Aceh Utara-Fusilatnews – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mulai melakukan pendataan menyeluruh terhadap dampak banjir besar yang melanda sejumlah kecamatan. Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) bekerja maksimal selama satu pekan ke depan untuk merampungkan data kerusakan dan korban secara detail.
Pendataan tersebut wajib menggunakan metode by name by address, disertai Nomor Induk Kependudukan (NIK), dokumentasi foto, serta keterangan kerugian yang dialami warga. Langkah ini dilakukan agar pemerintah memiliki basis data yang akurat sebelum masuk ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Dalam waktu sepekan ke depan, data sudah harus lengkap dan terperinci. OPD, camat, hingga kepala desa saat ini sedang turun langsung mendata kerugian masyarakat pascabanjir,” kata Bupati yang akrab disapa Ayahwa, Sabtu (20/12/2025).
Ayahwa menjelaskan, berdasarkan data sementara per 20 Desember 2025, jumlah rumah warga yang terdampak banjir mencapai 37.901 unit. Dari jumlah tersebut, sebanyak 6.235 unit mengalami rusak berat, 7.598 unit rusak sedang, 20.233 unit rusak ringan, serta 3.474 unit rumah dinyatakan hilang akibat tersapu banjir.
Selain itu, tercatat sebanyak 117.509 unit rumah sempat terendam air dengan ketinggian bervariasi.
“Semua data harus berbasis nama, NIK, foto, dan bukti pendukung lainnya. Ini penting agar ketika pembangunan hunian sementara maupun hunian permanen dimulai, tidak ada lagi kekeliruan data,” tegasnya.
Percepatan hunian sementara
Untuk penanganan pengungsi, Ayahwa mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto. Salah satu fokus utama adalah percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) serta penyediaan tenda keluarga bagi korban banjir.
“Kami minta agar pembangunan huntara dipercepat. Sambil menunggu, tenda keluarga harus segera dibagikan agar setiap kepala keluarga memiliki tempat berteduh yang layak,” ujarnya.
Menurut politikus Partai Aceh tersebut, kebutuhan hunian yang lebih manusiawi menjadi semakin mendesak mengingat bulan Ramadhan semakin dekat. Ia menilai, kenyamanan tempat tinggal akan sangat mempengaruhi kondisi fisik dan psikologis para pengungsi dalam menjalankan ibadah.
“Kita ingin saudara-saudara kita yang terdampak banjir tetap bisa beribadah dengan tenang dan nyaman selama Ramadhan,” pungkas Ayahwa.


























