menjamin beras tetap terjangkau bagi rakyat.
Indonesia belum krisis. Tapi tanda-tandanya sudah mulai terasa. Jangan tunggu nasi jadi bubur—atau lebih tragis lagi, tak ada nasi sama sekali. Waspadalah!

Oleh: Entang Sastaatmadja – (Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)























